Gerakan Mahasiswa yang Inkonsisten

Gerakan Mahasiswa yang Inkonsisten
Sumber Foto: floreseditorial.com
Penulis: Kakak Reformasi

Salah satu respon dan kritik utama terhadap “gerakan mahasiswa” dewasa ini, terletak pada inkonsistensinya. Kritik ini karena ketidakmampuan gerakan mahasiswa menjelaskan dimensi perubahan yang terjadi di setiap fase zaman. Selain itu, gerakan mahasiswa dewasa ini seakan gagap dalam merespon realitas yang ada. Terbukti, peran gerakan mahasiswa dalam memengaruhi sebuah kebijakan semakin minim. Baik itu lingkup terkecil yaitu kampus, sampai pada tataran yang bersifat nasional.

Tulisan berikut ini, dimaksudkan untuk memberikan respon terhadap gerakan mahasiswa dengan mengajukan semacam rekonstruksi ringkas. Yang memungkinkan kita secara teoritik dan praktik, menemukan apa yang kurang dari gerakan mahasiswa sekarang ini. Harapannya, tulisan ini mampu memantik untuk mengobarkan kembali api semangat yang seharusnya dimiliki oleh gerakan mahasiswa.

Gerakan Mahasiswa tanpa Emansipasi?

Sekian banyak elemen di luar gerakan mahasiswa, sering kali memosisikan kehadiran gerakan mahasiswa sebagai media alternatif atau batu loncatan. Dalam konteks perjuangan, mahasiswa adalah salah satu kelas yang hanya menjadi sekedar penyambung lidah rakyat. Oleh karena itu, kita memang harus membedakan dulu perjuangan yang sifatnya primordial dan perjuangan yang bersifat publik.

Dalil utamanya adalah, tidak ada organisasi mahasiswa manapun yang terlepas dari kepentingan primordial dan sektoral. Hal ini kita harus akui bersama, karena setiap organisasi mahasiswa yang ada, lahir dan berawal dari kepentingan yang bermacam-macam. PMII salah satunya. Organisasi ini niat awal didirikannya adalah untuk mewadahai serta mengakomodir mahasiswa-mahasiswa Nahdlatul Ulama. Perkembangan selanjutnya, PMII ternyata mampu terbuka dan tidak menolak terhadap yang namanya sebuah perubahan.

Hal tersebut terbukti dengan semakin banyaknya kader PMII yang tidak berlatar belakang Nahdiyin. Meski begitu, kepentingan PMII nyatanya juga terkadang tidak bisa lepas dari ormas yang membidani lahirnya PMII. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah. Akan tetapi, apakah dengan begitu PMII akan selalu mengekor terhadap kepentingan yang ada di atasnya? Saya rasa tidak dan seharunya memang tidak.

Kembali pada persoalan gerakan mahasiswa, saya rasa masalah yang sedang dihadapai sungguh tidak sederhana. Bukan saja kondisi terkini yang menuntut mahasiswa untuk berakselerasi, namun juga menuntut gerakan mahasiswa untuk terus bertransformasi dan menyesuaikan kondisi yang ada. Oleh karenanya, beban yang diterima oleh mahasiswa sekarang ini, bisa dibilang lebih berat dari yang pernah ada.

Dengan itu, gerakan mahasiswa secara tidak langsung dituntut mempunyai kedaualtan yang spesifik. Baik dalam hal politik, pikiran dan gerakan. Tesis ini yang kemudian seharusnya kita pakai dalam melihat arah perjuangan selanjutnya. Karena mau diakui atau tidak, gerakan mahasiswa adalah sekedar alat dalam menciptakan suatu perubahan. Soal proses perubahan dan hasilnya seperti apa, itu beda hal.

Menanggapi hal tersebut, sifat emanispasi lah yang seharusnya diperlukan oleh gerakan mahasiswa dewasa ini. Emansipasi yang tidak lagi terbatas pada sekat-sekat primordial dan sektoral, dan yang sering kali meguntungkan kepentingan sebagian golongan. Artinya, gerakan mahasiswa memang sudah harus berpikir secara luas. Agar persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan—yang secara tidak langsung menjadi target perjuangan gerakan mahasiswa—mampu terlaksana.

Kedaulatan dan emansipatif ini, adalah hal yang sering luput dalam pembacaan gerakan mahasiswa. Baik itu targetan jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam sudut pandang pada umumnya, setidaknya gerakan mahasiswa memang harus memiliki kerangka ideal. Akan tetapi, ideal sendiri sebenarnya bersifat relatif. Hingga, tidak bisa dipungkiri terjadi sebuah perubahan yang sangat amat cepat di tubuh gerakan mahasiswa.

Sebagaimana yang kita amini bersama, kedaultan dan emansipatif tentunya hal yang tidak bisa dipisahkan, apalagi malah dipertentangkan. Di sinilah karakter gerakan mahasiswa akan teruji sesungguhnya. Selanjutnya, analisis gerakan mahasiswa seharusnya tidak melupakan dua hal ini. Karena, sifat ini berimplikasi nantinya pada corak dan warna yang akan ditorehkan oleh gerakan mahasiswa itu sendiri.

Namun demikian, sudahkah kiranya gerakan mahasiswa hari ini memiliki kedaulatan secara penuh, dan bersifat emansipatif? Kembali lagi, setidaknya kita harus memngakui bahwa gerakan mahasiswa kurang secara detail menawarkan sebuah kerangka perubahan. Yang sering terjadi, gerakan mahasiswa hanya ngotot ingin melakukan sebuah perubahan, tanpa pernah mau memikirkan proses perubahan tersebut.

Gerakan mahasiswa dan Revolusi Pemikiran.

Industrialisasi pada ranah pendidikan, secara tidak langsung juga menghancurkan gerakan mahasiswa. Biaya kuliah yang semakin mahal, serta sistem perngajaran yang tidak mengalami perubahan secara signifikan, adalah dua hal yang menjadi problem saat ini. Sejak pasca Reformasi, sering muncul yang namanya euforia dalam hal memaknai gerakan mahasiswa. Semacam romantisme yang memabukkan, dan candu bagi mantan aktivis yang ada.

Kondisi yang demikian, secara tidak langsung ikut mengerdilkan dan menganggap remeh gerakan mahasiswa dewasa ini. Hal ini tentu bukanlah hal yang aneh. Dalam iklim Indonesia, hal ini menjadi pertanda kalau setiap orang—dalam hal ini mantan aktivis—memang bersifat ingin selalu diakui dan dipuja layaknya dewa. Padahal, masa keemasan mereka sudah berakhir, dan yang terjadi mereka-mereka itu bisa kita anggap sebagai sebuah fosil. Yang artinya, sebuah fosil tidaklah layak mengomentari hal yang terbaru.

Oke, mungkin terkesan curhatan. Akan tetapi, saya akan mengarahkan pada yang namanya “urgensi” di tubuh gerakan mahasiswa. Ibarat bom waktu, gerakan mahasiswa sekarang ini adalah bom yang sudah dijinakkan. Entah dijinakkan oleh apa dan siapa, saya tidak perlu menjawab. Yang terpenting adalah, gerakan mahasiswa perlu yang namanya sebuah revolusi. Revolusi yang tidak hanya sebatas diucapkan oleh aktivis yang turun ke jalanan, namun revolusi permanen yang seharusnya menubuh.

Revolusi yang saya maksud adalah revolusi pemikiran. Pemikiran, sebagai elemen fundamental, dianggap akan mampu mendorong kesetaraan dalam partisipasi pihak yang terlibat dalam gerakan mahasiswa. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah, kita akan menemukan adanya kekhususan yang bermula dari sebuah pemikiran. Ekspresi dalam setiap elemeen di dalam gerakan mahasiswa, bisa berbeda-beda. Akan tetapi, jika sudah ada basis pemikiran yang spesifik, maka hasil yang akan dituju akan sama.

Hal ini, selain untuk mengantisipasi “oportunisme” dalam tubuh gerakan mahasiswa, juga untuk meradikalisasi setiap tujuan perjuangan yang ada. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, ketika mahasiswa hari ini dituntut berakselerasi, maka revolusi pemikiran menjadi hal yang niscaya. Agar dalih yang melemahkan gerakan mahasiswa bisa ditampik dan dibuang jauh-jauh dalam keranjang sampah.

Dengan demikian, perlu adanya perampingan di tubuh gerakan mahasiswa yang selama ini mengalami obesitas. Relasi antara gerakan mahasiswa dan realitas yang ada, seharusnya bisa lebih diperhatikan. Agar obesitas semacam kemandulan dalam gerakan dan tumpulnya gerakan mahasiswa di wilayah pemikiran, dapat segera diatasi.

Terakhir, implikasi dari inkonsistensi gerakan mahasiswa yang sering mengaburkan ranah perjuangan, setidaknya bisa kita periksa ulang. Hal tersebut sangat krusial karena pada akhirnya menentukan siapa dan apakah itu gerakan mahasiswa? Dan untuk membedakannya dari aktor-aktor individual yang mayoritas bersifat oportunis.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel