Sisa Hujan Semalam dan Sehimpun Puisi Lainnya [Puisi]


Sisa Hujan Semalam dan Sehimpun Puisi Lainnya [Puisi]
Sumber Foto: flickr.com

Penulis: Zeri Yuan*

Sisa Hujan Semalam

Semalam aku kedinginan

Dan aku membayangkanmu ada

Sungguh aku menyesal, kalau kau tahu

Malah membuatku semakin kedinginan

Aku kedinginan karena kipas angin yang sengaja tidak kumatikan

Bukan karena hujan


Lalu aku tidak bisa tidur

Aku bermain dengan khayalku

Tentu saja berkhayal tentang kamu


Apalagi yang bisa direnggut dariku?

Selain khayal ketika kamu di luar sana?

Aku menunggu kantuk yang tidak kunjung datang


Dan hujan belum bosan merintik

Kumatikan kipas angina, aku benar-benar kedinginan


Tidak ada selimut untuk bergulung

Tidak ada kamu untuk kusanjung

Aku memeluk rindu dan membuangnya di sela-sela dahaga


Hujan begitu berisik

Tidak mau berbagi basah denganku yang diliputi dingin ini

Sombong sekali.


Ibu Pertiwiku (Jangan) Menangis!

Ibu, bolehkah aku merindu?

Pada tawamu yang mengundang pelangi

Dan pelukanmu bagaikan hangat mentari

Sekian lama kutapaki diammu

Adakah engkau menangis menyaksikan kami,

Yang selalu menggores-gores tubuhmu?

Lalu membuat luka-luka baru

Adakah engkau mendekam lara di hatimu?

Sebab kami tak lebih dari sampah-sampah kotor tanpa belas kasihan

Maafkan kami ibu, yang telah menyakitimu


Ibu, bolehkah aku mengadu?

Padamu tentang kami, sang pemuja kekayaan

Kami ini ibu, merobek-robek pulaumu dan menghitami lautanmu

Tidakkah kau marah?

Dengan sedikit tsunami dan banjir bentuk air mata dari kesedihanmu

Terkadang kami sadar telah melukaimu begitu dalam

Tidak jarang engkau terlalu murka sampai beberapa rumah kau ratakan dengan tanah

Maafkan kami ibu, yang dengan semena-mena menyayat hatimu


Ibu, bolehkah kupanggil terus namamu?

Agar aku bisa selalu melangkah dalam kasih sayangmu?

Dan menikmati keindahan ragamu di sela-sela perjuanganku memperbaikimu

Sedikit teriakan dan kobaran api di antara semua ketidakadilan mungkin saja perlu, ibu


Namun, tak apa

Aku berjanji akan terus menjagamu mulai saat ini, dan menggenggam tanganmu

Jangan menangis ibu pertiwiku

Jangan menangis

Aku di sini bersamamu, dengan memanggil terus namamu

Ibuku

Indonesia
Jogja, 17 Agustus 2017


Mimpiku

Ketika sebuah mimpi tak pernah kau jaga,

Akankah ia hilang arahnya?

Ketika mimpi tak pernah kau dasari dengan cinta,

Akankah ia berakhir duka?

Ketika mimpi berakhir tawa,

Apakah lantas kau berbahagia?

Ketika mimpi di ujung mata,

Akankah ia menjadi pengibur lara?

Ketika mimpi tak lagi berkata suka,

Hilangkah ia ditelan tembok kaca?


Ketika mimpi cuma jadi parodi,

Pantaskah aku untuk berlari?

Ketika mimpi selalu aku tangisi,

Apakah ia menjadi sesuatu yang kubenci?

Ketika mimpi berkata hati-hati,

Apakah lantas aku tak sadar diri?

Ketika mimpi berjalan sendiri,

Apakah lantas harapanku sudah mati?

Yogyakarta, 21 Maret 2020


*Bercita-cita punya anak kembar cowok. Kalau anaknya udah SMA, mau disekolahin di SMA De Brito Yogyakarta.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel