Menikah Tak Semudah Membuat Kacang Goreng


Menikah Tak Semudah Membuat Kacang Goreng

Penulis: Mukyo Mekaryo

Data Film:

Jenis Film: Romance

Produser:   Frederica

Sutradara:  Rako Prijanto

Penulis:      Johanna Watimena

Produksi:   Falcon Pictures

Casts:        Adipati Dolken, Mawar De Jongh, Vonny Cornellya, Sari Nila, Ivan Leonardy, Clay Gribble, Sarah Sechan, Jourdy Pranata, Tubagus Ali, Ravil Prasetya, Narga Kautsar, Canti Tachril, Thalia Basir, Lili SP

Menginjak usia 22 tahun, bagi seorang perempuan, memutuskan untuk menikah dengan siapa bukanlah perkara yang mudah. Apalagi kalau belum ada calonnya, pilihannya seringkali ya hanya pasrah. Karena memang menikah bukanlah perlombaan, dan yang duluan menikah juga belum pasti menjadi pemenang.

Di umur yang segitu, perempuan harus yakin terlebih dulu ingin menjalani kehidupan selanjutnya bersama siapa. Karena ini soal menjalani kisah seumur hidup dengan orang lain. Dalam hal ini, saya juga tidak bisa menampik kalau hubungan pernikahan bisa awet dan akan terus berlanjut. Tetapi, tentu semua orang punya keinginan yang sama soal itu, karena nikah sendiri sebenarnya bukanlah urusan dua orang semata. Melainkan urusan dua keluarga dari latar belakang yang berbeda.

Menikah, tentu sebelumnya dituntut agar paham dengan segala kondisi orang yang akan menjadi pasangan hidup kita. Yang kadang kala, membuatmu bangga atas kelebihannya, atau malah membuatmu keki setengah mati karena kekurangnnya.  Dan kata orang, menikah berarti harus saling melengkapi satu sama lain, dan aku gak bisa ngebayangin gimana rasanya,  karena aku memang belum pernah ngerasain. 

Pernah kepikiran buat nanya ke orang tua "gimana rasanya nikah?", tapi malu, takut ditanya balik, "La udah pengen nikah po nduk?" kan ambyar lur.

Mengarungi bahtera rumah tangga, tentu banyak bahagianya juga ujiannya. Tanggung jawab yang semakin kompleks, adalah sebuah kepastian.  Namun kata orang, semua akan terasa ringan jika keduanya saling bergandeng tangan. Eaaakkkk... Uwwuuuw....

Film Teman tapi Menikah, yang awalnya tidak terlalu menarik bagiku,  pada akhirnya memberikan sebuah pelajaran yang berharga. Dan aku harus ngucapin terimakasih kepada seseorang yang udah nraktir nonton.

Film Teman tapi Menikah 2 merupakan kelanjutan dari film Teman tapi Menikah 1, yang diperankan oleh Adipati Dolken dan Vanesha Pricilla. Di seri kedua ini, Adipati Dolken dipasangkan dengan Mawar de Jough oleh sutradara.

Menceritakan sosok Ayudia bin Slamet alias Mawar, yang akhirnya  menerima ajakan nikah sahabatnya sendiri yaitu Ditto setelah 13 tahun.  Di sini diceritakan bahwa, sejauh apapun kamu bersahabat dengan seseorang,  ketika sudah terikat dalam pernikahan, banyak hal-hal baru yang kamu ketahui dari pasanganmu, dan kerap kali diluar ekspektasi.

Hal itu bisa jadi karena status pernikahan ini, menjadikan jiwa dua orang menjadi satu. Sehingga, batasan yang dulunya ada, hilang entah ke mana. Seperti terhapus begitu saja.
Film Teman tapi Menikah 2, menurutku adalah film edukasi pernikahan. Film ini, wajib banget ditonton buat kalian-kalian yang sudah berusia 22 tahun ke atas. Terutama untuk para cowok.

Kenapa cowok? Karena dari film ini, seorang lelaki akan diberi gambaran ketika sudah menjadi suami dari seorang perempuan. Lelaki di sini, akan memerankan sosok bapak dalam rumah tangga. Dalam film ini, lelaki ditekankan harus tahu bagaimana kondisi istri ketika hamil.

Konflik yang dibangun di film ini, adalah pada saat keadaan istri sedang hamil dan banyak maunya. Kondisi suami yang kadang tidak peka, dan komunikasi dua arah menjadi sorotan sangat penting dalam film ini.

Bagi para penonton, kalian bakalan disuguhi bagaimana beratnya menjadi seorang istri, dan bagaimana ngilunya ketika mendampingi seorang istri melahirkan.

Suami punya andil besar untuk bertanggung jawab  dengan segala keaadan istri, mulai dari saat dia hamil,  melahirkan, menyusui hingga membesarkan.  Karena janin yang ada di perut istri, anak siapa pak?  Kodok?  Bukan dong, ini adalah buah hati yang harus dijaga sepenuh hati. Untuk itu, kerjasama dan pengertian adalah hal yang penting dan paling utama.

Di samping itu suami juga harus tetap mencari nafkah demi keberlangsungan keluarga. Nah, berat toh jadi seorang suami? Hayo udah pada siap belum dengan konsekuensi yang begitu?

Untuk itu,  menikah dengan orang yang tepat adalah harapan semua orang.  Kamu tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi anak, tetapi kamu bisa memilih siapa yang akan menjadi bapak mereka bagi anakmu kelak.

Sebagai seorang perempuan, pastilah masing-masing dari kita punya kriteria, dan untuk diriku sendiri aku punya kriteria, yang tentunya sangat subjektif banget. Kira-kira berikut ini kriterianya:

Pertama, harus tahu dan paham ilmu agama serta toleran. Kenapa?  Karena sebagai muslim—karena aku pengen nyari yang seagama denganku—menikah bukan hanya sebatas penyatuan cinta, dan meneruskan generasi yang berkualitas. Tetapi juga sebuah bentuk ibadah.

Kedua, paham dan mengerti tentang gender. Buatku ini hal yang penting, karena di sini posisi istri sebagai patner akan lebih terasa. Ini juga khusus para cowok yang otaknya masih patriarkis ya...

Ketiga, tentunya udah punya pekerjaan dulu dong, dan orangnya tidak pelit. Karena kita membutuhkan penopang hidup, bukan sekedar lautan api akan aku sebrangi lho ya. Dan kenapa harus ada kata tidak pelit?  Ya karena bener-bener gasuka aja dengan orang yang pelit.  Terakhir dan yang paling utama adalah memiliki rasa sayang, komitmen dan visi misi yang sama.

Oleh karena itu, menikahlah jika sudah merasa yakin. Karena menikah tidak segampang bikin kacang goreng. Bagaimanapun jangan biarkan hatimu merana sendiri~~

Sebagi penutup, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk Mawar dan Adipati yang memerankan film ini secara totalitas, serta membangkitkan emosi penonton.

Film ini kisah nyata dari pasangan Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion.


Kader PMII Rayon Ekuilibrium

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel