Penulis Newbie Sedunia, Bersatulah!


Penulis Newbie Sedunia, Bersatulah!
Sumber Foto: asmarainjogja.id

Penulis: Kakak Reformasi

Semua penulis, baik yang hebat, yang top, yang keren, dan yang beken, pada awalnya adalah penulis pemula. Mau dia menulis secara serius (akademis), selengekan ala Mojok, atau yang ivestigatif ala detik, percayalah, semua adalah pemula pada awalnya…..

Judul ini saya pilih berdasarkan pengalaman saya sebagai penulis pemula. Yang Alhamdulillah, dalam waktu belakangan ini, tulisannya beruntung dimuat di beberapa media online.

Memang benar adanya, keberuntungan—dan jodoh—itu tidak akan salah alamat. Sama halnya dengan keberuntungan saya di atas. Saya menganggap, keberuntungan saya itu adalah jawaban dari doa ibu saya untuk saya selama ini, yang akhirnya dijabah oleh Tuhan.

Poin pentingnya terletak dari beberapa kejadian yang harus saya lewati dan saya rasakan, selama beberapa tulisan saya tadi belum dimuat.

Hal ini berawal ketika saya masih sering ngirim tulisan—bisa disebut rajin—ke koran Harian Jogja. Kurun waktu antara 2016-2017 lalu, koran Harian Jogja masih menyediakan rubrik opini khusus mahasiswa.

Rubrik ini nyatanya mampu membantu keberlangsungan hidup—dan jadwal pacaran—saya untuk sementara waktu pada saat itu. Dengan honornya sebesar seratus ribu rupiah, cukup menutupi kebokekan saya.

Saya pun harus mencoba beberapa kali sampai tulisan saya bisa dimuat di koran tersebut. Sampai pada akhirnya tulisan saya tembus, dan saya segera mengabari orang yang laptopnya saya pinjam.

Kesenangan saya waktu itu, persis seperti ketika saya dibelikan baju baru atau mainan baru oleh orang tua saya. Dengan semangat yang menggebu-gebu, saya pun menargetkan minggu depan harus ngirim tulisan lagi ke sana, tentunya dengan harapan untuk dimuat.

Eh dilalah, rubrik opini ini ternyata ada aturan tidak tertulis. Yang mengatur setiap mahasiswa yang mengirim tulisan, maksimal hanya bisa dimuat tulisannya satu kali dalam sebulan. Etika pemuatan ini, baru saya sadari setelah berbincang-bincang dengan senior saya di kosannya.

Tanpa kehilangan akal, saya pun mencari cara lain agar tulisan saya bisa dimuat lebih dari satu kali di Harian Jogja. Pada obrolan waktu itu, saya baru mengetahui konsep Ghost Writer yang diceritakan juga oleh senior saya.

Rocky Gerung, adalah salah seorang yang banyak dianggap pernah menjadi Ghost Writer. Tidak main-main, banyak orang yang mengira kalau beliau adalah Ghost Writer-nya Gus Dur selama di Forum Demokrasi (baca ForDem).

Mendengar perihal itu, semangat saya untuk menulis, serasa menjadi berlipat ganda. Saya pun segera menghubungi teman baik saya, dan beberapa teman yang lain untuk saya pakai identitasnya.

Seketika itu juga, saya segera menulis untuk tema yang disiapkan Harian Jogja minggu depan. Kebetulan, temanya waktu itu soal insiden lomba lari, yang melibatkan peserta lomba tersebut dengan warga setempat.

Insiden tersebut terjadi ketika peserta lomba yang kebetulan adalah seorang perempuan, memakai pakaian yang kurang sopan, dan membuat warga setempat tidak terima, karena dianggap memakai pakaian yang melanggar norma setempat.

Seperti tema-tema mingguan di koran pada umumnya, biasanya menanyakan bagaimana solusi dari permasalahan tersebut. Saya pun tidak urung ikut memikirkan kejadian itu, yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan saya.

Namun, karena saya bertujuan agar tulisan saya dimuat lagi, akhirnya saya pun menyegerakan menulis soal itu.

Saat menulis tentang insiden itu, setelah saya ingat kembali, saya seperti menjalankan petuah dari pak Edi pemilik basa-basi. Petuah yang saya maksud, ketika pak Edi diundang menjadi pembicara pada perayaan ulang tahun Mojok.

Bertempat di warung Mojok waktu itu, pak Edi menyampaikan kiat-kiat dalam menulis, yang sebenarnya ditujukan pada semua penulis pemula. Kira-kira begini isi petuahnya: “Menulis itu, coba dari apa yang kamu kuasai dan menjadi duniamu. Jika sudah begitu, menulis akan menjadi hal yang gampang.”

Waktu saya menulis soal insiden tadi, sebenarnya saya belum mendengar petuah bijak dari pak Edi itu, tapi secerdiknya saya saja. Waktu itu, saya beranggapan solusi dari masalahnya terletak pada toleransi.

Saya pun mencoba menggali ingatan bacaan filsafat saya, yang berkaitan dengan toleransi. Selanjutnya saya coba membumbui tulisan tersebut dengan gaya ala-ala filsafat. Dengan kutip sana-sini, comot sana-sini, akhirnya jadi lah tulisan itu.

Tidak menunggu waktu lama, setelah tulisan jadi dan identitas serta email teman saya dapatkan, langsung saja kirim tulisan itu ke Harian Jogja. Dilalahnya lagi, minggu depannya tulisan itu berhasil dimuat, tentunya bukan memakai foto wajah dan identitas saya.

Segera, dengan berbangga hati, saya pun sudah merasa setara dan secerdik Rocky Gerung yang ahli filsafat. Bedanya adalah, kalau om Rocky menjadi Ghost Writer-nya Gus Dur, saya berlagak menjadi Ghost Writer-nya teman sendiri. Yang jika dibandingkan, tentu bagai bumi dan langit.

Terlebih, bisa dibilang orientasi saya dan om Rocky ketika menjadi seorang Ghost Writer sungguh berbeda sama sekali. Kalau saya menulis karena lapar, kalau om Rocky menulis agar ia bisa lapar.

Kejadian yang berlangsung hampir tiga tahun lalu ini, kembali muncul karena ketidaksengajaan. Yang mestinya harus diakui adalah sebuah kebodohan yang hakiki.

Mengapa tidak, ingatan saya ini muncul selepas membaca tulisan mas Anugrahbayu, yang berjudul “Kritik dan Saran Terbuka untuk Para Penulis.”

Tulisan itu, seakan menampar dan mengingatkan kembali soal kecerdikan saya dahulu. Yang kalau mau ditinjau, sebenarnya kecerdikan saya itu gak cerdik-cerdik banget, malah terlihat sebagi kebodohan saya sebagai penulis pemula.

Begini penjelasannya; Menulis, menurut mas Anugrahbayu—bukan Dea Anugrah—adalah perampasan terhadap ruang publik. Seringkali sebagian penulis menganggap, tulisannya layak dibaca oleh seluruh semesta.

Hal ini menurutnya menjadi sebuah kekurangajaran. Karena, tidak ada alasan yang benar-benar patut dijadikan alasan, agar tulisan apapun itu, layak dibaca oleh semua orang.

Penulis pemula, jarang yang berpikiran seperti ini. Karena memang niatan awalnya adalah mencari uang, untuk sekedar menyambung hidup atau menyambung sebatang rokok. Terkecuali, penulis pemula yang sudah merasa jadi penulis beken ya~

Belajar dari pengalaman saya sebagai penulis yang newbie ini, untuk mendapatkan uang dengan cara tulisannya dimuat, harus menempuh langkah menjadi Ghost Writer abal-abal. Saya rasa, itu adalah langkah yang paling cerdik yang bisa penulis newbie lakukan.

Eh ternyata, untuk mencari uang di waktu tiga tahun yang lalu, tidaklah sesulit zaman ketika koran cetak masih berjaya. Apalagi di waktu sekarang, 2020 adalah zaman jaya-jayanya website menerima beragam tulisan.

Silahkan cari saja web yang sesuai duniamu, bukan hal yang sulit untuk menemukannya. Terlebih, jika kamu suka yang satir dan sarkas, hari ini sudah banyak wadah yang siap menampung tulisan sejenis itu. Sebagai penutup, saya mengajak, wahai para penulis newbie sedunia, mari kita ngopi bareng dan bercengkerama soal kenewbiean kita.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel