BISIKAN MIMPI 01


BISIKAN MIMPI 01

Penulis : Kakak Reformasi
Siang itu terasa panas seperti hari-hari sebelumnya. Padahal sudah masuk bulan November. Bulannya hujan. Bulan yang dinanti setelah lumayan lama bumi tidak terkena air. Seperti biasa, atau semacam nostalgia, aku ikut berkumpul bersama penghuni asrama yang lain di bagian barat asrama, setelah lumayan lama aku tidak melakukan hal tersebut. Ya, berkumpul dan bercerita atau sekedar nonton tv bersama dengan penghuni asrama yang lain, sambil minum es serta menghisap tembakau. “Ah nikmat yang aku rasakan, setelah lumayan lama tidak seperti ini.”

Entah mengapa, akhir-akhir ini atau hampir setengah tahun lamanya, aku sangat segan untuk kumpul bersama penghuni asrama yang lain. Semenjak diadakannya rolling kamar, dan aku diharuskan pindah ke bagian sebelah timur asrama, aku sangat malas untuk mampir di barat. Jangankan sejam atau setengah jam pun, paling banter aku hanya lima sampai sepuluh menit di sana. Sekedar menitipkan baju yang basah pada pagi hari dan akan kuambil di sore harinya.

Tetapi siang itu berbeda. Aku rasanya betah untuk berlama-lama di barat. Walaupun tidak ada obrolan yang berarti atau semacam kepentingan, aku merasa tenang.

***
Sudah dua kali rasanya, Uung, yang masih sanak saudaraku, yang baru aku kenal di Jogja ini, masuk keluar kamar. Sedikit gambaran, Uung ini orangnya baik dan ringan tangan buat menolong orang. Siang itu, entah ada janji dengan siapa, dia tampak sibuk. Mondar-mandir gak jelas. Dengan membuka baju karena kepanasan, dia juga beberapa kali masuk wc. “Ah dasar, mungkin dia lagi mencret karena salah makan hari ini”, pikirku.

Setelah sibuk bolak-balik ke wc, Uung bergabung dengan ku dan juga rombongan. Dengan gaya tengilnya, ia mencomot rokok surya yang tergeletak entah milik siapa, dan langsung dibakar.

Aku bertanya ke Uung, Ung, kok kamu terlihat gelisah siang ini? Belum makan karena gak ada uang?

Bukan kak, aku tadi salah makan, ngambil sambelnya kebanyakan katanya.

“Makanya lain kali kira-kira dong kalo ngambil sambel, kasihan penjualnya rugi, gara-gara sambelnya kamu yang habisin.” Tawa pun meledak di rombongan waktu itu.

Ya enggak lah, aku juga jarang makan di warung bude,” kata Uung.

Nah, warung bude ini warung makan depan asrama. Warung bude, biasanya buka dari senin sampai sabtu, dan hari minggu tutup. Ketika awal kuliah, aku kurang suka dengan masakan yang ada di warung bude. Menurutku rasanya aneh. Tapi setelah sering gak ada uang, aku jadi sering ngutang ke bude untuk makan, dan dari sana aku bisa dibilang ketagihan dengan masakannya bude. Ketagihan gara-gara sering ngutang.

Aku bertanya lagi ke Uung, Ung, gak ngopi po? Biasanya jam segini udah ngopi?

Nah itu dia kak, aku lagi ada janji dengan cewek, tapi sampai jam segini dia belum ada kabar lagi.

Ah, mungkin dia lupa Ung, atau sibuk dengan pacarnya, kataku buat manas-manasin si Uung.

“Enggak mungkin kak, dia itu jomblo kok, makanya ngajakin ngopi hari ini,” jawab Uung..

Ah, mungkin dia bohong tuh ke kamu. Masak iya ada yang mau ngajakin kamu ngopi Ung, aku tertawa puas.

Eh jangan salah, gini-gini ilmu peletku masih ampuh yo,” jawab Uung gak mau kalah.

Haha karepmu lah Ung. Yang penting kamu bahagia” tambahku.

Diki malah nyeletuk; “Ya udah Ung, ayo ngopi aja, dari pada nungguin tuh cewek gak jelas.”

“Ayolah,” sahut Uung.

“Lho, gimana toh Ung, katanya mau nungguin cewek yang ngajak kamu ngopi?” kataku.

Hehe, nunggunya di warung kopi aja sekalian. Habisnya kelamaan tuh cewek. Jangan sampai jadwal ngopiku terganggu kak,” jawab Uung lagi-lagi dengan gaya tengilnya.

Haha yo wes Ung karepmu,” aku menanggapi.

 ***

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Uung, Diki, Kolet dan kak Pis berangkat ke warung kopi. Tidak lupa tadi aku juga diajak, tapi aku jawab kalo aku lagi males. Mungkin karena sudah lama gak ngopi siang-siang, jadinya kalau diajak ngopi siang hari aku agak ogah-ogahan. Toh lagian di warung kopi juga jarang ngobrolin hal yang penting, paling banter setengah jam duduk udah pada sibuk-sibuk sendiri sama HP-nya.

Lagian aku udah lama gak nongkrong di luar kamar seperti ini, di bagian barat lagi. Jadi aku lebih memilih muas-muasin nongkrong dulu di sini. Toh acara TV sore ini gak jelek-jelek banget, jadi lumayanlah ada hiburan

Sekitar setengah jam rombongan berangkat ke warung kopi, ternyata ada suara rame-rame di bawah. Oh iya kamarku sebelumya di sebelah barat ini di lantai atas. Lantai bawah sebelah barat, kamar-kamarnya hanya untuk tamu dan ruang tamu tentunya.
 
Entah suara apa rame-rame di bawah, tapi ada sekitar enam atau tujuh orang duduk-duduk di tangga yang menghubungkan lantai atas dan lantai bawah. Aneh pikirku, kenapa tamu lebih memilih duduk di tangga yang lumayan kotor itu, ketimbang duduk di sofa yang sudah disediakan. Kalau hanya untuk enam atau tujuh orang, sofa itu aku rasa cukup dan lebih malah.

Aku coba melihat siapa orang-orang yang duduk di tangga. Dan terkejutnya aku setelah ku lihat, ternyata dari orang-orang yang duduk itu ada teman akrabku. Gak salah lagi, itu Indra! 

Semakin aneh jadinya siang ini. Yang awalnya musim hujan, tapi siang ini gak ada tanda-tanda mau hujan, dan panas bagai musim kemarau, ditambah lagi teman akrabku sudah ada di asrama.

Aku bergumam dalam hati, "ada keperluan apa dia datang ke sini dan gak ngabarin dulu sebelumnya. Toh apa susahnya WA aku dulu atau telpon kek biar aku bisa jemput. Ini gujuk-gujuk udah di asrama aja. Nyengir lagi dengan muka kayak gak ada salah. Hufftt...."

Di dekat Indra ternyata ada Sinta, mantan pacarnya dulu pas SMA. Orangnya lumayan semok, aku juga pernah tertarik sama dia, tapi gak jadi gara-gara tahu kelakuannya sering gonta-ganti cowok. Haha bisa turun kan reputasiku kalau jadian sama dia, toh dia juga masih mantan teman akrabku sendiri. Selain Sinta, aku gak kenal siapa-siapa saja orang-orang yang datang bersama si Indra. Bodoh amat lah pikirku, mending cepat-cepat aku samperin tuh Indra.

Ketika langkahku sedikit lagi sampai di tangga tempat Indra duduk, aku gak sengaja ngelihat keluar asrama. Di parkiran asrama sudah ada mobil yang biasa dipake kak Agung. Tapi pas aku lihat, ternyata yang keluar dari mobil bukan cuma kak Agung, ada Aldi teman sekamarku dulu. Dan yang bikin aku lebih kaget lagi, selain kedatangan Indra dan mantannya Sinta itu beserta orang-orang yang gak aku kenal, eh dari mobil itu keluar mantanku dan seorang cewek yang minta aku jemput di stasiun sore ini. Padahal jadwal keretanya baru sampe jam segini, tapi dia kelihatan sudah keliling-keliling hari ini.

“Asem-asem, kok aneh banget ya siang ini. Ada apa sih kok beberapa orang yang aku kenal muncul bersamaan, dan munculnya aneh lagi” pikirku.

Setelah tahu siapa aja yang keluar dari mobil, aku langsung melewati Indra di tangga tanpa menyalaminya, dan menyapanya barang sedikitpun. Aku lebih memilih menemui mantanku yang baru keluar dari mobil kak Agung. Setelah sebelumnya aku lihat dia tampak begitu mesra ngobrol dengan Aldi.

Sebenarnya, aku pengen marah dan panas ngeliat dia begitu mesra ngobrol dengan Aldi. Aku juga pengen marah dengan cewek yang minta aku jemput tapi malah udah di asrama.
Aku langsung buru mantanku dengan pertanyaan dan dengan sedikit emosi. Ngapain ke sini? Gak bilang-bilang lagi. Toh aku bisa jemput kalo mau ke sini. Terus kok bisa mesra banget sama Aldi?

Cewek yang baru pulang dari rumahnya menggunakan kereta, yang minta dijemput olehku, mendekatiku. Dia seperti mau menenangkan suasana. Tapi aku udah habis emosi dan ngerasa hari ini hari yang sial buatku. Aku juga pengen marah ke dia, yang katanya minta dijemput tapi malah udah di asrama aja.

Sabar dulu toh, ini aku bawain sesuatu katanya.

Hemmm,” jawabku cuek.

Tapi tetap aku terima bungkusan itu. Tapi hal aneh terjadi lagi. Aku kira bungkusan yang dikasih ke aku itu makanan, karena sebelumnya aku nitip makanan ke dia. Tapi setelah aku buka, isinya malah gantungan baju! Empat atau lima buah aku juga kurang inget secara jelas.

“Kenapa malah ngasih gantungan baju?” tanyaku. “Gantungan bajuku juga masih banyak?

Aku cuma bisa bawa dan ngasih itu katanya.

Ya Tuhan. Hal eneh apa lagi ini?

Setelah aku merasa semua ini gak wajar, aku memilih berlari ke lantai atas sebelah barat dan melewati Indra dan Sinta serta teman-temanya yang aku gak kenal. Ketika mau melewatinya, Indra memanggilku untuk berhenti sebentar dan mengatakan sesuatu; “ini loh Sinta, kan kalian pernah jadian toh?” kata Indra.

Jadian apaan? Tanyaku penuh emosi.

Lho iya toh Sin, kalian pernah jadian kan?” tanya Indra ke Sinta.

Jadian apaan Ndra?” kata Sinta dengan malesnya.

Tuh dengerin, kami gak pernah jadian walau cuma sehari, tegasku!

Dengan masih membawa bungkusan gantungan baju tadi, aku meninggalkan Indra, Sinta, mantanku, dan cewek yang minta jemput itu. Aku masuk ke kamar Arif yang dulunya kamar Kolet. Pintu aku kunci dan aku mengurung diri!

Sampai sini pun masih terasa aneh. Kenapa aku malah lari ke kamar Arif, bukan ke kamarku sendiri. Ya Tuhan ini semua tanda apa?

Detak jantungku lebih cepat dari biasanya. Rasanya emosiku sudah sampai dipuncak dan ketika aku mau berteriak, aku bangun dari tidurku!

Ah ternyata hanya mimpi. Astaghfirullah, aku mengucap dalam hati. Kulihat jam di HP menunjukkan pukul 23.57. Ah waktunya tahajjud pikirku. Toh aku tadi sudah berniat sebelum tidur mau sholat Tahajjud.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel