Orgasme Perempuan dan Otak Kita yang Sangean tapi Cupu


Orgasme Perempuan dan Otak Kita yang Sangean tapi Cupu

Identitas Buku

Judul: The ‘O’ Project

Penulis: Firliana Purwanti

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Cetakan: 2010

Tebal: x+142

Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar kata “orgasme perempuan?” Apakah langsung terbayang gambaran wajah seseorang? Atau malah membayangkan kalau kata itu identik dengan perempuan nakal? Perempuan tidak baik? Dan sebutan negatif lainnya? Ya, itulah penanda kalau otakmu masih patriarkis dan menganggap perempuan inferior. Seakan-akan, orgasme hanya milik para lelaki, dan perempuan dilarang menikmatinya.

Orgasme, adalah kegiatan yang masih saja malu diakui sebagai sebuah kenikmatan. Tidak jarang, banyak orang yang mengutuknya di depan publik, tapi menikmatinya diam-diam di belakang layar. Lewat buku The ‘O’ Ptoject, Firliana Purwanti mengajak kita untuk segera mengakhiri sikap naif seperti itu. Baginya, orgasme adalah salah satu anugerah terbesar dari Tuhan untuk manusia. Dan bukan selayaknya sikap kita untuk mengutuk hal tersebut, apalagi mengkonstruk bahwa orgasme, adalah hal yang seharusnya tidak dibicarakan secara terbuka.

Menurutnya lagi, orgasme itu ibarat ledakan dalam gambaran teori “the big bang” dalam proses penciptaan alam semesta. Oleh karena itu, bisa kita tarik kesimpulan bahwa orgasme nyatanya tidak seburuk yang kita bayangkan selama ini. Bahkan lebih jauh lagi, patut kiranya kalau kita membicangkan hal tersebut secara serius. Agar tidak lagi terbangun mitos yang sia-sia tentang apa sebenarnya orgasme perempuan, dan kenapa kita harus memahaminya.

Indonesia, masuk dalam salah satu negara yang mengagungkan keperawanan. Simbol baik tidaknya seorang perempuan, diukur dari selaput dara yang tipis dan mudah robek itu. Selanjutnya, tolak ukur layak dan idealnya perempuan tergantung dari ia  menjaga keperawanannya. Halo, apa kabar untuk para lelaki? Ya tentu saja hal itu tidak berlaku bagi laki-laki. Sehingga, keperawanan menjadi alat kontrol bagi lelaki untuk mengkerangkeng perempuan sedemikian rupa.

Banyak yang bisa kita kroscek ulang mengenai kasus keperawanan ini. Misalnya tingginya angka frustasi dan rendah diri yang dialami oleh perempuan, ketika ia sudah tidak perawan lagi. Tidak jarang, ketika perempuan sudah tidak perawan, ia memilih  mengakhiri hidupnya. Karena merasa sudah tidak berharga lagi, dan tidak layak meneruskan hidupnya.

Hai, para perempuan, yakinlah kalau tidak perawan bukan menjadi akhir dari dunia. Karena bisa jadi perawan itu mitos bukan? Atau malah sebenarnya itu adalah hantu yang tidak jelas dari mana asalnya, dan bentuknya seperti apa? Kalau sudah tidak jelas seperti itu, kenapa kita masih terus meyakininya? Bukankah secara iman saja, kalau kita yakin terhadap sesuatu, terlebih dulu harus paham dan mengerti dengan apa yang diyakini?

Lalu, adakah yang salah dengan tubuh perempuan selama ini? Sehingga perawan hanya berlaku baginya? Dan hidup-mati, baik-buruk, ideal-tidaknya perempuan diukur dari sana? Kalau sudah merasa was-was seperti itu, lantas apa lagi yang bisa dinikmati darinya? Apakah aktivitas seksual selamanya akan berjarak dengan yang melakukan? Tentu saja tidak bukan?

Kalau sudah seperti ini, lantas siapa yang bisa kita salahkan? Perempuan kah yang tidak berani bersuara? Atau para lelaki yang seenaknya saja? Untuk menjawab hal tersebut, saya sarankan membaca buku Firliana ini. Tidak hanya membedah tentang mitos keperawanan, buku ini adalah upaya penjernihan terhadap aktivitas seksual kita yang seharusnya bisa dinikmati dan memberi manfaat. Bukan malah menakut-nakuti sedemikian rupa, sehingga para pelakunya dibuat menjadi orang yang sangat berdosa.

Paham tapi tidak Menikmati, Lantas buat Apa?

Orgasme perempuan, bukan saja sulit dimengerti karena berupa ragam, tetapi juga karena orgasme perempuan masih dianggap sebagai hal yang tabu hari ini. Penilaian dan anggapan yang negatif terhadap perempuan sangean, turut memperparah kondisi tersebut. Padahal, kalau sudah melakukan aktivitas seksual, para lelaki mengingkan perempuan yang aktif bukan?

Sudahlah mari akui saja, kita masih malu-malu kucing untuk mengakuinya. Jangankan untuk menikmatinya, kalau paham saja belum dengan orgasme perempuan, para lelaki sudah merasa yang paling benar dan tahu gitu? What the Fuck, ketika ingin merasakan kenikmatan tapi masih egois. Boro-boro ngomongin keadilan untuk orang banyak, ngomongin keadilan di atas ranjang saja belum.

Pemahaman orgasme perempuan, nyatanya juga masih terbatas di kalangan perempuan itu sendiri, dan kalangan tertentu. Secara umum, masih banyak perempuan sendiri yang malu dan takut menyuarakan orgasme yang seharusnya bisa ia nikmati. Hal ini, karena kesan patriarkis yang begitu mengurat akar di kita. Yang menyebabkan perempuan terus merasa inferior dan tidak berani jujur serta terbuka dalam persoalan ini. Selanjutnya, hal tersebut semakin menyeret perempuan ke dalam labirin penuh jebakan.

Melalui kisah beragam soal kenikmatan seksual, Firliana mengkampanyekan pentingnya arti orgasme perempuan. Bukan saja karena aktivitas seksual yang dilakukan perempuan harus dinikmati, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan kepada tatanan yang terkesan mensubordinasi perempuan. Oleh karenaya, ketika sudah paham soal orgasme, tetapi tidak menikmatinya, lantas buat apa pemahaman tadi? Bukankah sesuatu yang kita pahami dan kerjakan harus bisa dinikmati? Kalau tidak, saya rasa lebih baik kalau kita tidak paham sama-sekali.

Kenikmatan Orgasme adalah Lambang Kesetaraan

Tidak hanya membedah soal aktivitas perempuan yang heteroseksual, buku ini juga membicarakan hal yang lebih luas daripada itu. Buku ini juga melacak bagaimana ativitas perempuan yang lesbian, transgender dan biseksual. Yang masih belum banyak terekspos di publik, dan masih belum dianggap keberadaannya.

Melalui kisah yang beragam dalam buku ini, setidaknya kita bisa mengetahui pendidikan seks yang membebaskan dan memerdekakan. Bukan malah pendidikan seks yang terkesan menakut-nakuti. Sebagaimana yang dipahami oleh kita kebanyakan. Sehingga, hanya sebagian orang saja yang berhak bicara soal itu. Yang selanjutnya penilaian benar-tidaknya tergantung pada sebagian kecil orang ini tadi.

Melalui buku ini, setidaknya kita juga bisa mengerti arti kesetaraan yang sesungguhnya. Kesetaraan yang bisa dirasakan oleh semua orang. Bukan kesetaraan yang tidak mengikutsertakan kelompok minoritas di dalamnya. Firliana, saya rasa sukses mengkampanyekan hal tersebut, dan hal ini yang sebenarnya mesti masuk dalam obrolan kita soal Hak Asasi Manusia (HAM).

Kalau kesetaraan harus diseragamkan dan dikontrol oleh negara sedemikian rupa, saya rasa itu menjadi salah besar. Yang perlu kita lakukan adalah, ikut mendengar keresahan dan keluhan yang belum banyak terekspos di publik. Karena, bisa jadi cara pandang kita juga masih terbatas soal kesetaraan tersebut. Lebih jauhnya lagi, buku Firlianan ini saya rasa cocok dibaca semua kalagan. Karena ia menjadi jembatan yang mendorong kita untuk melewati kepandiran yang bercokol lama di otak kita.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel