Kayas (1)


Kayas (1)
Ilustrasi: Krisna Dwiva

Kayas merogoh celananya, jari-jari tangannya mengaruk lipatan-lipatan kulit biji pelinya. Kayas keenakan. Melalui kulit jemarinya yang bersentuhan dengan kulit burungnya itu, ia mampu merasakan betapa suasana di dalam celananya yang gelap dan lembap. Jemarinya dengan pelan menyeka Keringat yang berpadu dengan minyak di selangkannya . Dari sekaan jari-jemarinya itu pula remah-remah hitam-bau berguguran. Ia tahu itu apa. Daki.

Dalam posisi duduk seperti sekarang ini. Ia melipatgandakan sensasi garukan di selangkannya. Kayas menggaruk dengan kedua tangannya setelah sebelumnya hanya menggunakan  tangan kirinya saja. Matanya merem-melek. Sesekali, selain menyeka-nyeka sela-sela paha dan biji burungnya. Jari-jari Kayas dengan tekiti mengelus-elus bulu jembutnya yang rimba. Pertemuan antara tangan dan jembut inilah yang menghasilkan guguran jembut kriting di celananya. Bila telah puas menusap jembut atau setidaknya,tidak ia dapati lagi jembut yang rontok. Kayas akan berdiri untuk sesaat, mengibig-gibrigkan celananya perlahan, lalu berjingkat-jingkat hingga ditemukannya semua jembut di permukaan tanah. 

Kayas akan mengumpulkan suwir demi suwir jembutnya yang tergelatak tanpa nyawa. Menghimpunnya menjadi satu kumpulan jembut dan memasukannya ke dalam toples kaca bekas selai nanas yang ia pungut dari keranjang sampah di kolong jembatan, tak jauh dari rumah kardusnya yang super minimalis.

Kayas sumringah dengan jumlah jembut di toplesnya yang dari hari ke hari kian bertambah. Ia memutar balik toples kaca di tangannya, mengira-ngira jumlah jembutnya sekitar delapan ribu, atau mungkin sepuluh ribu-an. Ya sekitar itulah. Untuk apa jembut-jembut itu dikumpulkan? Kayas sendiri tak tahu tujuannya, tapi ia menyukainya, ia senang bisa melihat sesuatu yang pernah melekat pada tubuhnya terkumpul dalam satu tempat dan masih dalam jangkauannya.

***

Sebelumnya. Dalam arti “sebelumnya” yang tak Kayas ingat lagi, entah dua, tiga, atau empat tahun lalu. Kayas tak begini; gelandangan yang tinggal di rumah kardus, di bawah kolong jembatan, seberang jalan tol. Kehidupan layak, bahkan mewah, jauh lebih dulu Kayas rasakan. Meski sebetulnya Kayas tidak mau mengingat-ingat lagi kehidupan lamanya itu. Kayas selalu berusaha melupakan masa lalunya dengan cara tidur dan berharap terbangun  dalam keadaan bukan dirinya. Atau paling tidak, jika ia bisa memilih sebelum dilahirkan, ia akan memilih terlahir sebagai gembel, tanpa ikatan dengan asal-usul keluarga Ayah dan Ibunya.

Ia benci Ayahnya yang gagah, tampan, dan selalu sibuk. Juga ibunya, yang cantik, mencintai kemewahan, anti kemiskinan, yang juga sama-sama sibuk seperti Ayahnya. 

Suatu malam, pada sebuah perayaan ulang tahun Ibunya, di rumah. Kayas mengurung diri di kamar. Mbok Yati, pembantunya, berulang kali mengetuk pintu kamar Kayas, meminta Kayas agar mau turun dan ikut di tengah-tengah perayaan pesta ulang tahun ibunya. Kayas bergeming, permintaan ikut pesta ulang tahun bukan tulus permintaan Ibu atau pun Ayahya. Kayas tahu, teman-teman ibunya, atau paling tidak teman-teman bapaknyalah yang mengiginkan Kayas. Ayah dan Ibu tak pernah benar-benar mengaharapkan kehadiran kayas, pikir Kayas. Bahkan sempat terlintas dalam pikiran Kayas, kehadirannya di dunia pun bukan takdir, melainkan kecelakaan.

Tuhan salah alamat mengirim diri, jiwa bernama Kayas ini ke dalam rahim perempuan yang tengah sibuk pamer kemewahan di Pesta pada teman-temannya itu, Kayas membatin. Siapa yang harus bertanggung jawab, pada siapa aku harus menuntut? Tuhan? Jelas tidak. Mana mungkin mengadu pada sesuatu yang membuatnya keliru sejak di dunia. 

Tetapi sangkaan buruk Kayas pada Tuhan hanya berlalu begitu saja. Kemungkinan lainnya yang terlintas adalah, Ayah dan Ibunya memang tidak pernah mengiginkan anak. Tetapi (mungkin) kondom Ayah bocor saat bercinta dengan Ibu. Kemungkinan yang lebih masuk di akal bagi Kayas—walaupun ia sendiri merasa pikiran semacam ini hanya timbul dari luapan kejengkelannya—dibanding berburuk sangka pada sesuatu yang tidak bisa ia lihat. Tuhan.

Intinya dalam kesendiriannya di  kamar, Kayas merasakan puncak dimana dirinya tidak diinginkan samasekali oleh orang tuanya. Ia merasa, bahwa dirinya hanya dianggap ‘keterlanjuran belaka’; terlanjur dikandung, terlanjur lahir jadi anak, ya, sudah besarkan saja, Kayas membatin dengan dada yang semakin bergejolak. 

Kepalanya semakin pusing oleh pikiran-pikiran seputar Ayah dan Ibunya; kok bisa, kok bisa. Baiklah, aku akan membuktikan pada diriku sendiri, untuk membuat diriku sendiri bangga pada diriku. Mulai malam ini dan selamanya aku takkan hidup dengan sesuatu apapun dari Ayah dan Ibu. Arkh.., mereka bukan Ayah dan Ibuku lagi, tekad Kayas dalam batinnya.

Pembuktian pertama, Kayas lepas semua baju dan celana yang melekat di badannya termasuk kaos kutang dan celana dalamnya, seraya memaki-maki “kaos dari Ibu dan celana dari Ayah! Makan tuh.”
Selain baju dan celana, tentu saja rumah di mana sekarang ia tinggal, harus ia tinggalkan.
Akhirnya, lewat jendela kamarnya Kayas keluar dari rumah terbesar di komplek itu, atau bahkan di kota ini. Keluar dari semua ikatan hidup atas nama kepunyaan Ayah dan Ibunya. 

Di tengah jalan ia berdiri, sejenak menoleh melihat rumah besar tempatnya semula tinggal. Matanya berkaca-kaca, tapi tetap ia tahan, ia tak boleh berat melepas semuanya. Meskipun Kayas tak tahu harus ke mana selanjutnya pergi.       

***

Waktu terasa beputar begitu cepat. Dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benang pun melekat di badannya. Membuat Kayas semakin gusar, sementara matahari dua jam lagi terbit. Kayas, dalam kebingungannya mencari tempat tujuan, berjalan malam dini hari itu. Sebisa mungkin ia menghindari cahaya lampu, berlindung dipelukan kegelapan. 

Beruntung jalan yang dilaluinya sudah sepi, nyaris tak ada kendaraan lewat. Kayas mengendap-endap, bila jalan yang dilauinya terlihat terang ia akan bergerak seperti curut, mencari pojok-pojok gelap. Berdiam diri sebentar sambil melihati suasana sekitarnya. Jika dirasa sudah aman Kayas kembali bergerak seperti curut. 

Sekitar satu jam Kayas berlari-mengendap-endap. Ia tiba di sebuah jembatan, ia memandang ke bawah jembatan dan ia tahu bahwa jalan besar di bawah jembatan, yang dilaui mobil-mobil tanpa henti itu, adalah jalan Tol. Gerbang Tolnya pun Kayas tahu, sebab di dekat gerbang Tollah rumahnya berada. 

Namun bukan jalan Tol yang sebetulnya ingin dilihati oleh Kayas, melainkan kolong jembatannya. Kayas meloncati tembok jembatan yang  tingginya sepantar dengan tubuhnya. Di bawah kolong jembatan yang gelap, Kayas menemukan sebuah ruang kecil menjorok ke dalam tembok pondasi jebatan. Dalam pikiran Kayas timbul ide; ia akan tinggal di ruang kecil itu, untuk sementara atau pun selamanya.

Kayas meraba-raba lantai ruang kecil dan gelap itu. Pikirnya, takut jika ada sesuatu yang berpotensi melukai badannya; entah beling, paku, atau binatang seperti kalajengking.
Tak ada tanda bahaya, ucapnya. Tapi ketika Kayas masuk ke dalam ruang itu, ada sesuatu yang ia temukan; kemeja dan celana laki-laki dewasa. 

Tak perlu berpikir panjang Kayas langsung memakai pakaian itu. Memang itu yang dibutuhkannya. Kayas duduk menekuk kedua tututnya, memandang hamparan jalan Tol dan mobil-mobil yang berlalu lalang di antaranya.
***

Adzan shubuh berkumandang. Tanpa disadari sejak semula duduk di ruang kolong jembatan, Kayas menghitung setiap mobil yang lewat. Tidak semuanya terhitung; mobil dengan laju cepat tak terkejar oleh pandangannya, dibiarkan tak masuk dalam hitungan. Kayas terus menghitung sedapat matanya menangkap mobil lewat. Lima ratus dua puluh lima total jumlah mobil yang ia hitung. Kayas tersenyum, matanya terasa berat, dan ia tertidur.

***

Jika kemeja dan celana yang dikenakannya kotor Kayas mencuci kain pelindung tubuh itu di pipa besi yang tak jauh dari rumah kardusnya. Kayas menemukan bocoran kecil di pipa itu kala ia kebelet pengin berak dan mencari air untuk cebok. Air yang keluar dari boccoran pipa itu memang tak terlalu besar, kendati demikian airnya cukup konsisten keluar. 

Namun hari ini Kayas tidak mencuci kemeja dan celananya. Baru dua minggu, belum satu bulan, Kayas mengendus-ngendus kemeja dan celana yang dikenakannya.
Dan jika sudah pusing tak menemukan jawaban. Kayas akan berbaring, mengganjal kepalanya dengan bantal berupa karung beras, yang telah ia isi dengan botol plastik bekas.
Kayas mulai membuka resleting celananya yang macet. Namun resleting itu tetap tak mau terbuka, akhirnya, Kayas memelorotkan celananya hingga lutut. 

Ia memain-mainkan burungnya. Mengusap-usap batang burung itu hingga nampak membesar. “Burung, ayo main” Kata Kayas pada burungnya. 

Si burung menggeliat lalu mengacung tegak. “Nah, betul, gitu dong. Nurut,” puji Kayas pada si burung yang tak lain kemaluan/kontolnya sendiri. 

Saat si burung keras dan urat-uratnya dirasa makin timbul, Kayas makin menggila. Dengan tangan kanannya yang kumal, pertama Kayas memegangi burungnya. Kemudian ia kocok burungnya, gerakan kocokan ke atas ke bawah itu Kayas namai ‘teknik tarik ulur layangan’. Tarikan nafas kayas kian memburu, aliran darah di sekujur tubuhnya serasa mengalir deras. 

***

Satu malam yang gelap. Kayas tengah berpikir tentang hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan kecil muncul di kepalanya; soal nasib dan masa depannya kelak. Namun pertanyaan yang membuatnya benar-benar pusing adalah soal kondisi Ayah dan Ibunya. Tiba-tiba saja Kayas terkenang mereka. Meski Kayas benci pada kedua orang tuanya, tapi entah mengapa, malam itu timbul rasa ingin bertemu dengan Ayah dan Ibunya.

“Tidak bisa” Kayas segera mengusir bayangan wajah Ayah-Ibunya yang sempat terlintas di kepala.
Berkali-kali Kayas mengeleng-gelengkan kepalanya, dan saat ia berhenti menggeleng—ia melihat sesuatu di seberang. Jalan Tol. Sebuah mobil mewah menepi, ia tak asing dengan warna mobil itu; hitam. Betul itu mobil Ayahnya, sebelumnya Kayas coba memastikan. Ia melihat bagian belakang mobil T4T4I4N “ya ini plat nomor mobil Ayah. Tapi untuk apa?” Kayas jongkok di belakang sambil menerka-nerka tujuan Ayahnya menepi tepat di arah depan rumah kardusnya. 

“Jangan-jangan untuk mengajakku pulang. Tidak, aku tidak akan mau” dalam hati Kayas timbul pertanyaan dan jawaban. Kayas mengintip melalui kaca belakang mobil.

***

“Uuhh..ahh.. mantap..!” Kayas melengkuh keenakan. Kenikmatan tiada tara, nyawanya serasa di ujung ubun-ubun. Sesaat ia terhenti, nafasnya makin berat, dan kakinya keram. Ia ingin sampai pada puncak kenikmatan, tapi tidak dengan cara yang cepat. Tangannya masih memegangi burungnya, yang menegang seolah menantang langit-langit kolong jembatan itu. 

“Sekali cairan keruh-kental keluar, berakhir sudah,” gumam Kayas yang tengah terbaring.




Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel