Wabah yang Menyadarkan Kita


Wabah yang Menyadarkan Kita
Sumber Foto: pixabay.com

Penulis: Deka Maikel Prananca*

Sampai hari ini, jumlah korban di seluruh dunia, dan perkiraan orang yang positif Covid-19 masih belum pasti. Dengan diberlakukannya kebijakan lockdown, social distancing, sampai keputusan lainnya dalam menanggulangi virus Covid-19, keakuratan jumlah orang yang  terkena virus ini semakin tersamarkan. Hal ini karena pemeriksaan massal belum diberlakukan, dan membutuhkan tenaga yang tidak sedikit jika ingin melakukannya.

Menilik hal tersebut, angka kecemasan yang ditimbulkan tidaklah kecil. Belum lagi jika dihitung efek yang ditimbulkan ke banyak sektor kehidupan kita. Mulai dari wilayah pendidikan, pariwisata, ekonomi, teknologi dan aktivitas keseharian kecil lainnya. Lantas, apa yang mesti kita lakukan untuk menghadapi fenomena wabah yang mengerikan ini?

Anjuran, seruan dan ajakan untuk menghadapi virus Covid-19, secara bersamaan sudah menjadi kesepakatan yang tidak bisa diganggu gugat. Walaupun masih ada yang menganggap virus ini secara remeh, pada akhirnya kita juga harus lebih berhati-hati bukan? Selain karena replikasi dan daya tahan hidup virus Covid-19 yang terbilang tinggi, serum penyembuhannya belum ditemukan sampai sekarang. Harapan besar kita, tentunya agar fenomena wabah ini cepat berlalu, dan tidak lagi memakan korban yang lebih banyak.

Bukan, hal tersebut bukanlah sekedar fiksi ilmiah yang menjadi angan-angan semata. Dari lubuk hati kecil yang paling dalam, semua orang tentu tidak ingin lama-lama berurusan dengan wabah yang satu ini. Selain penyebarannya yang belum bisa kita atasi, kita masih meraba-raba mencari solusi tepat untuk memukul mundur virus Covid-19 sejauh mungkin. Mengingat, aspek kesehatan selalu berjalin kelindan dengan aspek-aspek lainnya.

Sebelum Covid-19 benar-benar dirasa sebagai sebuah ancaman yang mematikan, kita terkesan masih menganggap enteng keganasan virus ini. Lalu, bagaimana kondisinya sekarang? Bukankah Covid-19 akhirnya menyadarkan kita, bahwa kebiasaan menganggap remeh seringkali berujung menjadi bumerang? Ketika sudah seperti sekarang kondisinya, masihkah kita terus ingin congkak dihadapan sesuatu yang belum kita kenali jelas seluk-beluknya?

Mengutip seorang ilmuwan Inggris bernama James Lovelock, peran manusia dalam menghadapai wabah—semacam Covid-19 dan wabah lainnya—tidak cukup hanya dengan tindakan yang kooperatif semata. Negara memang wajib menjamin keselamatan masyarakatnya, khususnya mereka yang kurang mampu, sebagai kelompok masyarakat yang paling rentan terkena wabah ini. Akan tetapi, jika hanya berpangku tangan dan menunggu uluran bantuan, sama saja kita seperti bunuh diri secara perlahan bukan?

Keberanian dalam menjaga keselamatan nyawa atas dasar kemanusiaan, adalah hal yang seharusnya lebih diprioritaskan oleh kita bersama. Ujaran kebencian, penghinaan, dan rasa saling meragukan, sebaiknya kita hilangkan terlebih dahulu dalam jangka waktu dekat ini. Selama, wabah Covid-19 belum mampu untuk kita jinakkan. Jika masih ada sesuatu yang memancing konflik di tengah masyrakat, bukan hal yang mustahil pekerjaan menangani Covid-19  menjadi lebih berat.

Mari sejenak kita melihat gagasan kontroversial Lovelock ketika dikaitkan dengan wabah Covid-19 ini. Lovelock, terkenal dengan gagasannya tentang Hipotesis Gaia. Tesisnya ini menyebutkan, bahwa bumi dan seisinya adalah satu-kesatuan yang hidup. Bumi, memiliki kemampuan dan kecenderungan untuk menjaga keseimbangannya, termasuk ketika ada wabah seperti Covid-19 ini. Selanjutnya, konsep Lovelock ini berasumsi bahwa bumi memiliki kesanggupan swa-kendali tubuh. Yang tampaknya mengarah pada kelangsungan kehidupan yang selaras di bumi.

Gagasan ini, selanjutnya memang menimbulkan pro-kontra di kalangan ilmuwan. Akan tetapi pada sisi yang lain, menjadi perspektif baru untuk kita memahami bahwa bumi tidak sekadar sebagai benda mati. Mungkin sebagian besar dari kita, menyadari bahwa hasil penelitian Lovelock akan sulit sekali diterima. Sebab,menurut Lovelock, bumi yang kita tinggali ini, memiliki kemampuan sibernetik untuk merawat keseimbangan. Dengan kata lain, kemampuan sibernetik ini mampu mengoptimalkan sebuah kehidupan untuk terus berlanjut.

Namun, di sini Lovelock memberikan sebuah penjelasan yang sangat rasional soal konsepnya tersebut. Menurutnya, daya sibernetik itu dapat kita lihat melalui bagaimana stabilnya suhu di bumi, yang menyebabkan planet ini layak dan nyaman dihuni seluruh makhluk hidup. Ia selanjutnya menanalogikan proses ini layaknya homeostasis. Yakni respon tubuh ketika menyesuaikan dan beradaptasi dengan kondisi iklim tertentu.

Konsep Lovelock ini, berbanding lurus dengan kondisi yang terjadi pada kita sekarang. Lovelock, juga mempersoalkan kegiatan-kegiatan manusia yang menghasilkan emisi karbon yang berlebih dan membahayakan keseluruhan ekosistem yang ada. Jika mau kita cermati, semenjak Tiongkok memberlakukan status lockdown, emisi karbon di sana menurun drastis.. Bahkan, menurut informasi NASA, setelah diberlakukannya lockdown, kondisi di Tiongkok menunjukkan perubahan signifikan pada atmosfernya.

Wabah Covid-19 adalah ujian bagi kemanusiaan kita. Akan tetapi, pada sisi lainnya, dengan adanya wabah ini menjadi kesempatan kita untuk merenungkan sebuah perubahan yang dapat kita buat untuk keberlanjutan kehidupan ini. Kemanusiaan memang perlu diperjuangkan, walaupun banyak yang harus dikorbankan.

Ketika melihat keberanian para tenaga medis yang berada di garda depan, serta kedermawanan yang dilakukan relawan dan komunitas di seluruh dunia,  seharusnya hal tersebut bisa untuk kita teladani. Jika ada sebuah kesalahan dan kekeliruan yang ditimbulkan dalam menghadapi Covid-19, bukan lantas malah kita saling menyalahkan. Itu semua pada akhirnya tidak membangkitkan harapan terhadap kemanusiaan. Namun malah memperlemah persatuan yang sudah ada.

Momen menghadapi Covid-19, secara tidak langsung adalah penentu bagi rasa kemanusiaan kita hari ini. Dengan adanya wabah ini, kita kembali tersadarkan. Tentang betapa mungilnya ideologi kita, politik, juga makna kekuasaan di hadapan wabah ini.

Selanjutnya, bukan hal yang pantas kalau masih tetap saja ada yang mencoba mencari keuntungan dengan adanya wabah ini. Karena secara tidak langsung, titik nadir kemanusiaan kita memang sedang diuji. Layaknya seperti berpuasa, kita harus menahan ego masing-masing terlebih dahulu. Agar tidak lagi muncul hal-hal yang dirasa tidak perlu.

Terakhir, mari rapatkan barisan dan saling berpegangan tangan, bahu-membahu menanggulangi dan menjawab tantangan dari virus yang membuat kita kewalahan ini. Karena mau disadari atau tidak, selain sisi kemanusiaan kita yang sedang diuji, Covid-19 juga menguji persatuan kita. Mari kita tunjukkan di mata dunia, bahwa Indonesia adalah negara kesatuan tanpa omong kosong. Indonesia yang penuh perbedaan di dalamnya, adalah negara yang paling mengerti dengan yang namanya persatuan. Karena persatuaan, sudah menjadi kewajiban kita bukan?

*Pemerhati Corona dan isu sosial

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel