Musik yang tidak Sekedar Aku, Kamu, dan Kita!


Musik yang tidak Sekedar Aku, Kamu, dan Kita!

Penulis: Vivi Qia Agustin*


Data Film


Judul:              Bohemian Rhapsody


Sutradara:        Bryan Singer


Produser:         Graham King, Jim Beach


Aktor/Aktris:   Rami Malek, Lucy Boynton, Gwliym Lee, Ben Hardy, Joe Mazzello, Aidan Gillen, Allen Leech, Tom Hollander, Mike Myers


Durasi:             134 menit


Produksi:         20th Century Fox, New Regency, GK Films, Queen Films


Menjadi idola banyak orang, adalah hal yang lumrah bagi tokoh publik. Tidak terkecuali bagi seorang musisi dan sekumpulan orang yang tergabung dalam sebuah grup band. Ketenaran, kekayaan, dan gaya hidup glamor, adalah keniscayaan ketika sudah berada di posisi puncak. Saya jadi teringat sebuah kata-kata yang isinya begini; “Perempuan akan diuji pada titik terendahnya. Dan laki-laki sebaliknya. Ia akan diuji ketika berada di posisi puncak.”


Kata-kata tersebut, lantas mengena sekali ketika saya menonton film Bohemian Rhapsody. Film yang rilis dua tahun lalu ini, adalah film bergenre musikal kedua yang berkesan bagi saya. Sebelumnya, saya lumayan terkesima setelah menonton film A Star Is Born. Sehingga, saya menyimpulkan bahwa tahun 2018 yang telah lalu, adalah tahun di mana saya banyak menghabiskan waktu menonton film yang bergenre musical.


Lain A Star Is Born, lain pula Bohemian Rhapsody. Walaupun keduanya adalah film tentang musik, kedua film ini punya sorotan utama yang berbeda. Film A Star Is Born, secara tidak langsung adalah film yang mendongkrak kembali kepopuleran Lady Gaga. Sedangkan Bohemian Rhapsody, adalah film yang bertujuan mengenang. Ya, untuk mengenang grup band Queen. Grub band legendaris dengan vokalis yang gayanya arogan, urakan, serta ceplas-ceplos.


Tokoh utama film ini adalah Freddie Mercury (Rami Malek), sang vokalis grup band Queen. Diceritakan, Freedie yang awalnya bernama Farrokh, adalah salah satu pekerja di bandara London. Freedie berasal dari keluarga keturunan Pakistan, yang akhirnya memilih menetap di Inggris.


Simbolisme Pemberontakan


Hubungan yang kurang harmonis antara Freddie dan sang ayah, adalah gambaran nyata keluarga zaman dulu. Di mana, ayah menjadi posisi terhormat dan berjarak dengan anak lelakinya. Sebisa mungkin, ayah menjadi orang yang selalu ingin dihormati dan dicontoh setiap tindak-tanduknya. Hal ini terbukti dari percakapan antara Freddie dan ayahnya, yang memita agar dirinya juga memikirkan masa depannya kelak.


Tetapi, ia bukan sekedar anak lelaki yang langsung mengamini perkataan dari sang ayah; ia anak yang berani dan mempertanyakan ulang hasil prinsip yang selalu didambakan ayahnya. Film yang berlatar waktu dari rentang tahun 1970-1980an ini, memberikan gambaran jelas kondisi keluarga yang ada di Eropa waktu itu. Karena, secerah-cerahnya Eropa pada waktu itu, nyatanya juga belum tercerahkan sepenuhnya. Buktinya ialah, unsur Bapakisme yang masih kuat melekat di kebanyakan keluraga yang ada, termasuk keluarga Freddie.


Mencermati hal ini sebagai sebuah simbol pemberontakan, Freddie adalah tokoh yang tepat sekaligus inisiator yang terbentuk karena rasa kekecewaan. Memang, tentu setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Akan tetapi, apakah keinginan orang tua tersebut lantas menjadi kebutuhan sang anak? Saya rasa belum tentu.  Apalagi jika dikaitkan dengan kebanyakan pandangan orang tua pada waktu itu yang masih sangat konservatif.


Tidak hanya kepada keluarganya, Freedie nyatanya berani memberontak kepada stereotip sosial yang memarjinalkannya. Karena baginya, penampilan bukanlah ukuran nomor satu yang bisa dijadikan sebuah patokan. Freddie pun membuktikan, dengan giginya yang berlebih, ia bisa bernyanyi setara dengan para penyanyi terkenal yang lain. Secara rasional dia menjelaskan kepada Roger Taylor (Ben Hardy) dan Brian May (Gwilym Lee), bahwa kelebihan giginya, membuat ia punya jangkauan yang lebih besar ketimbang orang yang bergigi normal.


Secara lantang, ketika Roger dan Brian masih mempermasalahkan penampilannya ketika ia ingin membuat sebuah grup band dengan mereka, ia langsung pergi begitu saja. Saya rasa memang sudah seharusnya seperti itu. Ketika kita secara pribadi punya daya tawar, tidak elok malah kita yang terlihat mengemis. Karena, kualitas seseorang diakui atau tidak, itu tergantung waktu yang menjawab.


Gaya Freddie yang begitu, mungkin bagi sebagian orang terlihat sebagai sebuah kecongkakan. Akan tetapi, saya pribadi lebih senang dengan tipikal orang yang seperti Freddie. Yang berani tampil apa adanya, dan tidak naif hanya untuk tampil baik di depan orang lain. Gaya Freddie yang apa adanya itu, nyatanya tetap berlanjut sampai ia sudah menjadi seseorang yang terkenal.


Sebenarnya, mempertahankan prinsip semacam itu bukanlah hal yang mudah. Tetapi juga bukanlah hal yang mustahil. Jika tujuan sudah diperjelas, dan mental telah terbangun, setiap orang saya rasa punya kemampuan mempertahankan prinsip. Seperti yang dicontohkan oleh Freddie.


Eropa yang Belum Tercerahkan


Film ini, mendapat banyak kritikan dan pujian bukan karena banyak hal-hal yang tidak akurat. Namun, lebih kepada opini publik yang belum mampu menerima sosok Freedie yang nyatanya biseksual. Film ini sekaligus memperlihatkan sisi lemahnya Eropa. Benua yang digadang-gadang dan dianggap sebagai kiblatnya segala kiblat. Melalui film ini, saya akhirnya mempercayai sesuatu, bahwa Eropa tidak secerdas dan secergas yang selama ini kita bayangkan. Hal ini sangat jelas digambarkan dalam film Bohemian Rhapsody.


Selain berusaha mengangkat kelemahan—atau yang lebih tepat disebut sebagai kagetannya—Eropa, film ini juga berusaha mengangakat posisi orang-orang yang termarjinalkan, tersubordinasikan, dan terpinggirkan karena orientasi seksusalnya. Hal ini yang selanjutnya punya relasi dengan Hak Asasi Manusia yang universal itu. Lebih lanjut, kita akhirnya bisa belajar sejarah dari film ini. Bahwa kagetan dengan hal yang baru itu tidaklah baik.


Kenapa bisa begitu? Sosok Freddie yang bisesksual, menjadi fenomena baru di Eropa waktu itu. Kecemasan dan kekhawatiran orang-orang yang ada di sekitarnya, menjadi-jadi ketika HIV/AIDS juga berbarengan munculnya.Gaya hidup Freddie yang sering gonta-ganti pasangan, akhirnya berimplikasi penyakit menular itu menimpanya.


Semua itu, bagi Freddie bukanlah masalah besar yang seharusnya ditangisi dan dibuat sedih yang berlaurt-larut. Bahkan dengan gagahnya ia berkata, “ Kalau yang perlu dilakukannya adalah menjalani takdir yang sudah ditentukan. Bukan malah terjebak dalam lingkaran kesedihan yang tidak akan pernah ada habisnya itu.” Karena, dalam hidup, yang bisa kita lakukan adalah menjalani takdir sebaik mungkin. Bukan berharap agar takdir itu bisa dirubah sesuai keinginan kita.


Terakhir, yang jelas film ini sangat menggugah hati nurani saya. Bukan karena filmnya  yang diangkat dari kisah nyata dan benar-benar heroik. Akan tetapi karena film ini mampu menyadarkan saya tentang satu hal; pertemanan dan persahabatan itu tidak melulu selalu mujur berjalan lurus. Ada kalanya ia menempuh jalan berliku, dan berhenti sejenak. Dan ada kalanya, hubungan pertemanan dan persahabatan itu membutuhkan perenungan yang tidak singkat!



*Maniak Film

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel