BISIKAN MIMPI 02


BISIKAN MIMPI 02

Penulis: Kakak Reformasi

Gemuruh hujan malam ini berhasil membuatku bangun dari lelapnya tidur, setelah lumayan lama aku bermain-main di alam mimpiku. Tidak terasa, ternyata selimut yang aku pakai sudah tidak keruan lagi bentuknya. Aku saksikan jam tangan menunjukkan pukul 19.00. “Ah masih sangat awal bagiku untuk tidur kembali.”

Aku langsung menuju kamar mandi dan sedikit bersih-bersih, lalu keluar kamar untuk mencari makanan yang bisa aku santap malam ini. Karena sejak tadi perut ini sudah meminta-minta pengen diisi. Sejenak aku perhatikan suasana asrama yang sepi malam ini. “Huffftt... entah pada ke mana orang-orang ini pikirku.

Dengan langkah cepat aku segera menuju warung makan di sekitar asrama. Tidak ada yang lebih membuatku semangat makan malam ini, selain memang cuacanya yang dingin membuat orang cepat lapar, dan ingin terus makan.

Setelah menghabiskan nasi di piring, aku bergumam sendiri dalam hati, “hemm jadi wajar saja ketika musim dingin beruang kutub berhibernasi”. Yang aku artikan kalau di manusia berarti tidak makan nasi di musim dingin. Ah tapi kan itu di Barat. Indonesia gak ada musim dingin. Bisa jadi gawat juga kalau sampai Indonesia kebagian musim dingin. Aku gak bisa ngebayangin gimana nasib orang-orang yang gak punya tempat tinggal.

Tahu sendiri kan kalau musim dingin itu seharusnya kita bagaimana? Gak mungkin toh kalau kita mau menghabiskan waktu yang cukup lama di tempat terbuka, atau di luar rumah? Bisa jadi daging beku nantinya. Oleh sebab itu, sunngguh Mulia Allah dengan segala karunia-Nya. Biarlah Indonesia cukup dengan dua musim. Musim kawin dan musim cerai. Eh salah, maksudku musim kemarau dan musim hujan.

Aku gak tahu gimana nasibnya si bapak tukang becak yang setiap malam tidur di becak yang setia menemaninya. Aku gak tahu gimana nasibnya si bapak pengangkut sampah yang tidurnya di pinggir jalan raya Jogja-Soloberatapkan bintang-bintang—kalau sampai Indonesia kebagian musim dingin. Dan aku sungguh gak bisa membayangkan, nasibnya nenek yang tidurnya di pinggir rel kereta itu.

Jangankan untuk membantu ketiganya, untuk menghadapi musim dingin itu sendiri aku juga masih bingung mau bagaimana. Musim kemarau aku masih pakai selimut. Musim hujan aku sering buka baju. Musim dingin kayaknya aku perlu coba hal yang baru, main pingpong misalnya? Atau menunggangi kuda?

“Ah kamu kok jadi ngawur begini?” diriku berbicara kepada aku sendiri.

“Ah biarin toh, namanya juga peduli. Jarang-jarang orang Indonesia kayak aku begini”.

“Heleh kata siapa? Orang Indonesia itu masih banyak yang peduli dengan sesama!”

“Ah gak bener itu”. Kataku membantah diriku yang lain.

“Aku gak perlu membuktikannya. Toh kamu juga gak bakal paham jika aku jelaskan”.

“Kok sombong banget sih? Tinggal jelasin aja apa susahnya?”

“Jadi gini; orang Indonesia itu bisa dibilang tingkat kepeduliannya masih tinggi. Cuma ada masalahnya”

“Masalahnya apa emang? Kan tadi kamu sendiri yang bilang kalo tingkat kepeduliannya masih tinggi?”

“Iya benar. Masalahnya kepedulian orang Indonesia sering kali muncul kalau dia sudah kenyang. Kalau perutnya sudah terisi! Itulah watak mayoritas orang Indonesia hari ini!”

Ddeegggg... aku seperti ditinju tepat di bagian ulu hatiku. Diriku yang lain masih melanjutkan omongannya.

“Ya seperti kamu yang peduli barusan itu. Kamu peduli ketika perutmu sudah kenyang. Nasi di piring sudah habis.

“Apa aku salah?” tanyanya kepadaku.

Dengan lemas aku menjawab; “Tidak sama sekali”.

Ternyata diriku yang lain itu belum puas melancarkan hinaan-nya kepadaku.

“Aku bukan ingin menjatuhkan mental atau semangatmu. Aku hanya sekedar mengingatkan. Tidak baik jika kita sombong karena masih punya rasa peduli. Terlebih lagi hanya jika kita sudah kenyang, sudah nyaman. Karena dari sebelum makan, yang ada di pikiranmu hanyalah bagaimana caranya agar cepat sampai ke warung makan ini, dan segera menyantap makanan untuk mengisi perutmu itu”.

“Apakah aku salah?” tanya-nya kembali, seakan-akan ingin mendengar jawaban langsung dari mulutku. Padahal dia sudah tahu jawabannya sebelum ku jawab. Atau jangan-jangan dia hanya ingin meminta ketegasanku? Ah tidak mungkin. Dia cuma ingin mengetes aku yang sudah  sombong tadi. Dan dia menang telak! Aku seperti petinju yang bertubuh kekar tapi pertahananku terbuka lebar. Aku kalah dengan sifat sombongku kali ini.

Aku mengakhiri perbincangan dengan diriku satunya lalu memilih beranjak pulang.

~~~

Sesampainya di asrama, tiba-tiba keadaan sudah ramai. Entah siapa yang bertamu malam ini. Tapi kelihatannya orang penting. Dua mobil mewah terparkir di halaman asrama. Di antara para tamu yang datang malam itu, tampaknya rombongan tersebut dipimpin seorang wanita. Wajahnya begitu angkuh dan menunjukkan kelasnya sebagai orang menengah ke atas. Dari tampilannya, wanita itu seperti sudah berpengalaman dalam bidang seni dan fashion.

Setelah melihat sekilas, aku putuskan untuk kembali ke kamar. Tapi aku keburu dipanggil oleh pengurus asrama untuk menyambut rombongan tamu tadi.

Tak di sangka rombongan tadi bukan seperti tamu yang biasanya ke asrama. Jika yang biasa bertamu karena memang sedang liburan atau (dan) ada kepentingan dinas, tamu kali ini datang ingin menawarkan penghuni asrama untuk jadi bagian dalam media yang dipimpin perempuan tadi. Harapannya dengan sedikit memaksa, agar salah satu dari kami menjadi penulis tetap di media si perempuan tadi.

Karena aku kurang suka dengan cara dan gayanya yang angkuh, aku pun tidak terlalu menyimak apa yang disampaikan si perempuan tadi ketika kami menyambut mereka di aula asrama. Berbeda dengan teman-temanku, mereka begitu memperhatikan dan tampak antusias mendengarkan penuturan perempuan itu.

Ketika selesai memaparkan apa yang menjadi tujuannya datang ke asrama, perempuan tadi menyuruh salah satu dari rombongannya membagikan brosur, yang berisi rincian konten apa saja yang ditulis di media-nya, dan jumlah fee jika tulisan dimuat. Lumayan memang.

Tidak lama setelah itu, pulang lah perempuan tadi ke tempat mereka menginap selama di Jogja ini. Mereka, yang dengan gaya tampilannya, memang sesuai jika menginap di hotel berkelas. Asramaku, yang seringkali dianggap mewah oleh teman-teman kuliahku, hanya akan membuat perempuan tadi dan rombongannya menjadi tidak nyaman.

Setelah rombongan tadi pulang, segera aku masuk lagi ke kamar. Aku berencana menghabiskan buku yang sudah setengah ku baca. Tapi, tidak berselang lama aku melanjutkan bacaanku, seniorku di organisasi datang dengan mengetuk pintu kamarku. “Ah ada keperluan apa dia?” pikirku. Di malam yang dingin setelah hujan seperti ini, seniorku menyempatkan datang ke kamarku. Ini tidak biasanya.

Dengan sisa-sisa hujan yang menempel di jaketnya malam itu, dia langsung menyalamiku dengan wajahnya yang sumringah.

“Hai, apa kabarmu malam ini?” tanyanya padaku.

“Ah, sama seperti biasanya, bang” jawabku.

“Biasa yang bagaimana?” lanjutnya.

“Ya masih belum ada peningkatan, bang” kataku.

“Ha ha ha, kamu itu selalu saja merendah untuk meroket ya?”

“Ah enggak bang, aku serius kalau aku belum ada peningkatan apa-apa.”

Sambil menghidupkan rokok surya yang dia ambil dari kantong jaketnya, seniorku seperti menyiapkan sebuah pembicaraan yang lumayan penting.

“Malam ini, aku sengaja datang menemuimu, karena ada sesuatu yang mau aku obrolin, dan ini tidak bisa ditunda” katanya.

“Apa itu bang? Apa sebegitu pentingnya, sampai menghampiriku sehabis hujan begini?”

“Ya, kalo penting dengan tidaknya, itu nanti kamu sendiri yang menilai. Tapi menurutku ini hal yang penting.”

“Oh ya, apa itu bang? Apa yang bisa tak bantu?”

“Tadi siang, aku lagi ngopi di Blandongan. Pas aku buka email, aku dapat email dari senior Jakarta. Isi emailnya kalau dia baru saja membuat web. Dan web itu belum punya kontributor sama sekali.”

“Lantas, apa yang aku bisa bantu, bang?”

“Selama ini, sependek pengetahuanku, dari beberapa juniorku, yang aku tahu cuma kamu yang sudah banyak melahap novel atau buku sastra. Web senior Jakarta itu, kebetulan ada rubrik sastra, yang seharusnya bisa diisi oleh kita-kita yang ada di Jogja ini.”

Mendengar paparan dari seniorku itu, aku langsung bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini akan berlangsung. “Aku belum bisa bang. Jangankan untuk menulis sastra, menulis status BBM saja aku masih bingung.”

“Hahaha,” tawanya meledak. "Sudahlah, jangan lagi lari kamu itu. Sudah cukup kamu menghindar selama ini. Ini waktunya bagimu untuk menujukkan siapa kamu, sebatas mana kemampuan dan kualitasmu” katanya sambil menghisap rokok yang sudah tinggal setengah itu.

Aku jadi bingung, kenapa dia mengungkit soal aku yang menghindar berkumpul dan menghadiri agenda organisasi akhir-akhir ini. Padahal, selama aku menghindar, dia tidak pernah menghubungi dan menanyakan kabarku. Yang aku tahu, dia sibuk dengan agenda politik kampus yang aku benci itu. Bahkan, dia jadi semacam orang yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Tapi, malam ini, tanpa menghubungiku sebelumnya, ujug-ujug dia langsung datang dan membicarakan hal semacam itu.

“Temen yang lain kemungkinan lebih baik dari aku, bang” kataku untuk mencoba menolak ajakannya.

“Iya, aku tahu, tapi aku tidak punya kesan dengan teman-temanmu itu. Walaupun selama ini aku sering ngopi dengan orang-orang itu, yang aku tahu, cara berpikir mereka belum sematang cara berpikirmu.”

“Ah, itu perasaan abang saja” kataku.

“Ya terserah kalau kamu menganggapnya seperti itu. Yang pasti, aku menjatuhkan pilihan ini kepadamu, karena aku punya kesan tersendiri.”

“Aku benar-benar belum bisa bang, aku takut mengecewakan abang, dan senior Jakarta itu” tambahku.

“Dalam hal ini, aku akan kecewa kalau kamu tidak menghargai dirimu sendiri.”

“Mak tratap, apalagi ini maksudnya. Kenapa malah kesannya aku sedang disidang malam ini,” kataku dalam hati. “Boleh dijelaskan maksudnya itu gimana, bang?”

“Intinya, aku cuma ingin kamu menghargai dirimu sendiri. Sudah, itu saja. Tidak lebih.”

“Aku benar-benar tidak paham maksudnya, bang” kataku padanya.

‘'Kamu akan menjadi orang yang mulia, kalau kamu sudah bisa menghargai dirimu sebelum menghargai orang lain. Menhormati orang lain itu secukupnya saja. Aku tahu, kamu itu orangnya berani. Beranimu itu kamu tunjukkan dalam keistiqamahan dan konsistennya kamu selama ini. Kamu itu selalu saja pengen jadi orang yang kuat, dan memposisikan dirimu sebagai tameng untuk teman-temanmu yang lain.”

Setelah berkata seperti itu, dirinya langsung pamit kepadaku. Dari kursi di kamar yang aku duduki malam ini, aku memandangi pundaknya yang meninggalkan kamarku. Aku langsung kepikiran dan mencoba memahami maksud omongan seniorku itu, dan rangkaian kejadian yang aku alami malam ini. Apa yang coba semesta tunjukkan padaku? Aku merasa cemas, tetapi aku  juga bingung. Bingung karena aku tidak memahami apa yang aku cemaskan, dan untuk apa kecemasanku itu.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel