Dilan dan Rindu yang Tertinggal


Dilan dan Rindu yang Tertinggal
Sumber Foto: wattpad.com

Penulis: Fareed Anam

Rindu itu berat, kamu gak akan kuat, biar aku saja. Lha piye gak berat, kalau rindunya sama pacar orang. Lha, kalau yang terakhir pacaran pas masih SD, gimana dong? Tapi tidak apa-apa buat Dilan, itu menjadi pengecualian. Kalian jangan. Apalagi para jomblo. Jangan sok ke-Dilan-Dilanan. Ups, bukan menghina ya, cuma sekedar menyarankan.

Setelah meroketnya quote Dilan tersebut, para anak muda jadi serba salah. Serba salahnya gimana? Ya pokoknya serba salah deh.

Lha piye, kalo buat quote sedikit dibilang demam Dilan. Padahal, nonton filmnya juga belom. Boro-boro mau nonton, bayangin nontonnya udah ngenes banget pas keadaan lagi jomblo. Udah sabar aja, mungkin belum saatnya kamu merindu mblo, bisa jadi malah ada orang lain yang merindukanmu. Ya semoga saja.

Demam Dilan hampir menjamah seluruh Nusantara. Dari bocah SMP sampai orang-orang angkatan 70-an, rela berbondong-bondong untuk menonton film yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq tersebut. Sayangnya, seperti suudzon saya, kepopuleran yang begitu cepat jarang sekali bertahan lama.

Coba bandingkan dengan kisahnya "Fred dan Lorraine Stobaugh: Rindu Teramat Dalam", yang pernah tembus di Top 10 iTunes Amerika waktu itu. Fred mencoba menceritakan rindunya kepada sang istri yang sudah meninggal lewat sebuah lirik lagu. Bedanya, cerita cinta Fred berlangsung selama tujuh puluh lima tahun. Sedangkan Dilan sama Milea, gak ada sampai setahun. Duh duh, tapi tetep, Dilan masuk pengecualian ya di sini. Poin pentingnya lagi, Fred enggak bikin quote kayak Dilan ya.

Skip. Balik lagi dengan kepopuleran Dilan. Sungguh sepi rasanya kalo ternyata rindu yang katanya berat, tidak ketahuan sedang berada di mana sekarang. Doakan saja rindunya Dilan balik lagi, biar kita terbiasa dengan yang berat-berat. Hehe

Saya coba mengingat-ingat kronologi peristiwa kenapa Dilan menjadi booming dan terus diperbincangkan di banyak tempat. Dan mari kita mencoba menjawabnya.

Kepopuleran Dilan, ternyata menyentuh banyak aspek kehidupan, mulai dari geng motor, orang tua, para guru sampe penjual somay di pinggir jalan. Harus diakui, kalau Dilan patut dipuji, karena menjadi obat penawar disaat negara kita sedang semrawut waktu itu.

Bermacam-macam kasus turut memperkeruh keadaan, mulai dari kasus Rizieq Shihab yang terancam tiga kasus hokum, sampai kasus yang gak penting-penting amat seperti bendera merah-putih bertuliskan huruf Arab. Padahal, kalau mau dikroscek, Indonesia memang punya relasi yang baik dengan negeri Arab sejak Sukarno jadi presiden. Jadi wajar saja kalau Arab ingin hubungan baik tersebut tetap terjaga. Caranya? Ya lewat bendera tadi itu. Hidup terus, panjang umur persaudaraan.

Boomingnya Dilan, nyatanya juga memberi dampak negatif. Hal tersebut juga saya rasakan, tapi bukan karena saya overdosis Dilan ya. Dampak negatif yang saya maksud, semakin banyak teman dekat saya yang men-Dilan-kan diri ketika sedang dibully. Kan gak asik banget, acara pembullyan gak berjalan lancar gara-gara Dilan. Dasar Dilan kw! Hufft.

Contohnya, ada temen deket saya yang bernama Steven (nama samaran), rambutnya gondrong. Dia pernah berkata kalau rambutnya baru akan dipotong lebaran nanti, eh ternyata rambutnya dipotong ketika Dilan masih booming.

Orang-orang yang mengenalnya lantas pangling kan. Setelah tahu kalo itu Steven, temen-temen yang lain gak mau ketinggalan membully. Bully-an silih berganti menghajarnya, lantaran muka yang jadi tambah songong dan sok-sokan gitu. Tapi dengan santainya dia menangkis semua bully-an dengan tiga kata : "Biar Mirip Dilan". Kan jancuk ya.

Kalau ngomongin Dilan, pasti gak bakal jauh-jauh dari rindu ya? Nah, kadang tuh saya mikir pas lagi ikut forum maiyahannya Cak Nun. Kok jamaah maiyah (khususnya para jomblo) gak ada yang berani nanya "gimana cara mengatasi rindu yang berat itu"?

Padahal kalo berani nanya, saya yakin, Cak Nun pasti akan menjawab dengan santai dan gaya khasnya sambil udud kalo memang ada yang bertanya seperti itu. Kira-kira seperti ini jawabannya Cak Nun : Lha gendeng kok arek sak iki, lapo haaa takon rindu kii abot? Wes tah lah, rindu kui abot nek ono sing iso dirindukan, lha iki jomblo kok takon piye carane mengatasi rindu.

Mblo mblo, sabar ya. Udah pede nanya, eh taunya malah malu depan orang banyak, haha. Itu yang terbayang di kepala saya waktu itu. Mari berdoa sek, berdoa sing khusyuk, siapa tahu secepatnya bisa ngerasain rindu yang berat itu kayak gimana?

Setelah meredupnya kepopuleran Dilan, saya rasa banyak yang dirugikan. Penjual somay dagangannya kurang laris, lantaran banyak orang yang sudah kuat kalau jarang jajan. Padahal kalo rindu masih ada, rindu itu kan berat, nah otomatis butuh tenaga dong biar kuat, salah satunya ya somay itu, jajanan yang gak berat dan cepat disantap.

Ternyata hangatnya perbincangan mengenai rindu yang terkenal sangat berat beberapa waktu lalu seakan menghilang dari peradaban. Pertanyaannya, apakah bang Dilan punya ancang-ancang meniti karir di negara lain, karena prediksi Indonesia yang akan bubar tahun 2030?

Saya curiga, Dilan kita sekarang  sudah termakan omongannya sendiri. Dia sudah tidak kuat menanggung rindu. Atau bisa jadi rindunya yang tidak kuat lagi sama bang Jali, eh bang Dilan maksudnya.

Ya, kita tunggu saja, tentunya jangan lupa bikin quote ya, biar jiwa-jiwa Dilan tetap hidup dalam hati kita. Salam Dilan Lovers KW yang gak pernah nonton film Dilan! Bhaaa!

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel