Menyoal Penolakan Harlah NU oleh Muhammadiyah Kauman


Menyoal Penolakan Harlah NU oleh Muhammadiyah Kauman

Perihal kondisi hubungan NU dan Muhammadiyah, memang sedang tak baik-baik saja. Sejak terbentuknya hingga sekarang, antara NU dan Muhammadiyah cuma sekedar terlihat rukun, tapi tak pernah bisa bersatu. Bisa dikata, hubungan antara kedua ormas ini memang tidak seharmonis yang kita kira. Baik NU dan Muhammadiyah, belum ada yang namanya “saling memahami” antara satu sama lain. Oleh karenanya, mau sampai kapanpun juga, NU dan Muhammadiyah ibarat kopi dan teh, yang tidak akan pernah enak untuk dicampur dalam satu wadah.

Menyorot penolakan harlah NU yang akan diadakan pada Kamis, 5 Maret 2020 bertempat di masjid Kauman nanti, ibarat sedang menyaksikan drama roman. Pasalnya, NU diibaratkan sebagai tamu yang ingin berkunjung, dan Muhammadiyah sebagai tuan rumahnya. Tamu ini, alih-alih dijamu dengan sebagaimana layaknya, malah diusir sebelum mendekati pintu masuk. Tamu ini diusir karena berbagai alasan. Salah satunya yaitu, di dalam rombongan tamu ini terdapat orang yang (dianggap) pernah membuat keributan.

Berangkat dari hal tersebut, patut jika kita membaca ulang hubungan yang terjalin antara NU dan Muhammadiyah dewasa ini. Bukan karena ingin repot-repot mendamaikan. Akan tetapi, karena pada dasarnya dua ormas ini sudah sama-sama dewasa. Dan sudah selayaknya tidak perlu ada lagi konflik yang bersifat kekanak-kanakan semacam ini.

Gesekan—yang jika tidak bisa dibilang perseteruan—antara NU dan Muhammadiyah, bukanlah hal yang baru. Ironisnya, konflik yang terjadi sering kali bermula dari faktor berbedanya kebudayaan. Mulai dari masalah tahlil, qunut, penentuan hari valentine, eh maksud saya hari pertama Ramadhan, sampai ke persoalan rokok, NU dan Muhammadiyah seakan memang tak pernah bisa akur. Anehnya lagi, konflik-konflik ini bukan malah membuat kedua ormas ini belajar dari kesalahan masa lalu, justru malah mencari celah kesalahan dari pihak yang lain.

Menanggapi surat edaran yang berisi penolakan harlah NU di masjid Kauman nanti, patut 
kalau kita bicarakan lebih lanjut. Selain menandakan keretakan hubungan antara NU dan Muhammadiyah, kejadian ini malah membawa soal tepa selira. Yang artinya, komunikasi antara kedua ormas ini terbilang cukup buruk. Terlepas ada anggapan kalau harlah NU ini akhirnya mengganggu kondusifitas umat Muhammadiyah di sana, tentu tak elok kalau kita 
cuma membincang soal akibat yang ditimbulkan.

Belajar dari Kisahnya Gus Dur dan Pak Abdul Rozak Fakhruddin

Gus Dur, sebagai orang yang pernah menjabat posisi ketua PBNU, pernah sewaktu-waktu membawa pentolan Muhammadiyah ke pondok Tebuireng, Jombang. Bukan hanya diundang untuk sekedar berkunjung, tokoh Muhammadiyah tadi malah diminta Gus Dur untuk mengimami salat tarawih di sana. Ya, kejadian ini tepat pada saat Ramadan. Dan tokoh yang diundang adalah Pak AR. Eh tapi bukan Amin Rais lho ya... AR yang dimaksud di sini adalah inisial dari Pak Abdul Rozak Fakhruddin.

Ya, beliau adalah Ketua Umum Muhammadiyah sejak tahun 1971-1990. Tokoh yang satu ini memang terkenal dekat dengan para tokoh NU, termasuk Gus Dur sendiri. Berlanjut ke kisahnya tersebut, sebelum memulai tarawih, selayaknya tamu, Pak AR pun bertanya lebih dahulu kepada jemaah yang ada. Katanya, “Ini mau tarawih pake cara NU yang 23 rakaat, atau cara Muhammadiyah yang 11 rakaat? Sontak saja jemaah yang ada diibelakang menjawab kompak, “cara NU!!!”

Mendengar permintaan dari para jemaahnya, Pak AR akhirnya mengiyakan dan memulai salat tarawih tersebut. Karena mungkin sudah kebiasaan, cara ngimami Pak AR pun lirih, pelan, dan kalem. Sehingga, baru sampai pada rakaat ke delapan, sebelum melanjutkan salat tarawihnya, Pak AR menanyakan ulang, “Apakah masih mau dilanjut dengan cara NU?”

Kompak dan penuh semangat, jemaah dibelakang pun menjawab, “Ala Muhammadiyah saja.” Pak AR pun menyetujui lagi permintaan dari para jemaahnya. Anehnya, kejadian itu tidak membuat pihak NU yang diimami oleh Pak AR menjadi tersinggung. Justru yang ada, para jemaah pun tertawa kompak. Semacam ada kebahagiaan tersendiri karena hal tersebut.

Seusai salat, Gus Dur pun berkata pada jemaah tepat di hadapan pak AR. “Baru kali ini ada sejarahnyanya NU dimuhammadiyahkan secara massal oleh seorang Muhammadiyah saja di kandang NU sendiri...”

Semua orang akhirnya terkekeh, tidak terkecuali pak AR sendiri.

Bagi saya yang tidak mengalami kejadian tersebut, secara pribadi bisa membayangkan suasana harmonis yang berlangsung. Tidak hanya itu, saya turut bisa merasakan kegembiraan yang terjadi pada malam itu. Belajar dari kisahnya Gus Dur dan Pak AR ini, bukan berarti bahwa jemaah NU lebih dewasa ketimbang jemaah Muhammadiyah (walaupun sebenarnya bisa saja seperti itu).

Namun, ada baiknya bagi jemaah NU dan Muhammadiyah yang ada di Jogja dan Kauman khususnya, bisa memetik pelajaran dari kisah tersebut. Karena sebenarnya  dari kisah tersebut kita bisa mengambil sebuah pelajaran. Bahwa, tidak ada yang perlu merasa lebih unggul baik NU dan Muhammadiyah. Selain itu, dari kisah tersebut kita juga bisa memahami makna dari yang namanya “persaudaraan”, yang terjalin antara NU dan Muhammadiyah.

Hal ini yang justru berbanding terbalik dengan kondisi penolakan harlah NU nanti. Bukan saja terkesan lebih tidak masuk akal. Dari surat edaran yang disebar, alasan mengganggu kondusifitas dan soal menjaga aset, adalah alasan yang bagi saya sungguh tidak bisa dinalar. Terlepas dari tokoh pembicara yang diundang adalah Gus Muwafiq—yang dianggap oleh para pemuda Muhammadiyah pernah menimbulkan kontroversi—alangkah baiknya kalau kita mengingat kembali kisah semacam yang dialami Pak AR tadi.

Karena, bagi saya pribadi yang memang secara kultural NU, cukup kaget dengan adanya kasus penolakan semacam ini. Menurut saya, kejadian yang semacam ini tidak akan terjadi antara NU dan Muhammadiyah, jikalau benar-benar menganggap NU dan Muhammadiyah itu bersaudara.

Selanjutnya, menyoal alasan yang dipaparkan dalam surat edaran tadi, pihak Muhammadiyah mengingkan agar tidak terjadinya gesekan antara anak bangsa. Yang justru bagi saya, dengan adanya penolakan disertai surat edaran semacam itu, malah memantik gesekan yang sebenarnya tidak diinginkan.

Terakhir, patut kalau kita memang benar-benar mencermati inti sari dari kisah Gus Dur dan Pak AR tadi. Bukan hanya soal membaik-baikkan dan melebih-lebihkan. Tapi pada nyatanya, baik Pak AR, Kiai Usman dan Kiai Azhar, yang semuanya adalah orang Muhammadiiyah, dekat dengan para tokoh NU yang ada. Dan memang dari kisah tersebut, kita bisa mengambil pelajaran kalau tidak ada yang perlu merasa lebih unggul baik NU dan Muhammadiyah sendiri.

Cukup kiranya, gesekan yang kekanak-kanakan semacam ini selesai sampai di sini. Di kemudian hari, harusnya kita malu kalau kejadian semacam ini terulang kembali. Hal ini berlaku baik bagi Muhammadiyah dan NU, ketika nanti menjadi tuan rumah dari acara yang akan diselenggarakan oleh pihak di luar internalnya. Salam tabik!!!

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel