Gerbong Intelektual dan Perjuangan Demokrasi


Gerbong Intelektual dan Perjuangan Demokrasi

Data buku

Judul: Demokrasi dan Toleransi dalam Represi Orde Baru

Penulis: Virdika Rizky Utama

Penerbit: PT Kanisius

Tahun: 2018

Halaman: iv-xii+184

Siapa hari ini yang tidak kenal Virdika Rizky Utama? Ya, namanya melambung tinggi setelah buku keduanya terbit. Buku tersebut, yang tidak lain tidak bukan, berjudul Menjerat Gus Dur. Setelah buku itu hadir ke permukaan, euforia dan antusias tinggi, tak luput diseret olehnya. Perhatian publik, khususnya jamaah Nahdlatul Ulama (NU), langsung terpusat kepadanya. Secara tidak langsung, Virdi, sapaan akrabnya, langsung didaulat menjadi bagian NU, sekaligus dibaiat menjadi warga NU kultural.

Tapi siapa sangka, perjalanan intelektualnya, bagi saya juga tidak terlepas dari buku yang pertama kali dtulis olenhnya. Yang menurut hemat saya, turut mengantarkan Virdi untuk membongkar rahasia yang sekian lama disimpan oleh elit kita. Tulisan ini, akan mengulas buku pertamanya tersebut, yang berjudul Demokrasi dan Toleransi dalam Represi Orde Baru.

Buku yang terbit bertepatan dengan momen 20 tahunnya Reformasi ini, mengajak kita untuk kembali merenungkan makna demokrasi. Ketika kondisi politik elektoral semakin mengeruhkan wajah demokrasi kita, maka buku ini mencoba melawan hal itu. Dengan berangkat dari sejarah yang ada, buku ini sekaligus bekerja mengembalikan demokrasi pada ruang dan waktu yang seharusnya.

Tidak berhenti sampai di situ, buku ini juga menyoroti serta membahas kondisi demokrasi Indonesia, tepat ketika rezim Orde Baru berada di ujung kekuasaannya. Kondisi demokrasi yang waktu itu sedang tidak baik-baik saja, saya anggap yang mendasari pembahasan dari buku ini.

Buku ini, berbeda dengan kebanyakan buku lain yang membahas soal demokrasi di Indonesia. Jika pada buku yang lain, demokrasi di Indonesia lebih diulas dengan perspektif yang luas dan kompleks, pembahasan demokrasi di buku ini, adalah kebalikannya. Lebih jauhnya lagi, demokrasi dibedah secara mendalam dan lebih fokus terhadap Forum Demokrasi.

Ada sebuah frasa yang mengatakan, tidak pernah ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Begitu juga dengan kondisi demokrasi Indonesia saat ini. Demokrasi yang salah satu syaratnya menjamin kebebasan berpendapat dan menjamin hak hidup manusia, dimanfaatkan segelintir pihak untuk mengancam situasi demokrasi (hlm, iv). Dari ungkapan tersebut, Virdi secara tidak langsung mengajak kita untuk tetap semangat, dalam menjaga yang namanya demokrasi dan pluralitas.

Selanjutnya, hegemoni adalah kata kunci dari buku ini. Konsepsi hegemoni, tidak hanya diungkap untuk menelisik aktivitas politik yang dilakukan Orde Baru, dalam rangka melanggengkan kekuasaan. Akan tetapi, juga dalam merumuskan pergolakan pemikiran yang ada pada waktu itu. “Pada saat hegemoni telah memilih jalan yang lebih santun, demokrasi pun tidak ubahnya gagasan yang tidak lagi memiliki “musuh Bersama” (common enemy) untuk disemaikan” (hlm, x).

Demokrasi di Indonesia, sebagaimana yang diungkap oleh Virdi, selalu mengalami yang namanya pasang surut. Sejarah mencatat, ancaman terhadap demokrasi Indonesia mulai tampak saat pemilihan presiden (pilpres) 2014 yang membangkitkan kampanye Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA). Pada 1950-an sampai 1960-an, kondisi seperti ini sudah terjadi. Masyarakat terpecah, sentiment SARA menguat, politik aliran dijalankan hingga akhirnya terjadi pembunuhan massal.

Lantas, bagiamana hak hidup dan peran minoritas? Pada konteks, bermasyarakat dan bernegara, hal ini tentu menjadi sebuah ancaman serius bagi Indonesia. Karena Indonesia terlanjur lahir sebagai bangsa yang heterogen. Sementara itu, kekuasaan bila bertemu dengan agama selalu menjadi sebuah kekuatan mengerikan. Kemudian, yang terjadi adalah mayorkrasi, dan bukan demokrasi.

Membaca tuntas buku ini, akan membawa kita untuk melihat bagaimana Orde Baru amat gandrung dengan “Demokrasi Pancasila”-nya. Ketika hal tersebut berlangsung, peran Forum Demokrasi sangat kentara diungkap di buku ini. Dan bagi pembaca yang ada, bersiaplah akan dibawa merasakan sensasi ketika melawan rezim diktator semacam Orde Baru. Melalui buku ini pula, kita akan mengetahui prinsip mayoritas yang ingin selalu berkuasa, tidak bukan adalah kerjaannya Orde Baru. Yang sampai hari ini, masih bisa kita rasakan efeknya.

Oleh sebab itu, selain sebuah pengingat untuk mengenang Forum Demokrasi, buku ini juga turut andil dalam mewujudkan sebuah masyarakat yang terbuka, yang mampu menjadi kekuatan pengontrol dalam jalannya pemerintahan. Selain itu, buku ini juga mendorong rakyat yang ada, untuk mengembalikan fungsi organisasi sosial-politik, agar kembali sehat seperti yang seharusnya. Bukan semacam yang sekarang, ketika organisasi yang ada, lebih banyak melakukan praktik jual-dagang sapi dalam politik.

Hal yang paling utama yang coba dikembangkan dalam buku ini, yakni soal bagaimana kita melihat pluralisme ide. Hal tersebut, yang kemudian menjadi pertanda baik untuk kita sebagai pengawal demokrasi, untuk terus menjaga agar demokrasi tetap ada. Sekaligus juga bisa sebagai kesempatan, untuk menuangkan ide-ide kita ke dalam demokrasi yang ada saat ini.

Ketika hari ini institusi-institusi yang ada belum merupakan forum (yang mencerminkan) demokrasi, saya rasa perlu untuk kita membaca buku ini. Walaupun buku ini bersifat sebagai pengantar untuk memahami demokrasi itu sendiri, namun tak ada salahnya saya kira. Karena buku ini, bisa diibaratkan pupuk yang menyuburkan cita-cita kita soal demokrasi.

Kemerdekaan adalah sebuah asasi dasar manusia. Oleh karena itu, saya  pribadi juga sangat sepakat ketika Forum Demokrasi menganggap kemerdekaan dan demokrasi, merupakan sebuah dwi-tunggal yang tidak dapat dipisahkan. Sebab, demokrasi sendiri selayaknya akan selalu menjunjung asas egaliter.

Di tengah situasi sosial dan politik seperti sekarang ini, yang begitu riuh pasca terbukanya keran demokratisasi, kita pun terkadang dikejutkan oleh feniomena-fenomena yang sama sekali mengingkari nurani demokrasi. Pada saat muncul istilah “reformasi dikorupsi”, tentu kita bersama ingin menghendaki lahirnya tatanan sosial-politik yang terbuka, transparan dan modern. Bukan malah disuguhkan dengan data yang berasal dari pemerintah, yang sudah penuh dengan manipulasi.

Pada saat demokrasi berbicara tentang kesejahteraan, nyatanya kita masih saja selalu didikte oleh kabar tentang mereka yang masih saja terbelakang, terpinggirkan, dan kehilangan sumber penghidupan yang layak.  Oleh sebab itu, perjuangan untuk mencapai sebuah tatanan kebebasan dan keterbukaan, adalah perjuangan yang tak ada matinya. Dari mana itu semua bermula? Tidak lain adalah juga dari demokrasi saya kira.

Pemikiran Forum Demokrasi, yang tertuang dalam buku ini, akan masih sangat relevan kita baca. Ketika melihat, sektarian yang masih terasa, dan bisa dibilang semakin menguat. Perjuangan Forum Demokrasi, seperti yang bisa kita baca dalam buku ini, saya kira dapat menjadi sebuah refleksi untuk intelektual Indonesia saat ini. Yang bisa dibilang, tak banyak melakukan apa-apa, di tengah maraknya situasi sektarianisme.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel