Etnografi Bukan Hanya Milik “Antropolog”


Etnografi Bukan Hanya Milik “Antropolog”
Sumber Foto: IG Marjin Kiri

Penulis: Ahmad Aprianto*

Identitas Buku

Judul: Catatan dari Lapangan: Esai-esai Refleksi Etnografis Bidang Sosial Budaya Mahasiswa Indonesia di Leiden

Editor: Wijayanto, Sudarmoko, Ade Jaya Suryani, Nor Ismah, Nurenzia Yanuar

Penerjemah: Wijayanto, Nurenzia Yanuar, Nazarudin

Penerbit: Marjin Kiri

Cetakan: November, 2019

Tebal: i-xliv+271

Buku Catatan dari Lapangan: Esai-esai Refeleksi Etnografis Bidang Sosial Budaya Mahasiswa Indonesia di Leiden, lahir dari sebuah keinginan untuk mengumpulkan pengalaman penelitian mahasiswa doktoral yang kuliah di Belanda. Buku ini hadir dari kerja sama yang melibatkan beberapa institusi, dan secara tidak langsung menjadi bukti kerja sama antara Indonesia dan Belanda.

Menggunakan bahasa yang ringan dan enak dibaca, buku ini menjadi pembeda dari buku-buku panduan soal metodologi riset yang biasanya sangat teoritis. Buku setebal 271 halaman ini, layak disandingkan bersama buku karya Marvin Harris yang berjudul Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir: Menjawab Teka-Teki Kebudayaan. Jika buku Harris adalah buku antropologi yang cocok dibaca semua kalangan, maka buku ini adalah buku yang menghantarkan orang untuk memahami apa itu etnografi dan antropologi.

Apa yang diuraikan dalam buku ini, tidak berisi teori yang melangit tentang apa itu etnografi. Tidak pula berisi daftar apa yang harus dilakukan antropolog ketika terjun ke lapangan. Buku ini jauh dari hal-hal yang sudah banyak kita jumpai dari buku metode penelitian lainnya. Tidak pula berisi kutipan para pakar yang mengisahkan kepintaran dan kehebatan mereka. Namun buku ini berisi tulisan yang berkeringat, berdarah, dan berair mata hasil endapan kerja selama bertahun-tahun (hlm xiii).

Inilah keistimewaan buku ini. Ia berisi kisah yang dituturkan dengan kejujuran dan kerendahan hati, dan tak jarang agak terlalu jujur, tentang betapa dalam kerja riset pasti akan selalu terbentur dengan yang namanya hambatan dan kesulitan.

Jika saja ada nominasi buku curhatan terbaik dan paling berbobot, maka buku ini pantas menjadi juara pertama. Terkendala karena kesibukan masing-masing para penulisnya, menjadikan buku ini harus melewati fase yang panjang sampai bisa utuh, sebagaimana yang bisa kita baca seperti sekarang.

Dari segi tema tulisan, 19 tulisan yang ada di buku ini dikelompokkan menjadi lima tema besar, yaitu: kajian media, kajian Islam, kajian bahasa, kajian seni dan sastra, dan kajiaan sosial-budaya. Dari semua tema tersebut, sudah menggambarkan bahwa buku ini adalah buku yang variatif dari segi pembahasan, dan multidisipliner dari segi akademik.

Bagian pertama buku ini membahas tentang politik, media dan kewarganegaraan di Indonesia. Dalam bagian pertama buku, kita akan menemukan bahwa politk uang masih berlaku di negara kita. Selain itu, bagian pertama juga memuat tulisan yang mungkin tak akan kita jumpai di buku metodologi mana pun, yaitu bahwa bermimpi tentang subjek riset adalah hal tak terhindarkan dari penelitian lapangan.

Bagian kedua berisi catatan etnografi dalam kajian Islam dan hukum di Indonesia. Bagian ini diawali dengan tulisan tentang pengalaman antropolog perempuan yang meneliti ulama perempuan yang ada di Jawa. Lalu disambung dengan penelitian tentang perpindahan agama masyarakat Baduy dari Sunda Wiwitan ke Islam dan Kristen.

Bagian ketiga membuat buku ini semakin menarik. Di bagian ketiga ini, kita akan menemukan pengalaman tentang penelitian yang meneliti bahasa-bahasa daerah, dari bahasa yang minoritas, sampai dengan bahasa yang hampir punah.

Bagian ini memberi informasi baru bahwa, pelestarian bahasa daerah harus tetap dilakukan. Bagaimanapun juga, bahasa daerah adalah aset kekayaan yang dimiliki bangsa kita, selaku bangsa yang paling banyak suku dan pulaunya. Penguasaan bahasa daerah, akhirnya menjadi sama penting dengan penguasaan bahasa Indonesia

Selanjutnya, bagian keempat buku ini akan menghantarkan kita pada sebuah fakta kekayaan literasi yang dimiliki bangsa kita, terkhusus bidang seni dan sastra. Kekayaan literasi tidak bisa lagi kita anggap sebagai sesuatu yang remeh. Dari realitas yang terjadi di lapangan, menunjukkan bahwa kekayaan literasi yang kita miliki, sudah sama pentingnnya dengan kekayaan yang lain.

Bagian kelima, menjadi penutup buku dengan sangat baik. Di bagian penutup ini, membahas soal refleksi lapangan dari kajian sejarah dan antropologi Indonesia. Bagian ini, mengungkap bukti-bukti kuat yang memuat ingatan soal historiografi tokoh di ingatan masyarakat kita. Mitos dan dongeng, dikupas secara lebih teliti dalam bagian ini. Pada akhirnya, dilema soal keterlibatan dan keberpihakan peneliti dengan subjek penelitiannya, menjadi hal yang sulit untuk dihindari.

Dari buku ini kita bisa mengambil sebuah pelajaran, bahwa apapun yang menjadi kesalahan di masa lalu, tidak lantas bisa menghakimi masa depan nantinya. Penjajahan yang pernah Indonesia alami, tidak lantas membuat orang Indonesia menjadi lebih inferior ketimbang orang Belanda. Bahkan, orang Indonesia nyatanya bisa bekerja sama dengan orang Belanda, dan melahirkan sebuah karya penting. Hal ini mengindikasikan, kalau sebenarnya kedudukan orang Indonesia sudah setara dengan orang-orang Belanda dalam hal intelektual.

Kelebihan buku ini terletak pada sifatnya yang deskriptif. Buku ini juga mengkonfirmasi bahwa, etnografi tidak lagi menjadi sebuah metode yang hanya menjadi milik antropolog. Namun sudah bisa dipakai dalam banyak disiplin keilmuan. Buku ini layak dibaca bagi mahasiswa yang baru menempuh atau punya niatan melanjutkan studi doktoral. Selain itu, buku ini juga sangat relevan dibaca oleh khalayak umum, karena memperkaya cara pandang dan penilaian kita terhadap setiap fenomena yang terjadi.

*Penggemar wacana Antropologi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel