Kesaksianku (3)

Kesaksianku (3) 
Kuterima sebuah surat dari Ibu. Isinya, kabar kematian Kakakku, Niskala. Kak Niskala ditemukan tak bernyawa pada suatu sore, di bawah pohon rambutan oleh seorang santri kalong. Pesan Ibu dalam suratnya. Tapi isi surat itu, Ibu juga menjelaskan agar aku tak pulang ke rumah, di Subang. Ibu malah memintaku untuk pergi ke Purwakarta, ke tempat di mana dulu Kak Niskala sempat mondok selama dua tahun, sebelum akhirnya pulang, menetap dan meninggal di Subang.

Pergilah ke Purwakarta ke tempat dulu Niskala mondok. Di sana kamu akan bertemu dengan Kang Hiber, ia guru kakakmu dulu. Dengan Ibu, ia juga masih punya ikatan darah.  

***

Kang Eman, santri kepercayaan Ibu dan Bapak, Yang mengantarkan surat dari Ibu untukku. Dari wajahnya, Aku bisa melihat semacam kesedihan yang menimpa dirinya. Mungkin ia sama halnya seperti Ibu dan Bapak, merasa kehilangan Kak Niskala.

Selain Bapak, yang mengajari Kak Niskala ngaji saat masih kecil, adalah Kang Eman lah orangnya. Begitu juga dengan mengasuh Kak Niskala, menemani Kak Niskala bermain, dan orang yang dipercayai oleh Bapak mengantar-jemput Kak Niskala sekolah dulu.

***

Nirmala, teman dekatku, juga merupakan santri sepondok denganku, mengajakku berlibur ke rumahnya di Purwakarta. Kebetulan sekali ajakannya satu tujuan dengan surat Ibu. kami hanya perlu dua kali naik kendaraan umum; bus untuk sampai ke Cikampek, dan setelahnya naik angkutan umum yang langsung menghantrakan kami ke Purwakarta.

Setibanya kami di sana. Aku disambut dan diperlakukan dengan baik oleh ibu-bapaknya.di rumahnya, ibunya akan bertanya mau makan sekarang atau nanti hampir setiap setengah jam. Sementara, bapaknya, jika menjelang waktu shalat akan memberi pilihan shalat di di surau atau di rumah; pilihan yang terkesan dipaksakan hingga aku bisa menebak, tentu saja si bapak sebenarnya mengharapkan aku shalat di surau bersamanya. Perlakuan yang amat baik pada seorang tamu.

Itu semua sebab Nirmala yan bercerita pada ibu-bapaknya, kalau teman yang diajaknya adalah anak ajengan. Tentu saja menurutku itu hal yang tidak perlu, namun saat aku utarakan pendapatku, ia membela diri dengan berkata; kalau tidak kukatakan kamu anak ajengan sudah barang tentu, aku tidak diperbolehkan mengajak teman laki-laki ke rumah, sudahlah jangan merajuk lagi.

***

Pergilah ke Purwakarta, ke tempat dulu Niskala mondok. Di sana kamu akan bertemu dengan Kang Hiber, ia guru kakakmu dulu. Dengan Ibu, ia juga masih punya ikatan darah. 

Aku kembali membuka surat dari ibu, Aku nyaris melupakan tujuanku ke Purwakarta. Surat yang kubuka lagi saat berada di kamar, dan Nirmala melihatku membuka surat itu. Ia bahkan medengarku saat membacanya pelan.

“Aku tahu di mana tempat Kang Hiber”

“Kamu pernah ke sana?”

“Tentu saja, sering malah.”

“Mala, kamu gak pernah cerita sama aku, kamu pernah ke sana.”

“Kamu gak pernah nanya.”

“Berarti kamu pernah nyantri di sana?”

“Belum pernah.”

“Nah?”

“Kang Hiber teman dekatnya bapak. Ia jawara sekaligus ajengan. Aku belajar silat darinya, tapi dulu, sebelum bapak mengirimku nyantri di Karawang.”

“Antar Aku ke sana”

“Tentu. Itulah alasan aku mengajakmu berlibur kemari.”

“..?”

***

Satu waktu, ba’da ashar, Nirmala dan aku berangkat ke tempat Kang Hiber. Kami memasuki daerah pedalaman Purwakarta, yang hampir mendekati perbatasan Kota Cianjur. Kami tiba sekitar pukul sepuluh malam. Aku dan Nirmala tak diberi waktu istirahat yang cukup. Sebab, beberapa menit sesaat setelah kami tiba di tempat Kang Hiber. Aku diberi kain batik. Perintah Kang Hiber, Aku harus melepas bajuku dan hanya boleh selembarkain batik yang ia berikan. Nirmala tampak meyakinkanku. Aku menebak-nebak jika ini dimaksudkan sebagai upacara penyambutan untuk orang baru, sekaligus pembaitan untukku sebagai santri di tempat Kang Hiber. Benar saja Kang Hiber memandikanku, dan aku melihat Nirmala ketika melihatku lalu terkekeh.

***

Setiap setelah sholat maghrib kami diharuskan membaca wirid dan dilanjut dengan tadarus berjamaah, kemudian dilanjut dengan shalat isya. Setelah isya kami tidak mengaji kitab kuning seperti pondok pesantren biasanya. Kang Hiber, ajengan di pondok kami (meskipun dia tidak pernah mau dipanggil atau disamakan dengan ajengan) yang langsung memimpin kegian rutin itu.

***

Malam itu…

Kami dikumpulkan di lapangan pondok, diharuskan membaca amalan; tiga kalimat dalam bahasa arab. Kemudian kami semua bersila di lapangan, berdzikir; melafalkan kalimat tahlil sebanyak mungkin, dan tidak boleh berhenti sampai Kang Hiber memberi tanda untuk berhenti.

Dalam keadaan membaca kalimat tahlil yang diucapkan semakin banyak, semakin dalam, semakin dihayati. Seperti yang dikatakan Kang Hiber, sesaat sebelum kami memulai berdzikir: pertama, kami akan masuk dalam dimensi ‘Kosong Yang Isi’ sebagai pembuktian terhadap dunia manusia yang (dianggap) nyata. Kedua, dari dimensi kosong yang isi kami dapat melihat langsung dimensi ‘Isi Yang Kosong’, atau yang kami sebut dunia nyata.

Namun, ada beberapa dimensi berlapis yang harus kami tembus sebelum masuk ke dimensi kosong yang isi. Dimensi tiga suara: dimensi lapis pertama, bernama Nang. Dimensi lapis kedua, bernama Ning. Dan dimensi lapis ketiga, bernama Nung.

Akan tetapi, Kang Hiber juga menegaskan, bahwa manusia tidak mungkin bisa masuk ke dalam dimensi Kosong Yang Isi. Hanya manusia terdahulu saja yang mampu melakukannya. Dia juga menjelaskan, pengetahuannya tentang dimensi Kosong Yang Isi, dimensi isi yang kosong, dan tiga dimensi tiga suara: Nang-Ning-Nung. Hanya ia kuasai sebagai pengetahuan yang didapat berdasarkan pengetahuan gurunya, yang juga sama gurunya mendapat pengetahuan dari gurunya, gurunya dari guru-guru-guru-gurunya, dan seterusnya.

Guru dari guru dari guru Kang Hiber tidak ada yang pernah mencoba, atau jika ada kemungkinan mencoba, bisa disimpulkan tak pernah ada yang berhasil mencapai dimensi Kosong Yang Isi.

***

“Lantas apakah dimensi Kosong Yang Isi, dimensi Isi Yang Kosong, dan dimensi Tiga Suara itu benar-benar ada, atau hanya dongeng dari hasil imajinasi guru dari guru dari guru dari guru, Kang Hiber saja?” tanya salah seorang santri yang pada Kang Hiber

“Tentu saja ada!” Jawab Kang Hiber dengan mantapnya. “Tapi hanya orang jaman dulu, duluu..sekali, yang bisa menembus dimensi Tiga Suara dan masuk ke dimensi Kosong Yang Isi, untuk melihat dimensi Isi Yang Kosong.”

“Dulu, dulu, duluuuuu.. sekali. Dulu, yang tidak terakses oleh manusia sekarang,” menurut Kang Hiber.

Lalu Kang Hiber melanjutkan penjelasannya. Adapun fungsi dari tiga kalimat yang kami baca merupakan kalimat do’a permohonan agar hati kami dibersihkan dari segala dengki dan irihati serta senatiasa diberikan rasa tentram oleh Gusti Allah. Tentu saja, kalimat tahlil, untuk mengingatkan kami pada Gusti Allah. Tidak ada tujuan dan fungsi lain.

Setelah menjelaskan semuanya, Kang Hiber meminta agar tidak ada santri yang bertanya lagi. Sebab, jika pertanyaan terus dilontarkan tanpa mengenal berhenti, demikian pula dengan jawaban. Santri-santri mengerti, mematuhi, dan berbondong-bondong membawa tubuhku masuk ke dalam surau.
Di dalam surau Kang Hiber terus berdo’a untuk kesadaranku. Sementara, Nirmala, satu-satunya santri putri di pondok kami, tengah berusaha membangunkan tubuhku yang tidak sadar. Tiga santri lainnya, di luar surau, memandangi langit malam yang gulita.

Perasaan gelisah mereka bisa aku rasakan dari sini, terutama perasaan Nirmala, yang amat rapuh. Aku  menyaksikan dengan baik bagaimana ruh, atau mungkin jiwa Kang Hiber—yang putih bercahaya—mondar-mandir mencariku di luasnya atmosmer bumi. Sementara tubuhnya di samping badanku, di dalam surau.

Sekali, Aku lihat jiwa Kang Hiber terbang-melayang di atas bumi Mesir, Palestina, kemudian  Arab Saudi; berteriak memanggil-manggil namaku. Orang-orang yang berlalu-lalang tidak ada yang mendengar. Setiap Kang Hiber berteriak, suaranya yang keras hanya berupa hembusan angin yang kuat membelai orang-orang di sekitarnya.

Kemudian, sekali dua, karena tak menemukanku di Mesir, Palestina, dan Arab Saudi. Kang Hiber terbang-melesat kembali ke langit-langit Purwakarta. Ia berputar-putar, berhenti sejenak sambil memandang ke seluruh penjuru mata angin. Kang Hiber tak juga menemukanku.
Aku mendengar dan merasakan keputusaannya. Namun, ia tetap ingin mencoba sekali lagi. Akhirnya ia terbang menukik-melesat bak peluru membelah udara yang lebih rendah. Dan ketika berjarak dua puluh meter dengan tanah, ia berhenti seketika. Lalu berjalan turun memijaki tahap demi tahap anak tangga udara. Berlari kemudian berhenti di ambang sebuah gua.

“Apa kamu di sana!?” Tanya kang Hiber dengan membulatkan kedua telapak tangan di sekitar mulutnya.

***

Kalimat tahlil ke-998 aku merasakan diriku amat ringan. Disusul kalimat tahlil ke 999 diriku semakin ringan; aku lepas dari badan. Seperti ada sesuatu yang menghisapku ke langit malam. Aku coba melawan, kupegangi badanku yang masih bersila, sementara kakiku tertarik ke atas. Aku mencengkram badanku yang bersila diam tak tergoyahkan bagai batu.

Semakin aku berusaha masuk kembali ke dadanku, tarikan dari langit semakin kuat pula. Aku lihat Kang Hiber di depanku, “Kang Kumaha Ieu!?” Tanyaku keras pada Kang Hiber. Kang Hiber membuka matanya dan terkesiap melihatku terpisah dari badanku. Kang Hiber mengulurkan tangannya, kucoba raih tangan Kang Hiber—Tapi, tarikan dari langit tak memberiku kesempatan meraih tangan Kang Hiber—Tarikan dari langit membesutku melesat ke udara. Aku melihat Kang hiber yang berdiri melihatku, lalu berkata,”Entosan!” Dan santri-santri berhenti membaca kalimat tahlil, membuka mata dan melihat badanku yang masih bersila sambil terpejam.

Aku bisa melihat Kang Hiber, yang berusaha membangunkanku, menggoyang-goyangkan badanku. Namun badanku malah ambruk. Itu menimbulkan kekalutan di antara santri yang lain, sekaligus pertanyaan dari seorang santri. Sempat dijawab oleh Kang Hiber, tetapi tak berapa lama Kang Hiber meminta Agar santri-santri tidak bertanya lagi. Kang Hiber menyuruh tiga orang santri membawa badanku ke dalam surau.

Ekspresi wajah Nirmala berubah, ia kalut, mengikuti tiga santri yang mengangkat badanku ke dalam surau. Di dalam surau Nirmala mengaku sebagai orang yang bertanggungjawab atas keadaanku, pengakuan yang keluar dari batinnya. Ia menangis di dekat badanku yang terbaring. Aku mendengar suara pengakuan dari relung hatinya.

***

Saat ditarik ke langit aku masih bisa melihat semuanya dengan jelas, penampakan di bawah, sesuai kehendakku, yang tak ingin berpisah dari sisi Nirmala dan yang lainnya. Bahkan sedikitpun penglihatanku atas mereka tidak terganggu, berkurang, atau lenyap.

Aku terhenti di lapisan udara yang menyelubungi bumi. Entah siapa yang menarikku, memberhentikanku, dan kini membuatku melayang menghadap bumi; melihat Kang Hiber, Nirmala dan yang lainnya.

Ketika melayang dilapisan atmosfer bumi tiba-tiba Aku teringat Bapak, mataku seolah paham kehendak batinku, penglihatanku beralih ke tempat lain: pekuburan? Seperti dekat, hingga aku bisa membaca dengan jelas nama di nisan di atas sebuah kuburan Hj. AHMAD. Aku tahu itu nama bapakku. Kapan bapak meninggal?

Aku alihkan pandanganku kembali ke Purwakarta. Kembali melihat Kang Hiber dan..

***

Aku diputar-putar oleh sesuatu, yang aku tidak tahu itu apa. Aku ditarik lebih tinggi, melesat menjauhi bumi. Kepalaku terbentur batu besar, Aku sempat menutup mata, dan dapat kurasakan kepalaku membentur batu besar yang melayang. Namun entah bagaimana, kelapaku bisa jadi lebih keras, dan ketika kubuka mata. Kulihat batu besar itu telah hancur berhamburan. Pecahannya melayang-layang tanpa beban.

Aku baru teringat dengan dimensi-dimensi yang dijelaskan Kang Hiber saat masih di Bumi. Namun, Saat aku berusaha mengingat nama-nama dari dimensi-dimensi yang dijelasan Kang Hiber.

Nang..

Suara itu berdentung dengan keras tapi menenangkan.

Nang..

Kini semakin menghanyutkan.

Nang..

Membuatku membuka mata. Kupandangi seluruh bentangan tempat ini: berwarna kuning keemasan dengan sedikit kilau kuning. Aku tidak tahu ini dimana, tapi bunyi NANG memberitahuku tanpa harus berkata. Aku di dimensi lapis pertama—dimensi Nang.

Kecemasanku hilang begitu saja. Bunyi-bunyi Nang terus berdentum, membuat keadaan hatiku benar-benar tenang. Meski pikiranku teringat hal-hal di bumi; Nirmala, kematian bapak yang tidak aku ketahui kabarnya.

Kupandangi seluruh hamparan tempat ini; tak ada permulaan, ujung, tidak ada batas. Bahkan pikiran untuk mengatakan luas pun sepertinya masih terlalu kecil. Satu hal yang kurasakan—aku tak bisa melihat pintu, jendela, atau cela saat aku masuk ke dimensi ini. Mataku dipejamkan dan tak bisa terbuka, meski aku berusaha melek—kulit sekujur tubuhku dihempas suasana nyaman yang menenangkan; masuk melalui pori-pori dan secara cepat meresap hingga ke tulang.






Komlek Panggung Krapyak, 12 Maret 2020


Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel