Cinta yang tak Melulu Manis dan Indah

Cinta yang tak Melulu Manis dan Indah

Penulis: Kakak Reformasi

Identitas Buku:

Judul: Cinta Bukan Cokelat

Penulis: Saras Dewi

Penerbit: Kanisius

Tebal: iv+127


Cinta adalah sebuah misteri, yang belum pasti semua orang merasakannya. Pun juga belum tentu semua orang mengerti arti cinta. Dalam konteks dewasa ini, cinta sering kali dikaitkan dengan perlambang yang menyejukkan serta menyenangkan. Misalnya, bunga mawar merah dan cokelat. Dua hal ini, secara tidak langsung menjadi simbol untuk mematerilkan cinta itu sendiri. Padahal, cinta sendiri tidak melulu manis dan indah. Ada kalanya, ia menjadi begitu pahit dan sulit dijelaskan. Terus, apa sebenarnya cinta itu?

Ada yang bilang, cinta itu nafsu. Lantas, apa beda keduanya? Apakah masih pantas disebut cinta jika ia sudah terbilang nafsu? Ataukah memang keduanya ditakdirkan untuk berpasangan? Sehingga, kita pribadi sulit untuk membicarakan cinta karena saking rumitnya. Melalui buku Cinta Bukan Cokelat, Saras Dewi mengajak kita sedikit lebih pandai membicarakan soal cinta dan jejaringnya. Selain itu, buku ini juga mengkampanyekan cinta dari perspektif filsafat. Sekaligus untuk mematahkan stigma bahwa filsafat itu ribet dan menakutkan.

Melalui cover bukunya saja, Saras Dewi langsung mengajak kita berpikir. Tentang kenapa para semut yang mengerumbungi setangkai bunga mawar merah? Padahal, ada binatang lain yang biasanya identik dengan bunga, yaitu kumbang. Mulai dari sini, sebenarnya para pembaca sudah diajak menjawab teka-teki tentang isi bukunya. Buku setebal 127 halaman ini, tidak salah kalau dikatakan menyimpan ledakan berisi pengetahuan yang menyenangkan.

Karya yang ditulis untuk senang-senang ini—pengakuan dari penulisnya—bukanlah sebuah karya yang bisa dibilang remeh. Bagi saya, buku ini adalah buku yang tak terasa langsung habis saat membacanya. Saras Dewi sangat piawai membedah persoalan yang berkaitan dengan cinta sampai ke akarnya. Tidak hanya itu, ia juga menyisipkan banyak logika sederhana yang membuat para pembaca akhirnya berpikir ulang dan bertanya-tanya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, cerita Cinderella adalah salah satu perlambang soal cinta. Selain itu, banyak cerita-cerita serupa--yang kisahnya hampir mirip dengan cerita Cinderella ini—yang menghiasi masa kecil kita. Yang mau diakui atau tidak, selanjutnya membentuk konstruk di otak kita soal cinta. Sampai pada akhirnya, kita dibiasakan untuk mengamini bahwa kisah yang semacam itu, adalah kisah cinta. Padahal, sebenarnya itu hanya sebagian kecil dari cinta itu sendiri.

Apakah Cinta Sekedar Peran?

Suatu waktu, semisal ada orang yang bilang cinta ke kamu, bagaimana kamu menyikapinya? Apakah kamu langsung membalas, ataukah mengabikan ucapan tersebut? Sebagai orang yang menerima ucapan, tentu tidak akan sederhana menyikapinya. Alih-alih menyenangkan, ketika tak ada angin tak ada hujan, dirimu menerima ucapan tersebut, pasti menjadi hal yang aneh bukan? Tapi tak mengapa, begitulah memang cinta dengan segala keanehannya.

Dalam kontek seperti itu, bisa jadi berarti kamu mendapat peran sebagai orang yang menerima (ucapan) cinta. Dan orang yang mengucapkan, bisa diartikan sebagai sang pemberi. Pertanyaanya, apakah cinta sebatas bermain peran? Lalu apakah cinta hanya sekedar urusan memberi dan menerima?

Sampai di sini, ada prasyarat yang mewajibkan sesuatu bisa disebut cinta atau tidak. Karena secara tidak langsung, cinta adalah kisah tentang dua orang. Melalui contoh semacam ini, kita akan menemukan korelasi antara cinta dan belahan jiwa.

Ya, kata belahan jiwa memang tidak asing tentunya di telinga kita. Bahkan, baik di ranah filsafat dan beberapa agama, konsep soal belahan jiwa itu tidak sederhana dan terus berkembang. Karena pada dasarnya, “belahan jiwa” juga berarti punya landasan cinta di dalamnya. Akan tetapi, cinta itu tak melulu menghangatkan dan membahagiakan loh. Ada kalanya cinta itu juga membunuh dan membuat kita merasa terbebani. Untuk hal ini, saya rasa generasi ambyar paling tahu.

Cinta itu buta. Kadang juga tidak pakai logika. Tapi kenapa masih saja dikagumi dan seakan menjadi kebutuhan? Menurut Saras Dewi, “Cinta itu seperti kekuatan sihir, dalam sekejap ia bisa menggelapkan akal. Nah, bagi yang hatinya rapuh serapuh rumah kertas, yang langsung lembek tersiram air atau hancur ketika terbakar api, tentu menjadi wajar saja toh karena kita sama-sama pemula dalam hal cinta. Tidak ada yang namanya senioritas dalam cinta, karena sifatnya yang realtif dan serba subjektif itu.

Jadi nih jadi, kesimpulannya, tidak ada yang lebih pintar dan pandai kalau sudah berbicara soal cinta. Pada akhirnya, kita hanya bisa menjadi seperti orang bijak, yang tidak bisa mencampuri urusan cinta seseorang.

Logika Sains soal Cinta

Pernah gak, kepikiran kalau hewan itu juga punya cinta? Atau para hewan itu pernah mengalami dan merasakan yang namanya jatuh cinta? Jatuh cinta, adalah situasi di mana kita membangun sebuah kriteria ideal secara pribadi. Jatuh cinta juga sering dikaitkan dari segi fisik. Walaupun juga tidak jarang yang berdalih bahwa jatuh cinta pada pandangan pertama. Terlepas dari itu semua, sains toh nyatanya punya analisi soal cinta ini.

Pertama, orang yang mengatakan cinta adalah nafsu, seperti yang saya tanyakan di awal tadi, dipastikan menggunakan salah satu bagian otak yang paling jadul. Bagian ini disebut sebagai reptilian brain. Nah, berarti primitif banget dong kalau kita hari ini masih menganggap cinta hanya sekedar nafus?

Kedua, ada yang bisa kita sebut sebagai cinta romantis. Kategori inilah yang membuat pengidap jatuh cinta mengalami susah makan, susah tidur, tapi kayak orang normal yang sebenarnya gak normal-normal banget. Namun, kategori ini juga yang selanjutnya membuat seseorang menjadi ketergantungan.

Parahnya lagi, ketika sudah di fase ini, seseorang akan memilih nekat bunuh diri ketika cintanya ditolak. Jadi, hati-hati ya kalau terlalu meromantiskan cinta. Karena cinta yang kita anggap romantis, belum tentu menjadi cinta yang abadi.

Ketiga, cinta yang bertujuan agar hubungan kita awet. Kategori ini, memang menginginkan yang namanya stabilitas. Akan tetapi bukan berarti monoton gitu-gitu aja ya. Maksudnya adalah, cinta kategori ini berarti kamu sudah masuk untuk menjaga pasanganmu karena kamu benar-benar menyayanginya. So, seperti itulah cara kerjanya cinta yang tidak sederhana, dan pastinya serba ribet. Yang jelas, kita akan terus menjadi pembelajar dalam hal cinta ini.

Sekian yang bisa saya sampaikan, untuk lebih jelasnya silahkan baca buku ini dan beli bukunya. Saya pribadi menjamin, tidak akan ada penyesakan ketika membeli dan membaca buku ini. Selain menawarkan penjelajahan yang fantastis, kita akan menemui beragam kisah yang jarang diobrolkan banyak orang. Oleh karenanya, mari segera beli dan baca buku ini, dan kampanyekan tentang pentingnya arti cinta itu sendiri ya~

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel