Mengkampanyekan Pendidikan Seks


Mengkampanyekan Pendidikan Seks
Sumber Foto: merdeka.com

Penulis: Izzati Sholihah*

Maraknya kasus dismoralitas para siswa akhir-akhir ini, menjadi ancaman yang serius di ranah pendidikan. Kasus asusila yang terjadi di SMP Kecamatan Playen beberapa waktu lalu, menunjukkan begitu krisisnya moral para siswa sekarang ini. Kelakuan para siswa yang sudah menyimpang begitu jauh tersebut, merupakan indikator kemunduran atau degradasi bibit penerus bangsa.

Bila dinilai, kejadian dismoralitas para siswa dewasa ini, adalah salah satu faktor yang menghambat kemajuan pendidikan. Tidak jarang, kejadian menyimpang seperti itu berujung dengan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pornografi dan pornoaksi. Kendornya pengawasan oleh pihak keluarga dan sekolah, bisa jadi merupakan faktor penyebab timbulnya tindakan asusila tersebut.

Sering kali, keluarga acuh terhadap anak-anaknya, terlebih jika berbicara persoalan seks. Sangat jarang sekali dalam suatu keluarga—jika tidak bisa  dibilang tidak pernah—membicarakan soal pendidikan seks. Seks, dalam konteks keluarga Indonesia kebanyakan, dianggap sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan di dalam keluarga. Padahal semestinya, para orang tua sudah harus membekali pendidikan seks kepada anak-anaknya sejak dini.

Bukan berarti mengarahkan kepada hal yang negatif. Akan tetapi, karena pendidikan seks, sudah menjadi kebutuhan hari ini. Jika dari lingkup keluarga masih tabu untuk membicarakan seks, bisa disimpulkan bahwa ada yang bermasalah. Pasalnya, keluarga adalah gerbang awal untuk memahkan anak-anak soal seks itu sendiri.

Begitupun dengan pihak sekolah, yang sering lalai jika membicarakan tentang seks. Padahal, jika ditinjau lebih jauh, pihak sekolah mempunyai peran yang besar dalam membentuk kepribadian dan karakter siswanya. Pihak sekolah, sering kali memang lebih mementingkan kecerdasan intelektual dari siswanya, dan acuh sama sekali terhadap persoalan seks. Maka, anggapan yang terbangun, seakan-akan menggambarkan sekolah hanyalah tempat di mana anak-anak harus mematuhi semua aturan yang berlaku.

Tidak berhenti sampai di situ, penyalahgunaan teknologi juga mempengaruhi serta mendorong para siswa menjadi lebih mudah melakukan tindakan asusila ini. Internet, yang seharusnya menjadi kebutuhan para siswa dewasa ini, malah menyimpang dan sering disalahgunakan. Dengan mudahnya mengakses situs porno, hal tersebut menjadikan para siswa semakin terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. Hal ini, secara tidak langsung adalah akibat pendidikan seks masih dianggap tabu hari ini.

Saya rasa, sudah waktunya pihak keluarga mengajarkan pendidikan seks kepada anak-anaknya. Pendidikan seks, tidak layak lagi jika dipandang sebagai hal yang tabu. Pendidikan seks, akan banyak bermanfaat jika para anak sudah mendapatkannya dari keluarga, sekolah dan lingkungan yanga ada.

Nantinya, para anak akan lebih memilih dalam bergaulpergaulan yang baik. Pihak keluarga, juga diharapkan lebih mengawasi serta memperhatikan penggunaan teknologi dan pergaulan anak-anaknya. Karena, tidak jarang pula pergaulan anak menjadi hal yang sering luput dari pengawasan orang tua. Yang pasti, jangan sampai mengekang kebebasan anak, dan memang dirundingkan secara perlahan.

Selanjtunya, pihak sekolah sebagai lembaga pendidikan, seharusnya sudah lebih memperhatikan para peserta didiknya. Selain mengajarkan kecerdasan intelektual, pihak sekolah harus mengayomi dan lebih peduli lagi terhadap kondisi para siswanya. Pendidikan seks, seharusnya juga lebih dimaksimalkan di sekolah. Agar, tidak ada lagi terjadi kasus menyimpang oleh para siswa. Selain itu, pengarahan yang cerdas dalam menggunakan teknologi menjadi salah satu faktor yang tidak boleh luput dari pengawasan pihak sekolah.

Sebenarnya, bukan pekerjaan yang sulit untuk mencegah terjadinya tindakan asusila yang dilakukan para siswa, serta melindungi anak-anak dari ancaman pornografi dan porno aksi. Keluarga dan pihak sekolah, adalah tempat yang seharusnya menempa para anak dan para siswa yang cerdas dengan persoalan seks. Jika para anak sudah paham persoalan seks, ini menjadi salah satu jaminan membentuk para anak dan siswa yang cerdas serta bijak dalam arus modernisasi seperti sekarang ini.

Karena tidak bisa dipungkiri, di tengah arus globalisasi seperti sekarang ini, akses terhadapa ha apapun—termasuk soal seks dan segala macamnya—menjadi lebih mudah. Jika hal ini tidak dibarengi dengan strategi pengawasan dan penggunaan yang tepat, maka menjadi hal yang niscaya menimbulkan efek negatif nantinya. Oleh karena itu, tunggu apa lagi untuk mengkampanyekan bahwa pendidikan seks itu penting? Mau nunggu pemerintah turun tangan? Jangan mimpi!

*Pemerhati isu seksualitas dan isu anak.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel