Banser itu NU Garis Serba Bisa


Banser itu NU Garis Serba Bisa

Penulis: Kakak Reformasi

Kalau ada yang bertanya “Banser itu NU garis apa?” Maka jawablah kalau Banser itu adalah “NU garis serba bisa.”

Setelah pelantikan Gibran Rakabuming menjadi anggota kehormatan Banser, jagat media sosial langsung heboh seketika. Baik di Facebook dan Twitter, sama-sama mayoritas mencemooh hal tersebut. Tidak sedikit pula yang berspekulasi tentang kepentingan di baliknya. Mulai dari yang menganggap terdapat transaksi uang dibaliknya, strategi pendulangan suara di pilkada Solo nanti, sampai anggapan soal Banser yang “menjilat.”

Hal ini kemudian menjadi dilematis. Entah karena sosok Gibran sebagai anak presiden, atau pun posisi Banser yang punya basis massa tidak sedikit. Selanjutnya, banyak orang yang mempertanyakan tugas Gibran nantinya di Banser.

Menanggapi kehebohan tersebut, saya kira ini adalah titik lemah masyarakat kita sampai hari ini. Ketika ada sesuatu yang sifatnya viral dan trending, tanpa membudayakan membaca tuntas, kita langsung saja ingin menilai dan menghakimi? Pertanyaannya: “sampai kapan kita akan terus menjadi orang yang kagetan, ketika menyikapi sesuatu yang sifatnya besar?”

Dalam kasus penyematan gelar terhadap Gibran sebagai anggota kehormatan Banser ini, perlu sekiranya kita tidak langsung asal tuduh dan menghakimi. Kasus ini tentunya bukanlah hal yang remeh-temeh, dan bisa disebut sebagai hal yang besar. Karena menyangkut orang dalam lingkaran tokoh nomor 1 di negeri ini, sekaligus menyangkut Banser yang merupakan bagian Nahdlatul Ulama. Tentu cara menyikapinya juga tidak bisa sepele dan asal komentar.

Sebelum lebih jauh membahas keputusan Banser ini, ada baiknya kita menilik sebab Gibran dilantik. Menurut Ketua Gerakan Pemuda Ansor Solo, Arif Jihan, Gibran dilantik karena punya kesamaan visi dan misi dengan Banser. Pribadi gibran, memang dianggap sebagai sososk milenial dan sasaran visi-misinya lebih kepada para milenial.

Sedangkan Banser, punya visi-misi tentang Islam yang rahmaatan lil’alamin, yang menyejukkan, yang menghargai dan saling menjaga toleransi sesama manusia yang berbeda keyakinannya. Dari dua visi-misi tersebut lah, akahirnya terjadi kesepakatan untuk menyebarkan benih Islam yang moderat.

Selama ini, memang belum ada tokoh muda dalam tubuh Banser yang bisa dijadikan role model. Entah karena sebuah kebetulan atau karena sudah jodohnya, hadirlah Gibran yang merelakan diri mengabdi dan menjadi bagian dalam Nahdlatul Ulama. Karena ini penting untuk saya utarakan, jika saja Gibran ingin mencari keuntungan dalam tubuh NU, NU sama sekali tidak menghasilkan uang!

Di dalam setiap organisasi, tentu sudah menjadi hal yang wajar kalau punya figur yang ditonjolkan. Itu kembali kepada keputusan organisasi dan berbicara keberpihakan serta pilihan pribadi, yang tentunya harus dihormati, dan tidak perlu dicaci maki apalagi dihakimi. Dalam hal ini, bisa disimpulkan kalau Banser menjatuhkan pilihan pada sosok Gibran. Lantas, apa yang salah dengan pilihan tersebut? Apakah dengan pilihan tersebut, banyak pihak yang dirugikan nantinya? Saya rasa tidak ada sama sekali.

Menurut saya, mari kita segera akhiri sifat iri yang tidak berdasar ini. Bukan karena hanya buang-buang waktu dan tenaga, akan tetapi juga agar tidak lebih memperkeruh suasana. Jika ada yang keberatan dengan dilantiknya Gibran ini, saya coba pertanyakan letak keberatannya di mana? Bukankah sah-sah saja, jika ada organisasi lain yang ingin melantik Gibran dengan gelar apapun, selagi Gibran sendiri tidak keberatan. Lantas, kenapa malah memunculkan asas praduga yang terkesan bodoh tersebut?

Jika nanti Gibran malah menyimpang dari tujuan awal yang sudah disepakati oleh dirinya dan Banser, bukanlah hal yang sulit tentunya jika Banser mencopot gelar tersebut, sekaligus mengakhiri dukungannya kepada Gibran. Untuk orang yang di luar Banser, menjadi hal yang wajar pula kalau ingin mengkritik sepak terjangnya Gibran selama di Banser. Asalkan memang kritik tersebut sifatnya realistis dan berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kehebohan pelantikan Gibran sebagai anggota kehormatan Banser ini, adalah bukti kagetannya kita ketika menyikapi sesuatu yang sifatnya besar.

Saya kira, kita perlu banyak belajar dari organisasi Nahdlatul Ulama (NU), yang pernah melakukan hal serupa namun tak sama. Hal serupa yang saya maksud adalah, NU sendiri pada tanggal 15-21 Juli tahun 1940, sudah memilih Soekarno sebagai presiden Republik Indonesia (RI). Kurang lebih lima tahun sebelum Indonesia merdeka. Hal tersebut bahkan disampaikan dalam Muktamar NU ke-15. Hal tersebut pastinya tidak berdasarkan asal pilih dan asal suka. Tentu ada pertimbangan matang sebelumnya, sehingga NU pribadi memilih—dan secara tidak lansung memberi gelar—Sukarno sebagai presiden RI.

Sama halnya dengan NU, Banser sendiri tentu punya pertimbangan sebelumnya ketika melantik Gibran sebagai anggota kehormatan. Pertimbangn Banser saya kira tidak jauh berbeda dengan pertimbangan yang pernah NU lakukan sebelumnya. Karena Banser adalah bagian dari NU, saya pikir menjadi hal yang remeh sekali jika ada anggapan bahwa Banser “menjilat.”

Akhirul kalam, jika masih ada yang menganggap Banser punya kepentingan—selain menyebarkan paham Islam Ahlususunnah wal Jamaah atau Islam moderat—yaitu mencari peluang, mencari uang, dan mencari keuntungan, saya sarankan coba dipelajari lagi secara lebih mendalam tentang Banser itu sendiri. Dan jika perlu, silahkan ikuti pelatihan Banser agar tahu loyalitas Banser pada NKRI, serta pengorbanannya selama ini.

Gus Dur pernah berkata, Banser itu adalah singkatan dari Ban Serep. Candaan Gus Dur itu, bisa kita artikan kalau Banser adalah sesuatu yang bisa berguna kapan saja dan di mana saja. Bahkan, akan sulit jika kita ingin menghitung pengorbanan yang pernah Banser berikan, baik itu pada umat Islam sendiri, atau umat agama yang lain. Dengan semangatnya yang tak lekang oleh zaman, Banser terbukti turut serta dalam menjaga kedamaian di Negara Kesatuan Republik Indonesia!!!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel