Secabik Kisah tentang Merokok


Secabik Kisah tentang Merokok
Sumber Foto: poliklitik.com

Penulis: Kakak Reformasi

Merokok bukanlah hal yang sederhana bagi saya. Sejak kecil, saya hanya menjadi penonton orang-orang yang merokok. Kakek saya dari ibu, adalah perokok berat. Hampir setiap hari, sejak saya bisa mengingatnya, kakek saya rutin ngelinting tembakau. Jenis tembakaunya adalah tembakau Bali. Ya, tembakau yang terkenal keras itu, dan biasanya berbentuk balok ketika dibungkus dalam kemasan.

Sampai menginjak usia 17 tahun lebih, saya terbilang perokok pasif. Jangkan terbayang bisa menjadi perokok aktif, ketika ada asap rokok saja saya lebih memilih menjaga jarak. Bukannya sombong, tapi memang seperti itulah saya yang dulu. Seorang lelaki yang membayangkan bisa disenangi banyak wanita karena tidak menjadi perokok. Tapi, itu hanyalah kenangan masa lalu, dan menjadi bagian pikiran remaja saya waktu itu. Untuk sekarang ini, saya pribadi harus mengakui kalau saya mengingat hal tersebut, pasti saya menertawainya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, industri rokok adalah salah satu industri yang tidak terkena dampak ketika krisis moneter menjelang Reformasi. Informasi ini, saya dapatkan ketika saya mengikuti sekolah tembakau 2017 silam. Waktu itu, acaranya bertempat di salah satu wisma di Kaliurang, Yogyakarta. Pesertanya terbilang sedikit, namun tidak mengurangi antusias kami sebagai peserta waktu itu. Bahkan, wajah sumringah kami para peserta, masih saya ingat jelas sampai sekarang.

Para peserta memang perokok semua waktu itu. Sama halnya dengan panitia dan para pemateri yang diundang. Terdapat beragam jenis rokok, mulai dari yang filter sampai kretek menemani jalannya acara. Panitia sendiri menyiapkan rokok Gudang Garam Merah dan Djarum Retro waktu itu. Tidak lupa pula kami disediakan penginapan dan konsumsi yang terbilang lumayan bagi para mahasiswa.

Acara sekolah tembakau ini sendiri, sebenarnya diinisiasi oleh mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Persyaratan ketika ingin menjadi peserta, kami diberi tugas untuk khatam membaca PDF tentang tembakau. Dari PDF itu pula lah, saya mendapat informasi bahwa merokok dan sekian hal yang terlibat dengannya, tidak sesederhana anggapan banyak orang. Karena nyatanya, merokok sudah menjadi budaya yang tentu saja sulit dipisahkan dari kultur orang Indonesia hari ini.

Oke kembali pada tema awal. Sebenarnya ini adalah kisah pribadi saya, yang mungkin tidak ada manfaatnya bagi para pembaca. Akan tetapi, tidak jadi soal. Karena saya hanya ingin berbagi kisah, yang siapa tahu punya kesamaan dengan para pembaca sekalian.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya mulai merokok ketika di usia 17 tahun ke atas. Lebih tepatnya ketika saya sudah pergi merantau dari rumah. Hal ini memang keputusan pribadi saya untuk memilih menjadi perokok. Terlepas saya pernah mengikuti sekolah tembakau, sebelumnya saya sudah tergolong menjadi perokok berat. Sekolah tembakau bagi saya, semakin mengokohkan posisi saya sebagai perokok. Dan dari sekolah tembakau tadi lah, saya bisa belajar banyak hal tentang aktivitas merokok, dan hal yang berkaitan dengannya.

Rokok, diasumsikan sebagai salah satu alat pembunuh. Banyak orang, terkhusus orang-orang yang bergerak di bidang kesehatan, mengutuki rokok serta para perokok. Tentu saja dengan alasan yang klise, yaitu ancaman bagi kesehatan. Padahal, asumsi asap rokok yang membahayakan kesehatan, nyatanya tidak diiringi dengan asumsi dasar yang jelas. Sehingga, citra yang terbangun bahwa merokok itu membunuh, dan tidak memberi manfaat sama sekali.

Saya akan coba membantah anggapan yang nihil data tersebut. Industri rokok sendiri, termasuk salah satu penyumbang pajak terbesar hari ini. Yang bagi kebanyakan orang, hal tersebut sudah menjadi rahasia umum, tapi masih malu untuk diakui.

Selain itu, orang yang tidak merokok, terkadang terlalu mengeneralisasi bahwa rokok tidak punya manfaat apa-apa. Pasalnya, sepengelaman saya yang hampir lima tahun ini merokok, rokok sendiri mampu memberi ketenangan. Yang ketenangan itu sendiri sulit dijelaskan dalam rangkaian kata-kata.

Biasanya, ketika sedang kepikiran sesuatu, dan saya akhirnya tidak bisa tidur, ada dua pilihan alternatif yang biasa saya lakukan. Pertama, saya akan memilih makan yang banyak sampai kekenyangan. Kedua, saya akan memilih merokok dua sampai tiga batang rokok. Kebiasaan saya ini, masih terus berlanjut sampai sekarang. Karena bagi saya, rokok sudah menjadi teman setia yang sulit diganti.

Selain anggapan yang bersifat subjektif tersebut, nyatanya banyak pihak yang masih saja tidak terima. Karena dari merokok ini pula lah, saya belajar yang namanya toleransi. Jangan anggap remeh para perokok sebagai orang yang non toleran terhadap orang yag tidak merokok. Justru, menjadi perokok itu sungguh tidak mudah. Sekian norma dan aturan, mau atau tidak, harus menjadi kewajiban bagi seorang  perokok.

Misalnya, perokok tidak boleh merokok di dekat anak kecil yang berumur di bawah lima tahun. Selain angapan akan membuat sesak nafas, nyatanya memang paru-paru anak umur segitu belum sekuat orang dewasa. Paru-paru mereka, belum mampu menyaring dan memfilter udara yang bercampur dengan asap rokok. Oleh karena itu, akan sering kita temui anak kecil yang batuk-batuk ketika berada di dekat orang yang sedang merokok.

Lantas kenapa masih merokok, ketika sudah tahu asapnya berbahaya? Masalahnya juga tidak sesimpel itu. Kalau asap rokok dianggap berbahaya, dan salah satu penyumbang polusi yang ada, sebenarnya logika ini benar, tapi tidak sepenuhnya benar. Logikanya begini, pasti banyak orang yang mampu bertahan dua jam lebih di dekat perokok. Akan tetapi, kebanyakan orang pasti tidak akan tahan ketika selama dua jam diasapi oleh asap kendaraan. Padahal, keduanya sama-sama asap? Hal tersebut menunjukkan kalau asap rokok tidak lebih berbahaya dari asap kendaraan.

Selain itu juga, sampai hari ini sudah banyak pengobatan medis yang memanfaatkan asap rokok sebagai media penyembuhan. Hal ini yang selanjutnya, membantah sekian asumsi abstrak dari para penolak rokok selama ini. Dan mau diakui atau tidak, nyatanya rokok masih punya banyak manfaat lain yang tidak cukup untuk saya jelaskan di tulisan ini.

Sejak merebaknya wabah Corona, kondisi publik kita juga semakin diperkeruh karena rokok kembali disalahkan. Bukan saja masih dianggap penyebab kanker, rokok malah dikait-kaitkan dengan virus Corona tersebut. Ditambah lagi, anggapan rokok sebagai mesin pembunuh, menjadi fondasi agar rokok bisa kembali disalahkan. Ya apa sih, kok mau kembali ke zaman primitif lagi?

Sebagai orang yang masuk dalam organisasi ekstra mahasiswa yang berlatar belakang Nahdiyin, saya tidak ingin mengkampanyekan bahwa merokok itu perlu dan wajib. Dengan ditulisnya kisah ini, saya berharap kita menjadi semakin bijak dalam memandang dan menilai rokok serta perokok. Karena merokok, adalah pilihan pribadi. Yang bagi saya, tidak bisa dipaksakan pada orang yang tidak atau belum merokok.

Saya menulis tentang ini, berawal dari ingatan saya soal puntung rokok yang berada di toilet. Sejak saya merokok, saya memang tidak bisa merokok sambil boker. Entahlah, terbilang aneh mungkin. Bagi saya, merokok cukup jadi perangsang awal untuk memantik agar bisa boker. Selebihnya, sama dengan orang yang tidak merokok.

Dari tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya bukan perokok handal yang mampu boker sambil merokok. Karena boker dan wc, bagi saya menjadi tempat dan aktivitas berimajinasi tersendiri. Namun, saya juga bukan perokok lemah yang tidak mampu membuang puntung rokok di tempat sampah, dan lebih memilih membuang puntung rokok di toilet...Baaahhh....

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel