Parodi di Negara Lelucon


Parodi di Negara Lelucon
Sumber Foto: detak.co

Per-hari ini, Kota Solo dinyatakan darurat Corona. Sekian aktivitas warganya dipantau, dibatasi, bahkan ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan. Tak cuma Solo, beberapa kampus di Indonesia mulai memberlakukan kuliah daring untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona.

Beberapa hari sebelumnya, Italia, negara terdampak paling parah di kawasan Eropa memberlakukan kebijakan lockdown setelah virus corona menyebar dengan cepat di negeri pizza tersebut.

Akses keluar masuk ke negara tersebut sangat terbatas. Boleh bepergian asal dengan alasan yang sangat penting dan mendesak. Itupun harus melalui izin otoritas.

Bahkan, sekitar dua pekan sebelum mengeluarkan kebijakan lockdown, seluruh pertandingan olahraga termasuk sepakbola di Italia, ditunda hingga digelar tanpa penonton. Saya tahu ini persis, sebab saya penggemar berat salah satu klub sepak bola yang bermarkas di Torino, Italia.

Kebijakan penangguhan ini, pada akhirnya diresmikan hingga batas waktu yang belum ditentukan, yang kemudian diikuti oleh asosiasi sepak bola Inggris, Perancis, Jerman, dan Spanyol.

Bergeser dari Eropa, kita kembali ke Asia tempat epidemi dilaporkan pertama kali di Kota Wuhan, China. Namun kali ini saya akan menyorot kebijakan Arab Saudi dalam menghadapi pandemi global.

Sejak 27 Februari 2020, pemerintah Arab Saudi resmi menutup Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dari para peziarah yang ingin melaksanakan ibadah umrah.

Hal ini dilakukan untuk mencegah kerusakan lebih jauh. Di mana setiap tahunnya jutaan umat manusia dari seluruh penjuru dunia, berkumpul dan berinteraksi di satu area, 24 jam tanpa jeda. Berhimpitan dengan selembar kain tipis.

Pertanyaannya, apakah blokade itu hanya berlaku di dua masjid, atau lebih tepatnya pada dua kota, Mekah dan Madinah? Saya tidak tahu. Tetapi saya rasa tidak.

Baru-baru ini, seorang kawan yang ingin berangkat kerja ke Arab Saudi harus mengalami penundaan akibat efek virus Corona tadi. Tapi sekali lagi, ini hanya kesimpulan sementara yang saya ambil dari cerita seorang kawan.

Bisa jadi, malah dia sendiri yang takut berangkat. Sebab mendengar Corona yang kian menggurita. Bisa juga karena pengurusan visa yang menjadi rumit akibat Corona efek. Entahlah, saya malas mencari tahu lebih jauh.

Satu hal yang pasti, masifnya penyebaran Corona ini menempatkan dunia dalam status siaga penuh. Saya mengambil Italia dengan sepak bolanya dan Arab Saudi dengan layanan ibadahnya sebagai contoh, bahwa nyawa manusia harus diletakkan dalam prioritas tertinggi. Melampaui apapun termasuk ekonomi.

Kita tahu, sepakbola telah menjadi industri milyaran dolar di benua Eropa. Lalu berapa kerugian yang harus ditanggung oleh negara saat seluruh pertandingan olahraga harus dihentikan?

Atau kerugian yang harus ditanggung Arab Saudi saat mengeluarkan kebijakan menutup ziarah umrah, yang kita tahu dari sektor ini menyumbang 10% pemasukan negara dan menjadi sumber pemasukan terbesar kedua setelah migas.

Eropa yang sering dilabeli negara kafir, dan kerap jadi sasaran suicidal bomb justru sangat menjunjung tinggi nyawa manusia yang notabenenya termasuk dalam lima pilar Hak Asasi Manusia dalam Islam; Hifdzun Nafs. Perlindungan jiwa dalam bentuknya yang beraneka ragam. Keselamatan, rasa aman, dst.

Atau Arab Saudi yang menjadikan Wahabi sebagai madzhab resminya. Kenyataannya justru yang paling solid mengamalkan kaidah darul mafasid muqaddam 'ala jalbil mashalih, dengan menutup para peziarah yang ingin beribadah dalam rangka menghadapi pandemi global.

Jangan bandingkan kebijakan kedua negara tersebut dengan negara lelucon—Indonesia—ini. Corona yang harusnya disikapi secara serius, malah terkesan disepelekan.

Disaat negara lain membatasi dan memperketat akses keluar masuk, negara ini justru terkesan santai dan malah menggelontorkan puluhan milyar rupiah sebagai suplemen promosi di tengah badai Corona yang melesukan sektor pariwisata dan investasi.

Apalagi waktu terjadi kelangkaan masker. Hingga terjadi lonjkan harga menembus ratusan kali lipat dari harga normal. Kok ya ada yang tega mengeruk keuntungan di tengah kesusahan?

Sebegitu murahnya kah nyawa manusia hingga cuan ditempatkan di atas segalanya?
Oh iya saya lupa. Seharusnya saya tak kaget. Di negeri salah urus ini, harga nyawa tak semahal tambang. Apalagi cuma kesehatan yang mungkin saja dianggap receh di rezim pembangunan jilid dua ini.

Menulis ini, saya jadi teringat kata-kata dari Syaikh Muhammad Abduh yang menjadi klasik: Aku melihat Islam di Barat (Paris), tapi tak ku lihat muslim di sana. Dan aku melihat banyak muslim di sini (Kairo) tapi tak melihat Islam ada pada diri mereka.”

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel