Kalau Aku NU dan Kamu Muhammadiyah, Terus Kenapa?


Kalau Aku NU dan Kamu Muhammadiyah, Terus Kenapa?

Belajar dari rasa pahitnya ketika ditolak, saya rasa Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas yang paling paham soal itu. Mulai dari ditolaknya tulisan di suatu media, ditolaknya niat baik ingin memacari seseorang, sampai kepada ditolak ketika ingin melamar seseorang, eh maksud saya pekerjaan, belum sebanding dengan penolakan yang diterima oleh NU saya kira. Ya, ormas satu ini belum lama ditolak di kandangnya Muhammadiyah. Tepatnya di daerah Kauman, Yogyakarta.

Penolakan ini bukanlah tanpa sebab. Pasalnya, NU ingin ngadain harlah justru di jantung markasnya Muhammadiyah. Yak betul sekali, rencana awalnya harlah tersebut akan dilaksanakan di masjid Kauman, masjid miliknya keraton. Sontak saja umat Muhammadiyah di sana keberatan dong. Ya masa’ mau ngadain harlah di sana, kayak gak ada tempat lain.

Selain belum jelas tujuannya harlah NU diadakan di sana, pihak Muhammadiyah menganggap kalau harlah NU bakal mengganggu kondusifitas yang ada. Nah kan, harusnya NU juga paham kalau ingin bertamu harus ngerti tata-krama. Bukan saja itu, kalau ingin bertamu memang seharusnya mengabari lebih dulu.

Saya kira, ini memang kesalahannya NU yang komunikasinya kurang baik. Sudah menjadi rahasia umum kalau di internal NU, komunikasi adalah masalah yang tak kunjung selesai. Boro-boro mau bangun komunikasi sama yang di luar, untuk komunikasi internal harusnya dibenahi dulu dong...

Gesekan yang terjadi antara NU dan Muhammadiyah baru-baru ini, bisa diibaratkan gesekan adik-kakak. Yang satu sama lain ingin saling dihormati. Niat awalnya NU yang ingin mengadakan harlah di kandang Muhammadiyah ini, saya anggap adalah bentuk keinginan menjalin silaturhami kepada sang kakak.

Ya, oleh orang NU, Muhammadiyah memang sering disebut sebagai saudara tua. Tidak hanya itu, terkadang NU juga menyebut Muhammadiyah dengan sebutan organisasi “sebelah” ataupun “tetangga”. Hampir mirip sedikit-sedikit dengan PMII dan HMI sih. Cuma bedanya, hubungan antara adik dan kakak yang satu ini (NU&Muhammadiyah), tidak sesederhana hubungannya PMII dan HMI.

Satu waktu, NU bisa terlihat sangat dekat dengan Muhammadiyah. Di waktu yang lain, bisa dianggap kalau NU dan Muhammadiyah jauh sekali.
Misalanya saja, pada zaman orde baru, terjadi kecanggungan antara orang-orang NU dan Muhammadiyah. Lantaran, orang-orang NU dinilai tidak menjadi bagian dari gerbongnya Pak Harto kala itu.

Sedangkan Muhammadiyah, bisa disebut sebagai anak kesayangan, yang dibesarkan dan dirawat seperti anak orde baru sendiri, eh eh maksudnya harmonis gitu sama Pak Harto.
Tapi lucunya, kita akan sulit menemukan keganjalan semacam ini jika di forum di mana NU dan Muhammadiyah duduk bareng. Pasti selalu saja, baik petinggi NU dan Muhammadiyah mengatakan kalau hubungan NU dan Muhammadiyah baik-baik saja. Tidak ada persaingan yang sifatnya menjatuhkan satu sama lain.

Tapi ya tapi sih, apa betul demikian? Emangnya kenapa kalau aku NU dan kamu Muhammadiyah? Toh kita sama-sama Islam. Tidak peduli suku dan alumni mana, intinya ya satu, sama-sama Islam kannnn..

Masalahnya, sudah menjadi rahasia umum kalau NU dan Muhammadiyah itu memang gak harmonis. Dan nampaknya hal ini perlu kita tanyakan pada NU Garis Lucu dan Muhammadiyah Garis Lucu. Karena, dua kelompok inilah yang paling merepresentasikan baik wajah NU dan Muhammadiyah yang paling santuy.

Walaupun berasal dari rahim yang sama, yaitu Islam yang moderat dan InsyaAllah rahmatan lil alamin, orientasi NU dan Muhammadiyah dalam melihat sesuatu tidak mesti selalu sama.

Sebelum-sebelumnya, NU dan Muhammadiyah memang belum lama terhitung duduk dalam satu forum yang sama. Terhitung dari sejak didirikan, NU dan Muhammadiyah baru bisa duduk bareng pada Desember 1996.

Kumpulnya NU dan Muhammadiyah yang diwakili Gus Dur dan Amin Rais, sampai menjadi pemberitaan yang trending. Pasalnya, orang yang hadir dalam acara itu disebut-sebut melebihi penonton bola di liga Indonesia. Ini artinya, NU dan Muhammadiyah memang jarang tatap muka secara langsung, sebagai dua organisasi yang mengaku bersaudara.


Kondisi sekarang seperti apa?

Sejak diedarkannya surat penolakan harlah NU di masjid Kauman, saya rasa ada semacam kondisi gerah antara dua organisasi ini. Lantaran, kondisi yang sebelumnya canggung, menjadi tambah kikuk sekarang ini.

Patut kita simak nantinya pernyataan sikap dari dua pimpinan organisasi. Bukan saja untuk mengklarifikasi, tapi sebagai rekam jejak di kemudian hari. Yang kalau nih kalau, ada gesekan lagi, kita hanya perlu menghayati dan berujar dalam hati; “Yo opo sih ribut melulu.”

Cukup sekian bacot dari saya, yang jelas, mau kamu NU dan Muhammadiyah, cobalah untuk saling menghargai. Bukan hanya sekedar di ucapan, tapi juga di perbuatan. Katanya mau sama-sama lawan HTI? Kok ya malah ribut-ribut sendiri?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel