Kita yang hanya Bermain Peran


Kita yang hanya Bermain Peran

Penulis: Marko*


Data Film



Judul: The Invisible Guest



Sutradara: Oriol Paulo


Produser: Mercendes Gamero, Adrian Guerra, Sandra Hermida, Mike Lejarza, Eneko Lizarrga, Nurlia Valls

Aktor/Aktris: Mario Casas, Ana Wagener, Jose Coronado, Barbara Lennie

Durasi: 106 menit
 

Produksi: Think Studio

Menonton film bergenre mistery, sering kali menguras tenaga saya. Film genre ini, adalah fim yang melelahkan, dan kalau bisa saya hindari. Bukan, ini bukan karena saya tidak menyukai film yang bergenre mistery. Tetapi, ketika menonton film genre ini, saya merasa membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Sekaligus membuat saya sering menahan nafas. Karena, harus sabar mengikuti alur cerita yang disajikan, serta sambil menebak-nebak akhir dari filmnya.

Hal ini pun juga terjadi setelah saya menonton film berjudul The Invisible Guest. Film yang tayang 2016 lalu ini, sudah lumayan lama berada di laptop saya. Kebiasaan menumpuk film dan menontonnya ketika sempat, menjadi salah satu kebiasaan buruk yang tidak patut ditiru. Terlepas dari itu, mari kita membahas film yang membahas tamu misterius ini.

Seperti judulnya, film ini langsung dibuka dengan adegan seorang pengacara perempuan bertandang ke salah satu kliennya, di apartemen tempat sang klien tinggal. Kliennya ini, bukanlah orang biasa, dalam tanda kutip jika diukur dari kekayaan materil yang dimiliki. Ia adalah pengusaha muda sukses, sekaligus tokoh muda yang berprestasi. Keberhasilan karirnya, ternyata tidak semulus apa yang ia bayangkan. Dan film ini memang akan mengajak kita berpetualang, menyusuri kisah hidup pengusaah muda ini.

Pengusaha muda yang diperankan oleh Adrian Doria (Mario Casas), diceritakan sebagai sosok lelaki yang lumayan temperamen. Ia sebenarnya sudah menikah dan memiliki seorang anak. Akan tetapi, ia ternyata menyelingkuhi sang istri. Perselingkuhannya ini, yang pada akhirnya merusak apa yang ia sudah bangun. Sebenarnya plot film ini sudah dimulai sejak awal film. Sang sutradara Oriol Paulo, sangat mahir saya rasa melempar umpan kepada para penonton. Ia sengaja memberi celah, agar penonton bisa terjebak oleh skenario yang sudah ia siapkan.

Sang pengacara tadi, rupanya berniat menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh Adrian. Penunjukkan pengacara ini, atas saran orang terdekat Adrian yang bernama Felix Leiva (Francesc Orella). Felix yang bisa dibilang sebagai tangan kanan Adrian, percaya bahwa sang pengacara, yang diperankan oleh Virginia Goodman ( Ana Wagener), mampu menyelasaikan kasus yang sedang dihadapi oleh Adrian.

Selain Virginia Goodman dianggap Felix sebagai pengacara terbaik seantero Spanyol, penujukkannya berhubungan karena Virgnia sebentar lagi akan pensiun menjadi pengacara. Sampai di sini, baik Adrian dan Felix, sudah merencanakan sesuatu dan sepertinya ingin bermain bersih. Entah apa maksud yang terselubung di dalamnya, yang jelas Adrian ingin membersihkan namanya dari kasus yang sedang menimpanya.

Selanjutnya, kelemahan film ini sudah terlihat juga di awal film. Pada saat Virginia menonton berita di TV milik Adrian. Dalam berita yang disiarkan tersebut, dikabarkan kalau pagi tadi, pemakaman Laura Vidal (Barbara Lennie) telah dilangsungkan. Laura Vidal adalah seorang fotografer dan seniman terkenal, sekaligus juga menjadi selingkuhan Adrian. Kelemahan yang saya maksud, Virginia, sebagai seorang pengacara langsung menunjukkan ekspresi terkejut.

Pertanyaannya, wajarkah seorang pengacara yang akan menangani sebuah kasus, dan sudah jelas kasusnya, masih kaget dengan berita yang muncul di TV? Pasalnya, Virginia akan menangani kasus Adrian yang diduga menjadi dalang pembunuhan Laura. Sampai di sini, mungkin kebanyakan penonton film ini tidak menyadari hal tersebut. Tapi bagi saya, hal tersebut menjadi satu titk kelemahan film ini. Ditambah lagi, adegan selanjutnya yang menunjukkan dialog antara Adrian dan Virginia, di mana Adrian berkata bahwa Virginia datang terlalu cepat.

Tidak berhenti sampai di situ, kalau kita jeli, Virginia lantas membalas ucapan Adrian dengan ucapan bahwa; “Tapi sekarang aku tak tahu apa yang kutahu, dan yang belum dia tahu.” Dia di sini yang dimaksud adalah Felix. Di satu sisi, ucapan Virginia memang sangat logis untuk menuju apa yang bakal terjadi selanjutnya. Tapi di sisi lain, hal ini mengandung kontradiksi dan menjadi simbol kalau Virginia sebenarnya bukanlah pengacara terbaik di Spanyol.

Apa yang saya perkirakan di awal film, akhirnya terbukti dengan saling bantah dan ancaman Virginia kepada Adrian, agar menceritakan kasusnya lebih detail lagi. Pertanyaannya lagi, semudah itukah pengusah muda terbaik takut dengan gertakan seseorang yang seharusnya menjadi malaikat penolongnya? Walaupun memang tidak diceritakan apakah Adrian sudah pernah bertemu atau belum dengan Virginia, ancaman Virginia nyatanya berhasil membuat Adrian mengikuti kemauannya, sekaligus langsung mewawancarainya.

Dengan tedeng aling-aling, Adrian pun langsung menceritakan kejadian ketika Laura terbunuh. Saya tidak akan lebih jauh menceritakan secara detail film ini. Akan tetapi, saya akan langsung loncat kepada intinya. Diceritakan, proses wawancara berlangsung agak alot. Karena ada penambahan serta penambalan di banyak tempat. Sebagaimana film mistrey pada umumnya, hal ini bagi saya sudah biasa. Namun, yang menjadi keheranan saya, sepertinya pengulangan serta revisi dalam wawancara ini, adalah hal yang disengaja.

Kecurigaan saya itu memang terjawab pada akhir film. Karena secara tidak langsung, proses wawancara yang menjadi titik tumpu film ini. Ada kelemahan lagi dalam film ini. Yaitu ketika Virginia menanyakan tentang teriakan Laura sesaat sebelum ia meninggal. Adrian yang berkelit dengan keaslian cerita, membuat arah film ini memang akan membuktikan bahwa Adrian bersalah. Hal ini selanjutnya dijadikan bumbu dari film ini, dan menguatkan penokohan sosok Virginia sebagai seorang pengacara handal.

Tapi sayangnya, hal ini seakan dibantah sendiri dengan adegan selanjutnya. Ketika kita diarahkan untuk memercayai bahwa Laura yang menjadi dalang pembunuhan. Sampai pada titik ini, keberpihakan, dan keseriusan Virginia sebenernya sedang diuji. Sosok pengacara, digambarkan sebagai sosok yang  kejam dan rela membuang hati nuraninya, ketika sedang menangani sebuah kasus. Yang menjadi lucunya lagi, ketakutan yang dirasakan Adria seakan terlalu dibuat-buat. Sama seperti alibi yang coba dibangun oleh Adrian dan Virginia nantinya.

Masih soal kelemahan film ini. Ketika sosok Laura digambarkan yang harusnya bersalah, pada akhirnya kita harus rela disuguhkan sosok Laura yang begitu lemah, dan tanpa daya untuk menutupi kebohongannya. Pertanyaan saya lagi, ketika memang ingin menutupi sebuah kebohongan, apakah pelaku akan menjadi orang yang tidak berdaya? Tentu saja tidak bukan? Terlebih mengingat, arena film ini juga memasukkan unsur kriminalitas di dalamnya.

Di satu sisi ia menjadi kontradiktif dan mengandung paradoks, tapi di sisi lain film ini juga mempunya sebuah kelebihan. Kelebihan film ini, bagi saya terletak dengan nasib akhir kedua orang tua seorang pemuda yang hilang. Yang ternyata, ia adalah korban pembunuhan juga. Korbannya siapa? Hal ini akan terjawab di akhir film, dan memang tak perlu saya sebutkan. Karena memang, di sini saya hanya ingin mengomentari film ini.

Keseruan dalam menunggu sebuah kepastian,akhirnya terbayar pada akhir film. Tapi lagi-lagi yang sangat saya sayangkan, dalam akhir film pun saya agak dibuat greget karena celah yang dibuat oleh film ini. Sosok Adrian, sebagaimana yang sudah saya jelaskan, sangat tidak mencerminkan strata sosialnya. Dengan kekayaan berlimpah, koneksi yang luas dan modal sosial lainnya, ia seakan dikerdilkan dengan peran yang sebanrnya ia mainkan dan ciptakan.

Secara logis saja, ketika sudah berada dalam kelas elit, bukan hal yang sulit bukan jika ingin menyelesaikan kasus dipengadilan? Ini kritik lebih jauh saya kepada film ini. Yang apabila sosok Adrian sedikit dibenahi, ledakan dalam plot film ini akan menjadi sangat luar biasa. Film ini, pada akhirnya mengajarkan kita soal peran yang sedang kita emban sekarang. Terakhir, film ini juga mengajak kita merenung tentang hukum yang selalu tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Walaupun saya kurang merasakan hal tersebut, tapi itulah semesta yang dikandung film ini.

Selamat menonton!

*Tukang pengepul film di laptop.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel