Mewujudkan Masyarakat Berbudaya dalam Berkendara


Mewujudkan Masyarakat Berbudaya dalam Berkendara

Penulis: Fayed Al-Farizi*

Yogyakarta, kembali berduka. Kejadian yang menimpa dua siswi SMP pada Sabtu (3/3/2018) kemarin, merenggut korban jiwa. Sungguh  memprihatinkan sekali. Kecelakaan naas yang di luar praduga tersebut, akhirnya bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa maut, bisa terjadi kapan saja. Oleh karena itu, prinsip kewaspadaan serta kehati-hatian dalam berkendara harus tetap kita pegang, kapanpun dan di manapun juga. Tidak peduli sedang sendiri, atau sedang bersama orang lain. Karena maut, lagi-lagi tidak pandang kondisi.

Berdasarkan data dari Dinas  Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), angka kematian karena kecelakaan, sekitar 1,5 orang setiap harinya. Dari banyaknya kecelakaan yang terjadi pada tahun 2017, korban kecelakaan dari kalangan pelajar, menempati angka tertinggi nomor dua. Tingginya angka kecelakaan yang terjadi tiap tahunnya, mengindikasikan hal tersebut masih menjadi perkerjaan rumah bersama yang belum selesai.

Makin hari, jumlah pelajar yang membawa motor kian bertambah. Hal tersebut, secara tidak lanngsung, punya dampak yang besar terhadap kecelakaan lalu lintas dewasa ini. Sering kali, para pelajar yang secara emosional belum siap berhadapan dengan kondisi jalan raya, nekat melanggar rambu lalu lintas. Entah karena dorongan euforia pergaulannya, atau untuk mencari identitas dan berkespresi ketika berada di atas kendaraan, yang jelas hal ini tidak bisa dianggap sepele.

Pasalnya, jika hal tersebut terus dibiarkan, akan semakin memperkeruh suasana serta presentase kecelakaan akan semakin meningkat. Tidak hanya itu, tindakan ugal-ugalan di jalan, tidak jarang malah merugikan orang lain. Ketimbang, si pengandara yang ugal-ugalan tadi.

Kecelakaan yang menimpa para pelajar, setahu saya, biasanya disebabkan oleh beberapa factor. Di antaranya, pertama, yaitu karena orang tua. Persoalan semacam ini terjadi, salah satu sebabnya karena orang tua tidak mengindahkan himbauan pihak sekolah. Orang tua, kerap kali lalai dan membiarkan anak-anaknya membawa motor ke sekolah atau untuk aktivitas lain. Dengan alasan, efektifitas atau tidak punya waktu untuk mengantar dan menjemput anaknya sekolah.

Kedua, parkiran tidak resmi. Maraknya tempat-tempat penitipan motor tidak resmi yang dibuka sekitar sekolah, juga menjadi kendala. Pihak sekolah, sering kali kesulitan memberikan sanksi pada siswa dan orang tua karena parkir tidak berada di dalam lingkungan sekolah. Kondisi ini diperparah karena banyak yang beralasan; “asalkan tidak membawa motor ke sekolah”. Dan lagi, “yang penting ketika sampai di gerbang sekolah, sudah berjalan kaki”.

Ketiga, yaitu acuh terhadap rambu lalu lintas. Sangat sering rambu lalu lintas sengaja dilanggar oleh para pelajar, dengan alasan mengejar waktu agar tidak terlambat ke sekolah. Ketika ada kesempatan, tidak jarang para pelajar sampai nekat menerobos lampu merah. Diakui atau tidak, kebiasaan menerobos lampu merah ini sering dicontohkan oleh orang dewasa. Karena ya, karena, kita tidak punya tradisi mengantri. Adanya tradisi saling serobot. Betul tidak?

Untuk mengupayakan agar tidak terjadi lagi kecelakan yang menimpa para pelajar, banyak hal yang bisa kita lakukan. Pertama, dimulai dengan kordinasi yang baik antara orang tua dan pihak sekolah. Orang tua tidak boleh membiarkan anak-anaknya yang belum cukup umur, leluasa untuk membawa kendaraan bermotor. Dan tidak menganggap remeh keselamatan anak-anaknya, serta menyempatkan waktu untuk mengantar dan jemput sekolah.

Kedua, pihak sekolah bisa melakukan pendekatan terhadap pihak yang dititipkan motor. Selain sebagai bentuk pemantauan, pendekatan tersebut menjadi alternatif ketika para pelajar terkadang kebal dengan sanksi. Selain itu, sekolah juga bisa melaksanakan pengembangan diri etika berlalu lintas dalam pelayanan bimbingan dan konseling, serta ekstrakurikuler. walaupun hal ini masih jarang dilakukan oleh sekolah-sekolah, tapi tidak ada salahnya jika kita coba kan?

Ketiga, membangun kerja sama antara kepolisian dengan pihak sekolah. Etika berlalu lintas yang baik, menurut hemat saya, setidaknya harus disosialisasikan pihak kepolisian di sekolah-sekolah. Upaya sinergis tersebut, juga harus didukung oleh para orang tua. Jika sudah dicoba, tinggal mengevaluasi kekurangan-kekurangan yang ada.

Keselamatan dalam berlalu lintas, merupakan tujuan paling utama yang ingin dimiliki semua pengguna transportasi. Tetapi lebih luas lagi, keselamatan berlalu lintas juga harus memperhatikan keselamatan diri sendiri dan keselamatan orang lain. Kiranya, budaya keselamatan atau safety culture kita, perlu ditingkatkan lagi demi keselamatan bersama. Agar tidak ada lagi nyawa yang hilang karena ketidakpahaman yang tidak berharga.

*Suka touring pake motor scorpio dan pecinta aspal hitam. Salam satu aspal!

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel