Hak yang Harus Kita Rebut!


Hak yang Harus Kita Rebut!

Penulis: Indra Rusnady*

Identitas buku

Judul: Difabel Merebut Bilik Suara; Kontribusi Gerakan Difabilitas dalam Pemilu Indonesia

Penulis: M. Joni Yulianto, dkk.

Penerbit: SIGAB

Tahun: Maret, 2015

Halaman: v-xii+184

Bilik suara, adalah istilah politik yang mencerminkan langskap terkecil dari proses politk itu sendiri. Bilik suara, selanjutnya tidak bisa diartikan hanya sekadar ruangan yang menyekat kerahasisan pilihan seseorang, ataupun dinding dan kotak yang menjaga kita dari pengaruh politik yang datang dari luar. Kontribusi setiap pemilih dalam momentum politik, salah satunya diukur dari bilik suara ini. Yang pada akhirnya, bilik suara punya efek yang tidak  kecil dalam memengaruhi kondisi politik di kemudian hari.

Buku yang berjudul Difabel Merebut Bilik Suara; Kontribusi Gerakan Difabilitas dalam Pemilu Indonesia, adalah salah satu buku yang memperbincangkan efek bilik suara dalam lanskap politik di Indonesia. Buku ini, adalah buku yang menyajikan data serta fakta di lapangan terkait orang-orang difabel yang hak politknya dikebiri. Dikebiri karena perbedaan yang mereka miliki, dan karena anggapan bahwa mereka adalah orang yang tidak mampu memikirkan politik.

Lebih jauhnya, buku ini adalah sumbangan kepada kemanusiaan kita yang belum sepenuhnya mengakomodir kepentingan dan hak dari para orang difabel. Buku ini, bukan hanya menjadi pengantar untuk kita yang belum akrab dengan wacana disabilitas. Akan tetapi, menjadi semacam pedoman dalam meluruskan perspektif kita tentang difabel. Karena selama ini, bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, difabel masih diartikan sebagai penyandang cacat. Padahal, difabel sangat jauh berbeda dengan “cacat.” Dan sangat tidak pantas disamakan.

Perspektif disabilitas, bukan hanya masih asing di telinga kebanyakan dari kita. Akan tetapi, juga masih menjadi momok yang menyedihkan. Karena, kebanyakan dari kita belum siap menerima perbedaan yang melekat pada diri orang-orang difabel. Judul buku ini, secara tidak langsung punya makna yang penting bagi difabel itu sendiri, khususnya dalam menjelaskan wacana gerakan difabel yang semakin menunjukkan taringnya sekarang.

Dipilihnya kata merebut ketimbang menjangkau, bisa dianggap sebagai sebuah tujuan besar yang harus diwujudkan oleh gerakan difabel dewasa ini. Bisa diartikan, gerakan difabel hari ini tidak cukup sekadar menjangkau politik elektoral yang ada. Namun juga harus mampu memengaruhi kultur politik di Indonesia yang belum inklusi ini. Yang disadari atau tidak, iklim politik yang ada sekarang, belum punya keberpihakan kepada teman-teman difabel.

Pemilu, adalah ruang dan sekaligus momentum yang memang perlu direbut oleh difabel. Tidak hanya agar orang difabel diakui keberadaannya, tetapi juga agar menyadarkan dan merubah iklim politik kita yang masih jauh dari kata “adil” ini. Untuk mengubah praktik pemilu yang ada, memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia akan menjadi hal yang panjang dan melelahkan. Sekaligus juga menuntut pengorbanan yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, menjadi angin segar bagi wacana politik kontemporer kita, setelah dengan adanya buku ini. Mengapa bisa begitu? Pasalnya, percikan pemikiran dan rekomendesadi yang ada di dalam buku ini, telah melalui tahap yang terbilang tidak singkat. Belum lagi pengalaman penulisnya yang mendapat stigma negatif dari para penindas yang ada. Hal ini kemudian yang menjadikan buku ini sebagai potret indah di tengah kesemrawutan politik kita.

Buku ini, dibagi menjadi empat bagian besar. Yang terdiri dari pendahuluan, refleksi teoritik dan pengalaman lapangan, studi kasus, dan tindak lanjut atau rekomendasi bagi gerakan difabel ke depannya. Tidak tanggung-tanggung, buku ini adalah buku yang menampar wajah politik kita yang membosankan ini. Tidak hanya itu, buku ini menjadi semacam gada pemukul untuk menghantam wacana Normalisme serta Bapakisme yang masih melekat pada kita.

Demikian, secara sederhana pesan yang ingin diungkap dalam buku ini. Selanjutnya, buku ini juga merefleksikan gerakan difabel dalam mengawal pemilu kita sejak pascareformasi sampai dengan sekarang. Jika kita, bangsa Indonesia, mengaku sebagai bangsa yang besar dan sedang menuju pendewasaan dalam banyak hal, tentu menjadi hal yang fatal jika buku ini tidak masuk dalam hitungan. Bukan saja menjadi sebuah lelucon yang sangat jelas dipertontonkan, namun juga berakhir sebagai bentuk ketidakwarasan kita dalam hal politik.

Pekerjaan rumah bagi gerakan difabel sendiri, bisa dianalogikan sebagai sebuah bangunan di tengah badai. Yang mencoba bertahan walau terlihat rapuh. Yang mencoba bertahan walau diremehkan. Dan yang mencoba bertahan walaupun diangggap sebagai hal yang mustahil. Tapi tidak mengapa. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, buku ini adalah simbol dari mimpi nyata yang pasti bisa terwujud di kemudian hari. Yang mana ia menjadi pemantik untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang ingklusi dan mampu menerima perbedaan yang ada.

Kepada para pembaca yang akan membaca buku ini, ia menjadi obat rangsang yang tepat untuk memancing libido keingitahuan kita terkait difabel dan wacana disabilitas itu sendiri. Apa yang diharapkan dari penulis yang ada di buku ini, saya kira tidak akan berakhir menjadi sekedar mimpi sia-sia. Apalagi menjadi sekedar tumpukan kertas yang tak terpakai. Karena saya sendiri percaya, itikad kuat dan baik dari para penulis buku ini, akan berbuah manis di kemudian hari.

Terakhir, buku ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan. Mulai dari para politisi, akademisi, sampai kepada pembaca umum. Dengan melihat cara penilaian kita terhadap difabel, yang masih saja terkesan merugikan. Buku ini, layak jika dikategorikan sebagai buku yang memperkuat serta mempertajam pandangan kita, untuk melihat sebuah kebutuhan tidak hanya dari satu arah. Tapi juga melalui cara pandang dan kebutuhan yang memang menjadi hak teman-teman difabel. Akhirnya, silahkan baca buku ini, agar kita mampu menciptakan kehidupan yang inklusi!

*Pemerhati isu disabilitas

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel