Awas, Indonesia Darurat Corona!


Awas, Indonesia Darurat Corona!
Sumber Foto: depok.pikiran-rakyat.com

Penulis: RAF Piliang

Sampai hari ini, virus Corona masih menjadi hantu nyata bagi kita. Hantu yang membuat  kita histeris dan panik. Ibarat orang yang sedang dilanda bencana, kondisi di masyarakat menjadi serba bermasalah. Mulai dari anggapan remeh soal virus Corona, sampai kepada ketertutupan informasi Corona sendiri. Tidak hanya itu, nyatanya pemerintah dan Indonesia secara umum, memang belum siap menghadapi virus yang satu ini. Terbukti, kebijakan yang muncul dari pemerintah belum menyentuh titik maksimal.

Hal ini yang selanjutnya belum menjadikan kita bersatu dalam melawan virus tersebut. Kita beranggapan, bahwa kita masih berada di tahap sedang baik-baik saja. Terkait virus Corona ini, saya teringat satu hal. Yaitu tentang kepedulian kita terhadap lingkungan. Apa yang kita lakukan ketika menghadapi virus satu ini, sama persis jika dibandingkan dengan penyikapan kita pada kerusakan lingkungan. Seakan regenerasi atau pemulihan kembali bisa berlangsung dengan sendirinya. Padahal, tidak akan sesederhana seperti itu bukan?

Dalam sejarahnya, virus Corona adalah hal pertama yang mampu melumpuhkan banyak aspek kehidupan di banyak negara. Mulai dari ekonomi, pendidikan, kegiatan produksi sampai kepada hal-hal terkecil lainnya. Tidak berhenti sampai di situ, virus ini juga menjadikan Indonesia sebagai negara yang berada di status darurat. Tapi lucunya, masih saja terdapat oknum yang mengambil keuntungan dari kejadian ini. Mulai dari penimbunan barang, sampai kepada pembelaan buzzer kepada individu yang seharusnya bertanggung jawab mengatasi virus ini.

Status darurat dan siaga, lagi-lagi masih dianggap banyolan di beberapa kasus. Dengan melontarkan argumen masih ramainya aktivitas yang belum lumpuh karena Corona, kita sebagai masyarakat awam disuruh tenang-tenang saja. Bukannya menggejot aktivitas penyadaran dan penanganan yang efisien, nyatanya kita lebih terkesan menyelematkan diri sendiri. Sehingga, muncul anggapan bahwa keselamatan pribadi lebih penting daripada keselematan bersama.

Hal itu memang benar, tapi menurut saya tidak sepenuhnya benar. Karena, keselamatan pribadi berbanding lurus dengan keselamatan kolektif. Dengan kata lain, sekuat apapun kita mempertahankan keselamatan pribadi, kalau tidak dibarengi dengan pemahaman keselamatan kolektif, bisa dibilang hal tersebut menjadi usaha yang mustahil dan sia-sia.

Asumsi logisnya adalah, keselamatan pribadi, menurut saya adalah bagian dari keselamatan kolektif itu sendiri. Kalau sampai hari ini kita masih abai dengan keselamatan kolektif, mau jadi apa dan mau bertahan sampai kapan keselamatan pribadi tersebut? Hal ini yang sebenarnya kurang dilirik oleh pemerintah sendiri. Terbukti dengan kampanye antisipasi Corona belum sampai ke daerah-daerah yang jauh dari Jakarta. Tidak hanya itu, rujukan rumah sakit dan pengambilan keputusan soal virus Corona, nyatanya juga masih Jakarta sentris.

Apakah kita masih mau menunggu dan sebenarnya apa yang kita tunggu? Kalau mengharapkan virus Corona pergi dengan sendirinya—seperti perkataan badai pasti berlalu—berarti kita harus menjadi orang yang ekstra sabar dong? Memang, dalam menangani kasus Corona ini bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi, bukannya kita juga harus bersatu padu menghadapinya bukan?

Anggapan saya, kebijakan yang tegas dan akurat bukan lagi menjadi kebutuhan, namun juga sudah menjadi kewajiban pihak yang berwenang. Apalagi jika mengingat penyebaran virus Corona yang begitu pesat. Bukan waktunya lagi kita menunda. Karena ini bukanlah pekerjaan rumah anak sekolahan yang bisa ditunda-tunda. Ataupun seperti tugas anak kuliahan yang bisa dilobi kepada dosennya. Sungguh tidak, dan bukan sama sekali.

Menelisik dari sekian efek yang dihasilkan dengan hadirnya virus Corona ini, menjadi dilematis kalau kita masih saling menunggu. Kenapa menjadi dilematis? Pasalnya begini, saya beri contoh di ranah pendidikan. Sejak diberlakukannya kebijakan kuliah online di hampir semua kampus di beberapa daerah, sebenarnya tidak berbanding lurus dengan kesiapan kurikulum dan metode pengajarannya.

Beberapa kampus, sebut saja kampus-kampus ternama, memang punya kebijakan resmi selain meliburkan massal mahasiswanya. Karena keputusan tersebut juga dibarengi dengan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa hari ini. Akan tetapi masalahnya, untuk kampus yang tidak ternama, hal ini tampaknya belum disikapi secara tegas dan lugas. Boro-boro mengatakan cerdas dan cergas, wong tegas saja belum.

Hal ini terbukti dengan beragamnya solusi yang dipilih dan diambil. Mulai dari keharusan wajib aktif di grup WA saat jadwal kuliah berlangsung, mendownload aplikasi yang spesifik untuk kegiatan ajar-mengajar, sampai kepada solusi dengan mengerjakan tugas selama libur atau kuliah onlie. Hal tersebut yang saya anggap menjadi problem akut, dan menjadi pesan simbolik kalau Indonesia tidak pernah siap menghadapi apapun.

Mungkin komentar saya ini terkesan sinis, akan tetapi saya akan menjelaskan alasan selanjutnya. Kuliah yang mahal, adalah kewajiban semua kampus di Indonesia hari ini. Tapi apakah hal tersebut berbanding lurus dengan prospek yang ditawarkan oleh kampus sendiri? Nyatanya kan tidak? Ditambah lagi dengan ada kasus Corona. Perkuliahan seakan lumpuh, tapi dicitrakan seperti baik-baik saja. Terbukti, solusi dari Kementerian Pendidikan dalam hal ini belum terdengar gawungnya bukan? Kebijakan akhirnya diserahkan pada kampus masing-masing

Tidak sampai di situ saja, hal ini menandakan kalau komunikasi antar menteri terlihat tidak berjalan dengan baik. Dengan beragamnya data yang kita peroleh soal Corona, menambah ruwetnya masalah ini. Selain itu juga, Kementerian Kesehatan yang seharusnya paling bertanggung jawab soal ini, malah terkesan angin-anginan. Padahal, berapa biaya kesehatan yang digelontorkan untuk menangani masalah Corona ini?

Pertanyaan selanjutnya, masihkah kita percaya bahwa kita adalah bangsa yang kuat dan kebal dengan segala macam virus? Kalau masih percaya dengan hal itu sebenarnya tidak menjadi masalah. Asalkan, tidak menjadikan hal tersebut sebagai kesepakatan umum antara kita, atau kita amini secara bersama. Agenda apapun, yang sifatnya nasional, saya kira memang patut ditunda dengan adanya virus Corona ini. Bukan karena kita lantas menjadi penakut. Namun soal nyawa memang tidak seharusnya ada tawar menawar.

Cukup hanya pada insiden pembantaian PKI saja kita keliru. Jangan sampai kita melakukan hal yang sama dengan Corona ini. Kalau mau dihitung, virus Corona memang tidak menghasilkan korban sebanyak insiden pembantaian PKI. Akan tetapi, saya rasa kita juga harus sudah punya prioritas ketika berhadapan dengan masalah yang sifatnya nasional begini. Karena, bukan lagi waktunya kita hanya memakai kacamata darurat saat insiden demonstrasi—seperti beberapa waktu lalu—namun juga sudah harus kepada soal yang menyangkut nyawa seperti ini.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel