Persahabatan dan Ilusi Kekeluargaan


Persahabatan dan Ilusi Kekeluargaan

Penulis: Farhan Ariza Guswan*


Banyak yang bilang, kalau ikatan persahabatan lebih kuat dari ikatan pertemanan. Bagiku, semua sekarang sama saja. Tidak ada yang lebih antara satu sama lain. Kedua-duanya hanyalah konsep yang berada dalam kepala seseorang, dan tidak pernah jelas bentuknya seperti apa. Berdasarkan pengalamanku, kata sahabat hanyalah buatan agar kita terlihat mengikuti Nabi Muhammad SAW. Tapi apa yang kita lakukan sebenarnya, jangankan untuk mendekati Rasul, malah sering kali berbanding terbalik dengan apa yang dianjurkan oleh beliau.


Tulisan ini adalah kumpulan kontemplasi saya, yang selama hampir lima tahun ini mencari arti yang namanya “sahabat.” Terkadang saya bingung, adakah yang salah dengan badan saya ini? Sehingga selalu dilanda kebingungan itu sendiri. Sampai hari ini, saya masih belum paham artinya persahabatan itu. Bagi saya, yang sudah dikhianati untuk yang kedua kalinya ini, kata sahabat menjadi kata yang paling memuakkan. Ia menjadi sebuah bentuk ilusi, bak oasis di tengah padang pasir sahara. Pun seperti pulau nyaman yang ada di tengah samudera.


Terserah jika nanti ada yang menganggap saya adalah orang yang kecewa karena terbuang, orang yang tak pernah dianggap, dan orang yang tak berdaya, itu semua tidak menjadi soal bagi saya sekarang. Karena sesungguhnya, saya sudah lepas dari stereotip semacam itu. Bagi saya, bukanlah hal penting penilaian orang lain terhadap kita. Yang lebih penting adalah penilaian kita terhadap orang lain. Pun begitu pula dengan yang namanya perasaan. Tidak penting orang merasa kita macam apa, tapi yang lebih penting adalah perasaan kita kepada orang lain.


Karena kehidupanmu, kamu sendiri yang menjalani. Bukan mereka yang berada di sekitar dan sekelilingmu. Bukanlah mereka yang baru kamu kenal ketika menginjak umur belasan tahun atau puluhan tahun. Bukan juga mereka yang hanya ada ketika kamu merasa senang. Bahkan juga bukan mereka yang hadir ketika kamu sedih dan susah. Yang kehadirannya hanya ingin memperlihatkan kelemahanmu. Yang kehadirannya hanya ingin mengatakan kalau mereka lebih baik ketimbang kamu. Percayalah, kamu akan selalu merasa lemah karena hal semacam itu.


Ada yang pernah bilang ke saya, bahwa ikatan pertemanan atau persahabatan dan entah apa namanya itu, tidak akan pernah putus. Tapi sekarang saya ingin mempertanyakan, sebenarnya apa arti ikatan pertemanan dan persahabatan itu? Atas dasar apa ia terbentuk dan terjalin? Apakah atas dasar waktu yang dilalui bersama? Ataukah karena merasa senasib dan sepenanggungan? Entahlah, saya kira itu cuma sebuah ilusi dan fatamorgana. Yang akhirnya menyiksa pelaku yang menggantungkan harapannya pada hal yang abstrak tersebut.


Karena bagi saya, tidak ada jaminan pasti ketika sudah melewati waktu bersama, hubungan yang digambarkan sering kali kuat itu, bakal dengan sendirinya terbentuk dan bertahan. Karena pada dasarnya, hubungan pertemanan dan persahabatan itu serapuh bangunan kaca.


Tidak ada unsur yang menjadikan ia kokoh dan sekuat yang sering kali orang bayangkan. Pun begitu juga tidak ada yang menguatkannya kecuali rasa percaya yang tanpa batas. Tanpa hal itu, pertemanan, persahabatan, dan rasa kekeluargaan yang dipercaya akan terbangun olehnya, hanya menjadi omong kosong belaka.


Saya akan menjelaskan omong kosong saya dari tadi. Semoga pembaca sekalian tercerahkan. Sebelumnya, cari secangkir kopi panas, dan kacang sebagai cemilan, lalu nikmati penjelajahan ini. Dan bersiaplah, akan ada perasaan serasa naik roller couster yang selanjutnya akan kalian rasakan.


~~~


Saya adalah seorang mahasiswa yang tergabung dalam organisasi mahasiswa ekstra kampus, di salah satu kampus negeri. Organisasi yang saya masuki ini, terbilang organisasi tua yang umurnya sudah lebih dari setengah abad. Sampai umurnya yang sekarang, kisah yang saya alami ini adalah kisah yang biasa, dan dijadikan sebuah kebiasaan. Yang pada akhirnya, tidak pernah membuat organisasi ini mengarah ke arah yang lebih baik. Selengkapnya begini kisah yang ingin saya ceritakan:


Ketika pertama kali masuk dalam organisasi ini, kami—maksudnya saya dan beberapa orang yang pernah saya anggap teman—selalu didoktrin untuk mendahulukan yang namanya rasa kekeluargaan. Kami didoktrin, ketika ada satu yang sakit, yang lain harus tahu kabarnya. Begitu pula ketika ada satu yang kelaparan, wajib hukumnya untuk tahu siapa orangnya dan membantunya. Nyatanya hal tersebut memang berjalan lancar ketika di tahun-tahun awal. Akan tetapi, semua berubah ketika kami harus menghadapi momentum pergantian kepengurusan.


Momentum tersebut, mengharuskan angkatan saya mengemban amanah menjadi pengurus organisasi di level terendah. Level di mana segalanya terpusat karena menjadi gerbang awal untuk proses regenerasi. Level di mana doktrin yang masif begitu digalakkan. Dan level di mana pembentukan watak serta mental organisasi dibangun.


Sedikit cerita, angkatan saya sebenarnya tidak siap dengan hal itu. Ini terbukti dari persiapan menjelang pergantian kepengurusan. Dengan tidak matangnya konsep yang akan diterapkan nantinya, dan juga belum selesainya posisi yang akan ditempati, membuat angkatan saya akhirnya kocar-kacir. Waktu itu, saya adalah calon terkuat di mata senior organisasi, juga secara kapasitas yang dimiliki. Banyak senior yang mengharapkan saya maju sebagai yang memegang komando kepengurusan.


Saya sebenarnya tidak berniat menyombongkan diri, karena nyatanya memang begitu. Secara kapasitas dan intensitas di organisasi, bisa dibilang di angkatan saya belum ada yang bisa menandingi saya. Baik itu secara wacana, gerakan dan pengawalan. Namun apa mau dikata, sekuat-kuatnya satu orang, akan tetap kalah dengan rencana yang sudah disusun oleh delapan orang. Apalagi kalau rencana itu sudah bersekutu dengan setan, maka akan terjadi apa yang diharapkan.


Pengkhianatan ini, ketika saya sudah jelas yang akan maju, ternyata dicekal oleh teman-teman saya sendiri. Teman yang dari awal didoktrin untuk merasa sebagai satu keluarga. Teman yang didoktrin untuk saling bantu. Akan tetapi semua hanya omong kosong belaka. Demi sebuah posisi jabatan, pada akhirnya mereka mengkhianati saya di balik layar. Dan merencanakan sesuatu agar terlihat sebagai kehendak bersama.


Saya mengetahui hal ini mendekati momentum yang sudah saya singgung di awal. Sedikit tidak menyangka memang, tapi apalah daya. Saya akhirnya berpikir, bukan karena saya tidak berani maju untuk bersaing, tetapi karena saya sudah merasa bahwa angkatan saya sudah rusak. Saya pun akhirnya lebih memilih mengalah untuk menang. Karena saya dalam kesepakatan politik berhasil mengajukan sebuah syarat. Yang tidak boleh dilanggar oleh orang-orang yang mengkhianati saya tadi.


Saya awalnya memang sakit hati karena tahu hal tersebut. Akan tetapi, berkaca dari kisahnya Gus Dur, saya memilih untuk memaafkan. Namun saya tidak akan pernah lupa dengan hal tersebut.


Hasil pengkhianatan tadi memang tidak berhasil baik. Terbukti dengan kegopohan orang-orang yang bersengkongkol tadi. Mulai dari ketidakmampuan mereka menyiapkan agenda organisasi, menghilangnya otak-otak yang merencanakan persengkongkolan tadi (pecahnya kongsi antar mereka sendiri), sampai kepada tidak bisa mempertanggungjawabkan hasil yang dilakukan selama kurang lebih satu tahun.


Apa yang saya alami ini (pengkhianatan dari kepercayaan lebih kepada yang namanya “persahabatan & ikatan kekeluargaan”), juga menimpa teman perempuan saya. Ia, yang mencoba melawan wacana dominan (wacana yang sangat patriarkis) waktu itu, akhirnya juga harus tersingkir oleh ego orang-orang yang itu-itu juga.


Namun bedanya, ia lebih memilih keluar dari organisasi. Dan saya lebih memilih bertahan. Karena bagi saya, dalam sebuah pertarungan semacam itu, yang menjadi pemenang adalah ia yang bertahan paling akhir. Dan saya membuktikannya. Dengan bertahannya saya sampai sekarang, membuktikan bahwa saya lah yang pantas jadi panutan. Bukan orang-orang tadi yang mengaku teman dan sahabat saya. Terlepas ini hanya sebuah keberuntungan, saya kira saya patut berbangga.


Untuk menyudahi tulisan ini, saya akan kembali mengingatkan. Bahwa bergantung kepada harapan yang bentuknya dengan segala macam rupa, tapi melupakan Tuhan di dalamnya, maka ia akan menjadi hal yang mengecewakan. Termasuk jika para pembaca sekalian bergantung pada sahabat, persahabatan dan sebutan lainnya itu, saya bisa jamin akan menemukan kekecewaan. Karena pada dasarnya, manusia hanya mencari untung dan posisi nyaman untuk dirinya. Hal ini yang selanjutnya akan sulit dibantah dan diganggu gugat.


Semoga, selanjutnya saya bisa melanjutkan tulisan ini di lain waktu, dan dengan pengetahuan selanjutnya. Semoga para pembaca sabar menunggunya, karena tulisan ini pasti akan berlanjut~



*Pemerhati Manusia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel