Seorang Gadis dan Gayung Kamar Mandinya


Seorang Gadis dan Gayung Kamar Mandinya

Penulis: Ameera Matahari*

Manusia melakukan sesuatu sesuai dengan hasil yang mereka rasakan. Jika hal yang dilakukan tidak memuaskan, maka kemungkinan kecil mereka akan mengulangi hal itu kembali. Kebiasaan menenggelamkan wajah ke gayung kamar mandi menjadi begitu penting bagi Nai, terlebih saat dia sedang merasa tidak baik-baik saja. Siapa lagi selain diri sendiri yang bisa menentukan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja? Dan siapa pula yang akan penasaran tentang apa saja kegiatan yang kita lakukan di kamar mandi? Nai pintar sekali. Ia membuat lautnya sendiri, berdiameter 12cm, dan tersembunyi di tempat paling rahasia. Terlalu sering, bahkan lautnya bisa saja tercipta dari air mata Nai ketika ia menangis. 

Nai tidak tahu sejak kapan kamar mandi menjadi tempat favoritnya belakangan ini. Menurutnya, hal tersebut wajar untuk seseorang yang dalam masa pertumbuhan untuk menjadi lebih dewasa. Ini kali kelima dalam seminggu terakhir, dia menenggelamkan seluruh wajahnya ke dalam gayung kamar mandi. Berharap ketika ia merasa tenggelam, rasa sakit atau kecewa akan perlahan menghilang. Nai membeli gayung itu dengan sengaja, memilih ukuran yang paling besar. Sehingga ketika ia akan menenggelamkan wajahnya, tidak akan terasa begitu sempit. Baginya, gayung itu adalah lautan, mungkin memang lautan, yang dialiri air matanya.

***


Untuk menunjang nilai dalam beberapa mata pelajaran di sekolahnya, Nai mengambil kursus di sebuah lembaga. Di tempat kursus yang sama, Nai bertemu dengan Bie, dingin dan tidak peduli dengan apapun. Mereka tergabung di satu kelas yang sama, tidak saling mengenalkan diri dengan kesan yang baik, pun tidak pernah terlibat dalam suatu percakapan basa-basi. Namun, Nai merasa bahwa ia telah jatuh hati pada lelaki itu. Sampai suatu sore setelah satu bulan berlalu sejak hari pertamanya di kelas, ketika Nai sudah dalam perjalanan pulang, ia teringat bahwa ponselnya yang sedang mengisi daya baterai, tertinggal di kelas. Nai pun berputar arah berniat kembali ke kelas dan berharap kelasnya belum terkunci. Akan tetapi, betapa terkejutnya, ketika selangkah dua langkah ia berjalan, Bie datang dengan mengendarai sepedanya, terlihat tergesa-gesa. Tanpa sepatah kata ia berhenti di depan Nai dan mengeluarkan ponsel serta charger dari dalam sakunya dan menyerahkan kepada Nai, lalu pergi. 

Nai yang terkejut hanya bisa berkata lirih “Thank you”,  tidak yakin bahwa Bie mendengarnya. Nai tediam sesaat, masih berusaha mencerna kejadian barusan, saat sebuah suara memanggil dari belakang, “Hei, aku pulang duluan ya?”. Nai menoleh dan tergagap, “Ya..ya, o..oke, hati-hati di jalan.”, sambil melambai kecil. Bie tersenyum, lalu melanjutkan perjalanan pulangnya dengan sepeda. Nai tidak tinggal diam, kalau tidak sekarang, lalu kapan lagi, lalu berteriak sambil melambaikan kedua tangannya tinggi-tinggi, “BIE, TERIMAKASIH YA!”. Bie menoleh sekilas dari atas sepedanya, namun itu sudah cukup membuat Nai senang setengah mati. Sepanjang jalan ia memuji dirinya sendiri karena meninggalkan ponsel di kelas, dan bertanya-tanya mengapa Bie harus pamit padanya, pamit seperti itu bukankah sebuah percakapan basa-basi? Senang dan bingung. Nai tidak sabar untuk mengikuti les di hari esok. 

Besoknya, Nai sudah menyiapkan wajahnya agar tidak terlihat jelek saat les. Ia masuk kelas terlambat, dan berharap menjadi pusat perhatian. Namun tidak seorang pun terkejut, bahkan Bie sekalipun. Nai sengaja duduk di bagian belakang kelas, berusaha memperkecil jarak antara dia dengan Bie. Namun tidak ada perubahan, Bie seperti biasa, cuek dan tidak peduli, bahkan seperti tidak pernah berbicara dengan Nai. Nai sedikit kecewa di hari itu, ia tetap tidak mempunyai teman di kelas, dan memutuskan akan lebih berusaha menarik perhatian Bie di hari lain. 

Besoknya, Nai dengan tidak sengaja meninggalkan hpnya lagi dan pulang berjalan kaki ke rumah tanpa teringat sedikit pun. Saat panik, Nai membuka laptopnya dan mencoba menghubungi anak-anak kelas tempat ia les, dan bertanya-tanya dalam hati, apakah masih ada yang membawa ponselnya atau masih tergeletak di kelas. Belum sempat Nai mendapat respon, listrik di rumahnya tiba-tiba mati. Ia sedikit berharap Bie akan menemukan dan mengembalikannya kepada Nae. Namun sampai malam, sampai besok pagi sekalipun tidak ada yang datang ke rumahnya. Nai pun mengambil ponselnya sebelum berangkat ke sekolah pagi itu, dan ternyata banyak respon di pesan singkat, terlebih Bie yang meminta maaf bahwa dia tidak menyadari ponsel Nai tertinggal. Nai membalas pesan-pesan di grup itu sebentar, sebelum melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan hati berbunga. 

Hari-hari ini Nai menyadari bahwa ia tidak pernah mandi terlalu lama, dan tidak ingat kapan terakhir kali ia menangis di gayung kamar mandinya. Mungkin terakhir kali ia mengunjungi lautannya, yaitu saat ayahnya membawa wanita baru lagi ke rumah dan bermesraan di depan matanya, tidak berbeda jauh dengan ibunya sendiri. Nai tidak tahu harus bersyukur atau sedih bahwa dia adalah anak satu-satunya. Mengingat hal itu saja sudah membuat mata Nai berkaca-kaca di kelas saat istirahat hari ini, ia pun bangkit dari tempat duduknya dan menuju kamar mandi, tempat teraman untuknya. Menarik napas panjang tiga kali dan menghembuskannya pelan-pelan akan membuatnya tenang. “Semuanya akan baik-baik saja” kata-kata yang terus diucapkan Nai di dalam hati. Hari ini di kelas, ada pemberitahuan bahwa persiapan untuk masuk perguruan tinggi akan dimulai di kelas tiga, jika ingin menyiapkannya dari sekarang maka murid disarankan untuk mencoba tes simulai potensi akademik. Nai yang tertarik untuk masuk perguruan tinggi dengan tujuan bisa memilih kampus yang jauh dari rumah dan hidup sendiri tanpa orang tuanya, tertarik dengan tes simulasi tersebut. 

Sore hari, Nai mengikuti les seperti biasa, bertemu dengan anak-anak kelas yang tidak begitu dikenalnya kecuali nama, dan tentu saja bertemu Bie. Saat jam pulang, guru les hari itu menanyakan ke muridnya apakah ada yang ingin mengikuti tes simulasi potensi akademik, karena ada salah satu instansi yang menyediakan untuk jadwal minggu depan dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Nai yang tertarik pun mengangkat tangannya, siapa sangka, bahwa Bie satu-satunya anak yang juga mengajukan diri selain Nai. Mereka saling bertatapan sesaat dengan bingung, lalu tertawa kecil. Setelah kelas, guru memanggil mereka sebentar untuk mengurus berkas pendaftaran, lalu ketika semua sudah selesai, mereka berjalan keluar bersama. Bie, seperti biasa, diam. Nai bingung harus berkata apa, tapi ia akan mencoba mengajak Bie berbicara sedikit sesuai dengan kemampuannya. “Bie, ummm namaku Nai.”, sambil tersenyum pasrah. Bie melihat ke arahnya, mengernyit sedikit dan tertawa, “Ya, tentu saja aku tau namamu”. Nai menghela napas lega, tapi kemudian kembali bingung harus berkata apa. “Nai, untuk apa kau mengambil tes simulasi?” tiba-tiba Bie bertanya dengan pandangan kosong. “Hemmm, untuk ujian masuk universitas, aku ingin mendaftar di salah satu kampus terjauh dari daerah ini, dan mungkin itu bukan sesuatu yang mudah.” Nai berkata jujur tentang alasannya, “Aku ingin ke Makassar”, tambahnya. “Oh.” Bie tampak kaget, menoleh kepada Nai seolah bertanya mengapa. “Aku hanya ingin jauh dari rumah, dari keluargaku.”, Nai mengangkat bahu. “Tujuan kita berbeda jauh ya, simulasi tes yang akan aku ambil adalah untuk persiapan tes sesungguhnya bulan depan, aku mungkin akan melanjutkan studiku ke Jepang.” “Kenapa?” Nai sendiri pun kaget kenapa cepat sekali ia merespon, “Hmmm? Kenapa ya? Mungkin karena aku memang ingin?” Bie menjawab dengan tersenyum simpul. Mereka pun berjalan beberapa langkah dalam diam dan berpisah tanpa satu kata pun terucap.  

Percakapan tersebut adalah percakapan terpanjang antara Nai dan Bie sampai mereka selesai tes simulasi, yang hasilnya lebih dari memuaskan. Bie berhasil melanjutkan studinya ke Jepang, dan Nai masih tetap berkutat dalam les setiap sore demi dapat kuliah di kampus yang ia inginkan. Hari-hari setelah Bie berangkat meninggalkan Indonesia, Nai merasa kesepian, walaupun ia sadar bahwa ia tidak tau siapa Bie sesungguhnya atau benar-benar berbicara dengan Bie. Sampai saatnya Nai menghadapi ujiannya sendiri, dan ia melewatinya dengan sangat baik, beberapa universitas terbaik menerimanya, namun ia tetap di tujuan awal, tempat yang jauh dan terbebas dari rumah. Dalam hari-harinya berjuang seorang diri, tidak pernah sekalipun ia melewatkan Bie dari pikirannya, dalam setiap doanya, tidak pernah sekalipun Bie terlupa. Nai rindu sekali, ia ingin bertemu setidaknya 5 detik untuk mengucapkan terimakasih dan bertanya apakah bisa mereka menjadi teman, melihat Bie tersenyum, tidak peduli apakah jawaban Bie akan menjadi “Iya atau tidak”. 

Namun hal itu tidak pernah terjadi, sekeras apapun Nai berusaha, sedekat apapun Nai pada Bie. Tepat setahun setelah Bie berangkat ke Jepang, bertepatan dengan Nai yang diterima di kampus tujuannya, berita itu datang, telak menampar Nai. Bie bunuh diri. Di tempat yang jauh dari rumahnya, dari tanah kelahirannya, dari negaranya, di tempat antah berantah, dengan harapan tidak ada yang merasa terbebani dengan kepergiannya. Nai mengetahui hal tersebut dari guru les yang pernah menawari dirinya dan Bie untuk tes simulasi satu tahun yang lalu. Guru tersebut juga merasa sangat menyesal dengan apa yang terjadi pada Bie. Dengan sangat terpukul Nai terduduk di kamar mandi rumahnya, mengambil gayung dan mencoba menenggelamkan dirinya lagi, berkali-kali. Banyak sekali kata “seandainya” bergema di hatinya. Seandainya Nai dan Bie bisa berteman. Seandainya Nai menyusul Bie ke Jepang dan kuliah disana. Seandainya Nai lebih bisa mendekatkan diri dengan Bie. Seandainya ia tidak jatuh hati kepada Bie. Seandainya ia bisa lebih berani. Kata-kata “seandainya” itu terus-menerus merobek hatinya, memisahkan serpihan demi serpihan dan siap keluar dalam wujud air mata, lalu larut dalam laut di dalam gayung kamar mandinya.

*Perokok dan peminum alkohol yang melankolis. Cita-citanya hanya menjadi raja Narnia atau mendapatkan duit 13 miliar dengan rebahan

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel