Peran Mahasiswa Melawan "Setan Oeang"


Peran Mahasiswa Melawan "Setan Oeang"
Sumber Foto: mulya.gurusiana.id
Penulis: Adi Nugroho

Setan oeang, adalah istilah politik pada zaman pergerakan, yang ditujukan kepada para pemilik modal atau pengusaha. Istilah ini, mengacu pada segala bidang. Di mana modal dapat berkuasa di banyak hal. Misalnya pendidikan, perkebunan, perusahaan, perdagangan, ataupun pajak. Sebab pada kenyataanya, politik etis yang dicanangkan kaum Belanda lebih banyak dimanfaatkan oleh para pemilik modal.

Pada saat ini, setan oeang lebih dikenal sebagai kapitalis oleh kaum cendekia. Karena pada dasarnya, masyarakat awam tidak terlalu peduli dengan istilah-istilah semacam itu. Mengingat, aktivitas pekerjaan yang mereka jalani begitu padat. Terlebih masyarakat awam kiranya memang akan lebih mementingkan gaji. Akan tetapi, bagi seorang mahasiswa, apalagi mereka yang mengaku kaum pergerakan, seharusnya hal ini merupakan beban moral.

Kenapa bisa jadi beban moral? Karena bagi saya, setidaknya mahasiswa harus mengerti alasan mengapa hasil bumi Indonesia selalu di ekspor. Apakah hal tersebut karena ketidakmampuan orang Indonesia dalam mengolah sumber daya alam yang ada? Ataukah ada alasan lain? Sehingga, hal tersebut yang selanjutnya menjadi alasan untuk masuknya pemodal-pemodal yang difasilitasi oleh pemerintah, guna untuk mengolah sumber alam yang ada di Indonesia?

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, perusahaan BUMN di Indonesia masih banyak menggunakan tenaga kerja dari luar negeri. Terkhusus lagi perusahaan asing yang ada di Indonesia, bisa dipastikan tenaga ahlinya, kebanyakan adalah orang-orang dari luar negeri. Maka, kesempatan untuk mendapat pekerjaan semakin sulit bagi mereka yang hanya lulusan sekolah menengah, bahkan sarjana sekalipun.

Hal ini, yang secara tidak langsung memicu tingginya angka pengangguran dan kriminalitas yang ada. Hingga pada akhirnya, juga berefek pada kualitas perekonomian masyarakat yang tiap tahun terus menurun. Melihat hal tersebut,  di sinilah mahasiswa harus mengambil tindakan yang dirasa lebih progresif, dan dampaknya langsung berpengaruh ke masyarakat. 

Mahasiswa sebagai agent of change dan agent of social controlseperti yang sering digaung-gaungkan di jalanan ketika mengadakan aksi—sering kali disalahartikan hakikat dari kalimat tersebut. Entah dimaknai sebagai apa; sebagai pengingat pemerintah kah, atau sebagai jargon penyemangat mereka, atau bahkan sebagai tambahan materi ketika mereka menjadi orator, implementasinya pada saat ini masih belum terlihat.

Mahasiswa adalah harapan untuk perubahan bangsa. Di tengah carut marutnya kondisi dewasa ini, kiranya perlu ada gagasan-gagasan yang dapat menghasilkan sebuah pola pikir baru dalam masyarakat.  Agar nantinya, mereka bergantung pada orang-orang kapitalis. Artinya, mereka mahasiswa haruslah dapat membantu masyarakat untuk bisa menciptakan model-model ekonomi kreatif, yang paling tidak, itu dirasa lebih efektif untuk saat ini.

Bukankah hasil alam Indonesia adalah untuk masyarakat Indonesia itu sendiri? Oleh karena itu, dengan bekal pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki mahasiswa, seharusnya sudah bisa mengolah hasil bumi Indonesia. Walaupun memang tidak secanggih dan semodern negara-negara luar, tidak menjadi masalah saya kira. Meskipun dimulai dari cara yang sederhana sekalipun, masyarakat tentu sudah bisa menikmati haknya atas sumber daya alam yang ada.

Namun bukan berarti, hal tersebut lantas mengesampingkan kewajiban mahasiswa untuk kritis terhadap pemerintah atau lembaga apapun itu. Mahasiswa, tetap harus mengkritik kebijakan-kebijakan yang dirasa itu berdampak kepada masyarakat. Akan tetapi,  di sisi lain juga ada peran atau upaya mahasiswa  untuk mulai mengembangkan potensi yang ada di masyarakat.

Mengaca pada sejarah, organisasi yang menginisiasi kemerdekaan Indonesia yaitu Sarikat Islam (SI), yang sebelum itu bernama Sarikat Dagang Islam (SDI), awalnya juga terbentuk karena faktor kesenjangan yang terjadi di masyarakat. Terutama di kalangan pedagang. Organisasi tersebut, tidak langsung mengkritik pemerintah Hindia-Belanda. Melainkan membuat strategi agar masyarakat Bumi Putera bisa bersaing dengan masyarakat Tionghoa, yang pada saat itu lebih dominan menguasai pasar.

Sepak terjang SI, yaitu mengembangkan potensi yang ada di masyarakat. Baik itu pertanian, jurnalistik, dan lain-lain. Alhasil, meraka mampu mendirikan PT. Setia Usaha Surabaya, penerbitan Surat kabar Oetoesan Hindia, menyelanggarakan penggilingan padi, serta mendirikan bank.

Baru setelah itu, mereka mulai masuk ke ranah politik, dan membuat gerakan-gerakan rakyat, seperti mogok masal dan pemberontakkan. Meskipun hal itu yang menjadi penyebab pecahnya organisasi itu sendirikarena banyak yang berbeda pandangantapi kita tak tahu pasti. Bisa saja, itu bagian dari strategi organisasi untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, bukan? 

Dapatkah kita mencontoh strategi yang digunakan oleh para founding father tersebut? Agar nantinya kita bisa mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Karena bagi saya, menjadi sebuah parodi kalo kita melulu berharap kepada pemerintah untuk mengatur kebijakan.

Perubahan mendasar pada pola pikir masyarakat, dan pengembangan potensi yang ada pada masyarakat, tentunya merupakan suatu hal yang dipandang lebih visioner. Kalau mau dibandingkan dengan sekedar melakukan demonstrasi yang pada hakikatnya hanya mengikuti euphoria semata. Terlebih lagi, mengingat kondisi sekarang yang menganggap bahwa demonstrasi sudah kurang relevan. 

Indonesia memang bukan negara yang menganut Ideologi kapitalisme, tetapi sadar atau tidak, mereka para “setan oeang” itu masih sangat leluasa melebarkan sayapnya. Lucunya lagi, pemerintah malah menjadi fasilitator dengan membuat kebijakan agar mereka tetap merasa nyaman. 

Negeri ini milik kita bukan? Alangkah baiknya jika kita olah sendiri, meski tidak bisa lebih baik dari cara pengolahan modern para investor, ataupun orang-orang Barat. Paling tidak, masyarakat dapat mengolah dan menikmati hasil dari jerih payahnya sendiri, syukur-syukur anak cucu bisa ikut menikmati.


Mahasiswa MUBA Yogyakarta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel