Berbahagia Lewat Imajinasi


Berbahagia Lewat Imajinasi 

Penulis: Kakak Reformasi
Identitas Buku:

Judul: A Very Yuppy Wedding

Penulis: Ika Natassa

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun: Oktober 2007

Tebal: 288

Kehidupan yang mewah di kota besar semacam Jakarta, adalah impian kebanyakan orang. Dengan rutinitas keseharian, dan gaya hidup yang terbilang elit, tentu banyak orang yang tidak bisa menolaknya. Akan tetapi, banyak hal yang sebenarnya jarang diketahui dari gambaran hidup mewah semacam itu. Siapa sangka, kalau hidup mewah di kota besar juga menyiksa si pelakunya. Saya rasa, inilah salah satu pesan yang ingin disampaikan Ika Natassa dalam novel pertamanya.

Buku A Very Yuppy Wedding, adalah potret kehidupan mewah Jakarta yang sering diidam-idamkan orang banyak. Buku ini, adalah buku yang tidak terasa langsung habis saat membacanya. Terlepas karena buku ini adalah novel percintaan, saya rasa Ika Natassa memang punya kemampuan menyihir pembaca saat membaca karyanya ini. Kisah yang disajikan sebenarnya tidak terlalu wah bagi saya, tetapi, setidaknya buku ini sanggup membuat saya hanyut membayangkan kemerlipnya kehidupan di jantung Ibu Kota Indonesia.

Kisah yang berpusat pada sepasang kekasih ini, nyatanya juga menghadirkan jejaring banyak hal. Mulai dari persinggungan budaya, watak para pegawai di bank, sampai pada kebiasaan di tempat nongkrong. Tidak hanya itu, melalui buku ini para pembaca akan dikenalkan dengan istilah-istilah di perbankan dan bisnis yang sangat jarang kita dengar di obrolan sehari-hari. Semacam katalog yang menyimpan banyak informasi, buku ini juga membuat pembaca geregetan mencari kelanjutan dari tiap babaknya.

Uniknya, buku yang ditulis kurang-lebih 13 tahun lalu ini, terkadang menyisipkan kalimat, kata-kata sampai ke percakapan dalam bahasa Inggris. Walau terkesan seakan ingin memperkuat penokohan pada sosok Andrea—yang bahasa Indonesianya kacau, karena ia adalah blasteran—tampaknya para pembaca juga seakan dipaksa untuk membiasakan mengerti arti dari kalimat berbahasa Inggris.

Tidak berhenti sampai disitu, Ika Natassa seperti mencoba membantah asumsi kalau orang dari kelas elit mampu menikmati privilege yang belebih. Hal ini terbukti ketika Andrea dan pasangannya Adjie, berbincang tentang kekhawatirannya ketika mobilan berdua saja pada saat menjelang tengah malam. Kekhawatirannya dikarenakan takut jikalau ada razia di jalan yang dilakukan oleh FPI.

Entahlah, kalau memang tujuan Ika menulis seperti itu murni hanya untuk membantah asumsi yang sering dibayangkan orang banyak, saya juga kurang tahu. Yang pasti, saya pribadi punya pendapat lain. Saya rasa, Ika mencoba menyindir kebiasaan penguasa waktu itu yang menggunakan oknum untuk mengontrol masyarakat. Semacam tangan yang tak terlihat, citra FPI digambarkan begitu menyeramkan. FPI, menjadi tukang razia yang secara tidak langsung dilegalkan, dan begitu mirip seperti polisi Syariah yang ada di Aceh.

Sebagaimana kita ketahui bersama, pada zaman Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih menjadi presiden, FPI adalah salah satu ormas yang begitu dirawat oleh beliau. Sebenarnya, hal ini bukanlah hal yang baru, sebab, semasa Orde Baru, Soeharto juga melakukan hal yang sama. Namun, perbedaannya terletak pada metode pemanfaatan dan pengontrolannya. Kalau Soeharto lebih kepada menjaga stabilitas dan mengamankan doktrin ideologinya, SBY mampu menyamarkan hal tersebut lewat FPI. Tentu saja karena ada embel-embel Syariah di dalamnya.

Terlepas dari praduga saya yang kurang berdasar itu, mari kita kembali membahas buku ini. Buku yang membahas kehidupan bankir dan segala macamnya ini, setidaknya menjadi  penghibur dan pas sekali dibaca oleh orang yang punya kesibukan padat.

Dengan rutinitas 24 jam dalam seminggu, memang patut kiranya kalau kita punya pelepas penat bukan? Nah, inilah yang saya maksud. Karena, bagi saya pribadi yang sering rebahan ini, buku ini mampu memahamkan saya soal kesibukan yang padat dari para pekerja. Apalagi bagi para pekerja itu sendiri, pasti akan punya kesan lebih ketika membaca buku ini.

Bukan, saya bukan ingin memuji buku ini. Saya mengatakan hal yang sewajarnya menurut saya sebagai pembaca buku ini. Dengan memakai gaya bahasa tutur dalam bukunya, Ika sangat sukses menurut saya menghanyutkan para pembaca karyanya. Karena mau diakui atau tidak, seorang pembaca akan dibuat menjadi berganti-ganti peran, sekaligus membayangkan menjadi tokoh-tokoh yang ada di dalam buku ini.

Selanjutnya, bagi pembaca yang bukan berasal dari suku Jawa, sekiranya patut bersiap-siap karena akan dikenalkan Ika dengan budaya dan kebiasaan orang-orang Jawa. Bagi orang Jawa sendiri, kiranya memang patut berbangga dengan identitasnya, karena akan terlihat bagaimana Ika sangat menghormati Jawa dan budayanya. Terlepas hal itu kemudian juga menjadi kritik, setidaknya Ika juga sukses mengabarkan kepada khalayak luas tentang Jawa.

Saya memang tidak akan menyorot tentang kisah cinta yang ada di dalam buku ini. Karena bagi saya, kisah cinta itu begitu relatif, subjektif dan tentatif bagi setiap pribadi. Oleh karena itu, saya lebih membaca kepada hal yang sebenarnya tidak menjadi sorotan utama dalam buku ini. Jika diibaratkan, saya adalah orang pinggir yang membaca orang-orang di pusat jantung Jakarta. Dan terakhir, segeralah baca buku ini karena semesta kisah yang di dalamnya tidak sesederhana paparan saya ini.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel