Menyoal Relasi Gender dalam Film “Birds of Prey”


Menyoal Relasi Gender dalam Film “Birds of Prey”

Relasi gender antara laki-laki dan perempuan bisa disimbolkan dengan apa saja. Bisa dari status jabatan, status keuangan, cara berpakaian dan pendidikan yang ditempuh. Menurut Reeves dan Baden, relasi gender adalah relasi kuasa yang hirarkis antara laki-laki dan perempuan. Dan merupakan relasi kuasa yang cenderung merugikan perempuan.

Relasi gender, nyatanya sudah merambah ke mana-mana hari ini, termasuk dalam dunia perfilman. Cara pandang dan berpikir yang patriarkis, pada seyogyanya turut mempengaruhi alur pembuatan film dewasa ini. Salah satunya yang paling dekat dengan kita adalah film Birds of Prey yang tayang beberapa waktu lalu.

Film ini, sebelum tayangnya sempat diragukan. Lantaran posternya yang terkesan terlalu alay, dan menampilkan beberapa pemerannya dalam bentuk manusia burung. Itu semua akhirnya terbantahkan ketika film ini tayang. Film yang mendapat rating 73 dari Rotten Tomatos ini, ketika ditonton memberikan pengalaman menonton film yang menakjubkan.

Dianggap sebagai film akhir dari kisahnya Harley Quinn pasca putus dengan Joker, tidak menutup kemungkinan kalau film ini menjadi awal dari kisah heroik Harley Quin selanjutnya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, kisah asmara antara Joker dan Harley tidak semulus jalan tol, tidak pula seburuk kondisi jalan yang proyeknya mangkrak. Putus- nyambung pun menjadi bumbu dari kisah asmara mereka berdua.

Joker, yang identitasnya baru terungkap akhir-akhir ini, dinilai awalnya sebagai orang yang baik dengan masa lalu yang cukup memprihatinkan. Sebelum Harley menjadi duetnya Joker, Harley sendiri adalah seorang psikolog dengan gelar P.hd. Karirnya mengharuskan ia bekerja di rumah sakit jiwa, yang selanjutnya mempertemukan dirinya dengan penjahat yang paling ditakuti di seluruh kota Gotham.

Biasanya, sudah menjadi kode etik kalau seorang psikolog memang dilarang jatuh cinta dengan pasiennya. Harley, termasuk salah satu orang yang menambah list psikolog yang melanggar kode etik tersebut. Kegilaan yang mereka lakukan, dipuncaki dengan peristiwa Harley yang memberanikan terjun di tong besar penampungan cairan kimia. Berawal dari situ, Harley menyebut dirinya mulai menjadi budak dari sang tuan, yaitu Joker sendiri.

Ikon film Birds of Prey memang Harley Quinn itu sendiri. Hal ini sebenarnya yang tidak perlu dikritik dari para penikmat film di Indonesia. Sudah sejak awal, seharusnya para penikmat film paham kalau Birds of Prey akan lebih menyorot tindak-tanduk Harley. Di samping itu, ternyata ada hal menarik yang tidak menjadi perdebatan publik para penikmat film. Yaitu soal “relasi gender” yang ada di film ini.

Dari awal film dan sampai film akan selesai, penonton disuguhkan dengan beberapa kisah yang menonjolkan inferioritas seorang perempuan. Tidak hanya Harley, para aktris yang lain digambarkan begitu rapuh ketika berhadapan dengan yang namanya laki-laki. Harley sendiri digambarkan bagai peliharaan yang ling-lung kehilangan tuannya. Hal ini sangat disadari olehnya, bahkan Harley sendiri sebenarnya sedang berjuang melawan hal tersebut.

Film ini mungkin memang ingin mengkampanyekan tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, akan tetapi, cara yang ditempuh masih bermasalah. Perempuan, nyatanya tidak serapuh itu, dan tentunya mampu survive dengan kelebihan masing-masing. Hal ini yang nantinya akan terjawab di akhir film. Paradoks memang, namun, sentimen karena sakit hati sangat mewarnai alur jalannya film.

Film yang menandai move on-nya Harley dari sang pacar, ternyata ikut menyeret beberapa kisah dari perempuan-perempuan yang lain. Bisa dibilang, kisah dari perempuan yang lain tidak kalah heroiknya. Namun lagi-lagi, mereka semua berangkat dari hal yang sama, yaitu sakit hati karena laki-laki dan akhirnya menjadi pejuang emansipasi.

Posisi perempuan dan laki-laki menjadi sangat vis a vis. Hal ini bisa terlihat di akhir film, ketika lima sekawan perempuan dikepung oleh seluruh penjahat laki-laki di kota Gotham. Tidak hanya itu, kisah kelimanya—kecuali Cassandra Cain—ditampilkan sebagai korban dari kekejaman laki-laki.

Para penonton tentunya akan merasa bagaimana tidak tahu dirinya seorang Joker yang menyia-nyiakan Harley. Harley dalam hal ini yang sudah menjadi budak cinta (bucin), dan selalu siap menjadi pelayan Joker, pada akhirnya harus menanggung pahitnya rasa putus cinta. Dampak yang dihasilkan tidak kecil. Terbukti Harley menjadi buruan seisi kota Gotham. Itu semua karena hilangnya perlindungan dari Joker.

Antara heroisme dan kerentanan, sosok Harley menjadi kompleks serta paradoks. Di satu sisi ia adalah seorang penjahat yang sebenarnya tidak bisa diragukan, namun di satu sisi dia hanya dipandang sebagai sekedar pelayan dari Joker yang laki-laki. Butuh waktu yang tidak sebentar sampai Harley akhirnya bisa berdikari—lepas dari ketergantungan Joker—dan hadir sebagai sosok yang utuh.

Begitu pula dengan kisah perempuan yang lain. Mereka digambarkan sebagai makhluk hidup yang harus bertahan dari superioritas laki-laki di sekelilingnya. Huntress misalnya, menjadi sosok perempuan yang selalu dibayangi oleh ambisi balas dendam. Lahir sebagai seorang anak mafia, Huntress harus rela melihat seisi keluarganya dibantai oleh mafia lain. Mafia yang membantai keluarganya serta para penembak, tidak bukan adalah seorang laki-laki juga.

Selanjutnya Renee Montoya. Menekuni profesi sebagai seorang detektif di kepolisian Gotham, tidak menjadikan nasibnya mujur. Renee dikisahkan sebagai perempuan yang dikhianati oleh rekannya sendiri, dan berakhir sebagai bawahan rekannya tersebut. Kecerdikan dan kualitasnya yang di atas rata-rata, pada akhirnya tidak menjadi jaminan pasti bagi karirnya. Hal ini, kembali digambarkan karena mungkin dirinya adalah seorang perempuan, dan yang lebih pantas diapresiasi justru rekan setimnya dulu yang laki-laki.

Terakhir yaitu Black Canary. Memiliki potensi suara emas yang mampu menghipnotis semua pendengar ketika bernyanyi, pada akhirnya menjadikan ia sebagai budak dari Black Mask. Dikisahkan kalau Canary adalah burung kecil peliharannya Black Mask. Canary menjadi sebatas penghibur dan seakan sudah dirantai leher dan kakinya. Terlepas nantinya ia berkhianat, toh Canary juga tidak sampai berhadapan langsung dengan Black Mask di akhir film.

Film Birds of Prey akhirnya sekedar menjadi simbol hiburan yang cukup memuaskan penonton. Pesan emansipasi yang coba ingin dihadirkan, ternyata kalah dengan glamornya aksi-aksi yang ditunjukkan oleh para perempuan itu sendiri.

Begitulah semesta Birds of Prey yang sebenarnya masih menyimpan banyak tanda tanya. Selain Harley yang dianggap menjadi lebih lunak, tentunya kita semua akan menunggu sosok Harley selanjutnya. Apakah ia menjadi sosok perempuan yang utuh, atau masih menyeret Joker di dalamnya, tergantung dari cara berpikir yang lagi-lagi patriarkis itu.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel