Fenomena Poligami dan Poligaminya Rasulullah SAW


Fenomena Poligami dan Poligaminya Rasulullah SAW

Penulis: Tata Mutaba’ah*


Poligami, adalah sebuah istilah untuk menamakan pernikahan seorang lelaki atau perempuan yang memiliki lebih dari satu pasangan. Secara tidak langsung, poligami adalah anonim dari monogami. Berdasarkan buku yang berjudul Perempuan karya Pak Quraish Shihab, poligami sudah dikenal oleh masyarakat sejak lama. Dalam perjanjian lama, disebutkan bahwa Nabi Sulaiman mempunyai 700 istri dari kalangan bangsawan, dan 300 istri dari kalangan selir (Perjanjian Lama, Raja-Raja I-11-14).


Istilah poligami tidak hanya dikenal di daerah Timur Tengah terutama Arab saja, namun juga dari Bangsa Ibrani dan Sisilia, yang kemudian melahirkan sebagian besar bangsa Rusia, Polandia dan sebagian bangsa Jerman, Inggris, Belanda, Swiss, Belgia, Denmark, Norwegia  dan Swedia. Jadi, poligami sendiri bukanlah budaya Islam, meskipun dalam kitab suci agama Islam mengaturnya.


Dalam kitab perjanjian baru, tidak disebutkan pelarangan poligami. Bahkan, dalam perjanjian lama poligami ini dibenarkan. Termasuk pernyataan dari Martin Luther King yang merupakan pendiri protestan, bersikap cukup toleran terhadap poligami. Dengan alasan, bahwa Tuhan sendiri tidak melarang tindakan poligami. Bahkan lebih mendukung poligami daripada perceraian. Akan tetapi, King secara pribadi lebih menganjurkan monogami. Poligami, menurutnya hanya dapat dilakukan jika ada kondisi tertentu tanpa merugikan pihak manapun.


Di agama Kristen, pernah membenarkan tindakan poligami guna melancarkan penyebaran agama Kristenmisi kristenisasidi suku-suku Afrika hitam. Jika di suku-suku tersebut poligami dilarang, maka konsekuensinya akan menghambat penyebaran agama Kristen. Lantas, bagaimana dengan pendapat bahwa poligami adalah bentuk hegemoni dan penindasan laki-laki terhadap perempuan ?


Menurut Pak Quraish Shihab, poligami tidak sepenuhnya benar disebut sebagai bentuk hegemoni, dan penindasan laki-laki terhadap perempuan. Karena, sejarah umat manusia juga pernah mengenal dan membenarkan adanya poliandri (perempuan memiliki lebih dari satu suami).


Will Durrant, yang merupakan sejarawan Amerika dalam bukunya The Lesson Of History, menyebutkan bahwa di Tibet menjadi lokasi maraknya poliandri. Dan hal tersebut terjadi bukan karena adanya dominasi perempuan atas laki-laki. Akan tetapi, lebih disebabkan karena kondisi perempuan di Barat yang kurang baik pada abad pertengahan.


Jadi, poligami sendiri tidak sepenuhnya tepat jika dikaitkan dengan adanya dominasi kekuasan laki-laki atas perempuan. Di dalam kitab suci Al-Qur’an, poligami juga tidak dilarang oleh Tuhan seperti yang tertera dalam Q.S An-Nisa Ayat 3 yang artinya :


Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan (yatim), maka nikahilah apa yang kamu senangi dari perempuan-perempuan lain: dua-dua, tiga-tiga, atau empat-empat. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat dari tidak berbuat aniaya.”


Ayat tersebut, turun berkaitan dengan sikap sebagian pemelihara anak yatim perempuan yang ingin mereka nikahi. Lantaran menginginkan hartanya dan tidak bisa berbuat adil. Secara redaksional, poligami hanya diperbolehkan kepada mereka yang memelihara perempuan yatim.


Namun, pada jaman Rasulullah SAW. ada sahabat yang melakukan poligami tetapi ia tidak memelihara perempuan anak yatim. Rasulullah SAW. pun membiarkan hal tersebut dan tidak menegurnya. Artinya, beliau menyetujui ada sahabat yang tidak memelihara anak yatim perempuan,  tetapi melakukan poligami. Dalam sunah, hal tersebut dikatakan sebagai sunah Taqririyah. Yang artinya, suatu perbuatan atau ucapan yang dilakukan oleh para sahabat yang mana Rasulullah SAW tidak melarang atau menyetujui hal tersebut dilakukan.


Kemudian kata khiftum, biasa diartikan takut yang juga dapat berarti mengetahui. Menunjukkan bahwa siapa saja yang yakin dan menduga keras tidak dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya, maka ia tidak diperkenankan untuk melakukan poligami. Takut berbeda dengan cemas, takut adalah reaksi atas dugaan yang kemungkinan terjadi dan sudah diketahui sebelumnya. Termasuk orang yang ragu akan bersikap adil. Menurut ayat di atas, tidak diijinkan untuk melakukan poligami.


Ayat di atas juga menggunakan kata tuqshitu dan ta’dilu, yang keduanya diterjemahkan berlaku adil. Ada ulama yang mempersamakan maknanya, dan ada juga yang membedakannya dengan berkata bahwa tuqshitu adalah berlaku adil antara dua orang atau lebih, atau keadilan yang menjadikan keduanya senang.


Sedangkan ta’dilu, adalah berlaku baik terhadap orang lain atau diri sendiri, tapi keadilan tersebut bisa saja tidak menyenangkan salah satu pihak. Jika makna kedua ini dipahami, itu berarti, izin berpoligami hanya diberikan kepada mereka yang menduga, bahwa langkahnya itu dia harapkan dapat menyenangkan semua istri yang dinikahinya. Jadi itulah sebabnya ketika mau melakukan poligami, suami harus meminta ridho (kerelaan) dari istri sebelumnya.


Di bukunya Pak Quraish Shihab juga disebutkan, dalam ayat tersebut terdapat Huruf Wau yang diartikan atau bukan dan. Kalau diartikan dan maka boleh menikahi 9 bahkan 18 perempuan. Padahal maksimal poligami adalah 4 perempuan. Karena Rasulullah SAW. pernah menegur sahabat Ghilan Ibnu Umayyah Ats-Tsaqafi yang ketika itu memiliki 10 istri, agar mencukupkan 4 saja dan menceraikan yang lainnya.


Dalam Q.S. An Nisa tersebut menyatakan bahwa, maka nikahilah apa yang kamu senangi bukan siapa yang kamu senangi. Ada tafsiran ulama-ulama terdahulu yang bias, bahwa apa yang ditujukan ke perempuan, adalah menunjukkan kepada objek atau barang yang tidak berakal.


Berbeda lagi dengan tafsiran ulama yang progresif, bahwa apa yang kamu senangi adalah menunjuk kepada sesuatu yang ada pada perempuan. Bisa kepada sifat, keadaan dan kondisi perempan tersebut. Kalau siapa yang kamu senangi, berarti menunjuk kepada apa yang tampak pada perempuan tersebut. Misalnya siapa orangnya, anaknya siapa, dan siapa namanya.


Jika dikaitkan dengan fenomena tentang poligami yang ada saat ini,, alibi  pelaku poligami sering mengatakan poligami adalah syariat islam, sesuai dengan anjuran pada firman Tuhan dan sunah Rasulullah SAW. Ya, memang dalam Al- Qur’an terdapat ayat poligami. Akan tetapi, tidaklah benar jika poligami disebutkan sebagai budaya Islam apalagi syariat.


Berkaitan dengan sunah Rasul, seharusnya orang yang mau berpoligami sebelumnya membaca sejarah bagaimana praktik poligami yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau bermonogami selama hampir 28 tahun dengan Sayyidah Khadijah pada pernikahan yang pertama. Kemudian, setelah Sayyidah Khadijah ra wafat, selang hampir 2 tahun beliau baru menikahi Aisyah ra dan berpoligami. Semua istrinya adalah janda yang suaminya meninggal ketika berperang, dan ada yang sebagai tawanan perang.


Jika dihitung, berapa lama Rasulullah SAW berpoligami, jauh lebih sebentar dibandingkan beliau bermonogami. Jadi kenapa masih beralibi bahwa poligami adalah sunnah Rasulullah SAW? Padahal Rasulullah SAW lebih lama bermonogami?


Kalau mau mengikuti sunnah Rasul, ya jangan setengah-setengah. Tidak elok kalau membawa-bawa sunnah Rasul hanya untuk menutupi libido seks. Dan perlu diingat, bahwa Rasulullah menikahi janda-janda tawanan perang yang menjadi single mom, kecuali sayyidah Aisyah ra. Bukan para gadis yang jauh lebih muda daripada istri yang sebelumnya yaa…


Terakhir, yang harus dipertimbangkan ketika mau berpoligami adalah, masalah psikososial perempuan dan anak. Tidak sedikit poligami menimbulkan peperangan antar istri bahkan anak-anaknya akibat kecemburuan. Terror istri pertama ke istri kedua, anak istri pertama ke anak istri kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Jadi, poligami bukan hanya sekedar memikirkan aku dan kamu dan istri sebelumnya, tapi juga memikirkan anak-anak. Bersikap adil tidak hanya kepada istri, tetapi juga kepada anak.


Ada keadilan yang tidak bisa diukur secara materi berwujud finansial, jatah tidur, jatah bulanan. Tapi juga soal mawaddah atau keadilan memberikan kasih sayang. Bahkan, Rasulullah SAW saja yang manusia pilihan terlahir dari Nur yang mulia, tidak mampu bersikap adil dalam satu hal. Yaitu mahabbah atau cinta karena hanya Tuhan, yang dapat membolak-balikkan hati seseorang.


*Penulis adalah perempuan berkerudung sorban.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel