Maraknya Berdoa Menjelang Pemilu; dari Klarifikasi sampai Politisasi


Maraknya Berdoa Menjelang Pemilu; dari Klarifikasi sampai Politisasi
Sumber Foto: ikatolik.com
Penulis: Vander S.N.
“Entah benar atau tidak, tanyakan pada ahli Bahasa. Kalaupun tak benar, tak apa juga. Karena yang penting substansi yang dikandungnya (Emha Ainun Nadjib).”
Kalimat di atas, mungkin mewakili apa yang menjadi viral baru-baru ini (baca: doanya Mbah Maimun). Kedua kubu pendukung dari masing-masing capres, ramai seketika menanggapi kejadian tersebut. Entah sebuah kebetulan atau tidak, yang jelas kata-katanya Cak Nun menjadi jawaban dari perdebatan yang terjadi antara kedua kubu pendukung.

~~~

Kata doa, sering kali disalahpahami dan dipelintir maknanya jelang pemilu akhir-akhir ini. Jika ada pepatah yang mengatakan, “Sebuah kata adalah doa”, maka momentum pemilu (mungkin juga pilkada) adalah waktu yang tepat, dan menjadi ukuran bagi masyarakat Indonesia untuk sering-sering berdoa. Baik bagi calon yang akan menjadi pemimpin dan para pendukungnya. Fenomena rutin yang harus kita hadapi setiap lima tahun sekali ini, jelas sebenarnya memuakkan bagi saya pribadi.

Doa yang seharusnya suci, penuh penghayatan dan ikut merenungi atas apa yang didoakan, berubah seketika jika dikaitkan dengan pemilu dan pilkada. Doa menjadi penuh emosi, gontok-gontokan dan sebisa mungkin harus diperlihatkan ke orang lain. Kalau orang lain tidak tahu rasanya kurnag lengkap, kurang afdol dan kurang kaffah doanya! Fenomena milenial yang serba-serbinya harus diperlihatkan ke orang lain, kalau orang lain belum tahu kita berdoa mungkin belum sah doa kita, mungkin lho ya…. Semoga enggak.

Ketika ada seorang alim ulama mendoakan seseorang, sebenarnya sebuah tradisi lama di Indonesia. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini dan lagi-lagi jika dikaitkan dengan pemilu, berubah maknanya seketika. Seakan-akan doa harus melewati dulu yang namanya “penghakiman” dari para netizen yang terhormat, dan yang gak pernah salah itu.

Entah itu perlu klarifikasi seperti yang dilakukan pendukungnya Jokowi, entah itu mempertahankan pemaknaan pribadinya seperti pendukungnya Prabowo, yang jelas doa sekarang gak mudah lagi. Harus ribet dan sebisa mungkin konsultasi dulu dengan para cebong dan kampret yang maha bijak itu.

Sebenarnya apa yang salah kalau mbah Maimun mendoakan Prabowo? Kok malah pendukung Jokowi sewot? Emang doain orang harus pilih-pilih? Sejak kapan Rasulullah ngajarin doa itu harus pilih-pilih? Apalagi alasannya mendoakan seseorang harus sesuai dengan keinginan pribadi dan kelompok? Sejak kapan berdoa harus berdasarkan kepentingan politik? Pengen banget dah nampol yang gak terima dengan doanya mbah Maimun…..

Kalau mbah Maimun mendoakan Prabowo ya wajar-wajar aja toh. Toh lagian Prabowo itu orang Islam, wong Rasulullah aja mendoakan orang yang bukan Islam dan Kafir waktu itu. Ente kok mendoakan seseorang yang seagama aja sulitnya Naudzubillah???
Emang ente pada udah yakin apa masuk surge? Jadinya gak perlu lagi doain orang lain? Bukannya konsep doa itu akan kembali kepada yang mendoakan ya? Nah loh…. Kalau emang iya, kenapa coba masih aja doain yang jelek-jelek buat calon yang bukan dukungan loe loe pada? Emang pada mau apa, doa jeleknya kembali ke diri sendiri?

Sekali lagi ya, mbah Maimun doain Prabowo itu gak salah, dasar para pendukungnya Jokowi aja yang sensi kalau ada hal-hal yang baik untuk Prabowo. Pendukungnya Prabowo juga gak usah girang-girang amat ya saya saranin, biasa aja. Mendoakan seseorang menjadi pemimpin itu gak salah, inget lho ya gak salah.

Pemimpin itu banyak maknanya, luas tafsirannya, gak sesempit yang loe loe pada kira. Siapa tahu mbah Maimun mendoakan Prabowo agar  minimal mampu memimpin dirinya sendiri, bagus-bagus untuk partainya dan segenap orang yang mendukungnya hari ini. Makanya dari awal gak usah kagetan deh ya jadi orang, baik kubunya Jokowi dan kubunya Prabowo.

Gak perlu juga klarifikasi doa dan mempolitisasinya, toh yang tahu makna aslinya justru sang pendoa sama Allah. Kita yang mendengar, melihat dan menafsirkan gak akan pernah bisa melabeli doanya seseorang. Lebih-lebih doanya kiai sekaliber Mbah Maimun, yang dalam banget ilmunya itu. Kalau memang mau mendoakan calon yang didukung ya silahkan saja, gak perlu pake klarifikasi dan politisasi segala.

Enggak semua hal itu perlu diklraifikasi dan dipolitisasi, contohnya ya kasus doa ini. Bayangin aja ibarat lho mau nembak gebetan nih ya, terus di depan loe ternyata orang tua gebetan loe itu malah doain saingan loe yang jadian sama gebetan loe itu. Nah, mosok loe mau minta klarifikasi terus lho politisasi tuh doanya orang tua gebetan loe biar doanya itu tetap ngarah ke loe? Ya gak bisa dong, suka-suka orang tua gebetan loe itu mau doain siapa.

Siapa tahu loh ya, itu malah memotivasi loe biar lebih baik lagi. Agar loe juga didoain jadian sama anaknya doi. Kalo loenya langsung terprovokasi dan marah-marah, loenya sendiri yang goblok dan auto gak bakal jadian sama doi.

~~~

Urusan terkabul dan makbulnya doa cuma Allah yang tahu dan berhak mengatur. Sebagai orang yang masih percaya Tuhan dan doa mah mendingan banyakin doanya. Gak usah ribut-ribut doa mana yang paling benar, lebih-lebih mau baku hantam. Gak pada malu apa, kalau sampai doa saja mau dimainin kayak gini? Terus apa yang mau diwarisin sama generasi selanjutnya? Cuma debat gak mutu, yang karena terlalu fanatik sama orang yang didukung?

Inget ya, mau Jokowi atau Prabowo sama-sama punya sisi baik dan jeleknya. Mereka semua punya misi dan visi masing-masing yang diusung. Kalau sampai ribut-ribut lantaran persoalan doa, mending belajar doa aja dulu bareng-bareng. Kan enak tuh litanya, kalau pendukung Jokowi dan Prabowo duduk bareng sambil berdoa. Pendukung Jokowi doain Prabowo dan pendukung Prabowo doain Jokowi, seru gak tuh ntar litanya? Seru kali ya?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel