1917: Perang Tanpa Pemenang


1917: Perang Tanpa Pemenang

Penulis: Viona Indah Aprilia


Data Film



Judul:              1917


Sutradara:        Sam Mendes

Produser:         Pippa haris, Callum McDougall, Brian Oliver, Jayne-Ann tenggren

Aktor/Aktris:   George MacKay, Dean-Charles Chapman, Mark Strong, Andrew Scott, Richard Madden, Collin Firth, Benedict Cumberbatch, Claire Duburcq

Durasi:             119 menit


Produksi:         DreamWorks Pictures


Berbeda dengan film perang pada umumnya, 1917 agaknya didesain sebagai film yang personal, yang secara kentara minta dikaitkan dengan sisi psikologis dari para penonton. Terbukti, dipilihnya Schofield (George Mackay) dan Blake (Dean-Charles Chapman) menjadi dua sejoli, adalah pilihan yang sangat tepat. Duet pasangan ini di awal film, bagi saya sangat membakar emosi. Film yang mengisahkan perang Inggris dan Jerman ini, adalah film yang berangkat dari sisi personal kedua yang saya tonton setelah film Hacksaw Ridge.

Misi Mengantar Surat yang Mempertaruhkan Nyawa

Dikisahkan, Blake dan Scohofield yang sedang tertidur di siang hari, harus menangguhkan tidurnya karena dibangunkan oleh Sersan Sanders (Daniel Mays). Sanders membangunkan Blake dan Scho atas perintah Jenderal Erinmore. Dipanggilnya Blake dan Scho bukanlah tanpa sebab. Mereka berdua dipanggil karena ada sebuah misi yang harus dijalankan. Misi tersebut mungkin terkesan misi biasa dari cara pandang sipil. Karena misi tersebut adalah misi mengantar surat.

Namun siapa sangka, surat yang diantar bukanlah sekedar surat biasa. Melainkan surat yang berisi perintah penghentian perang. Tidak hanya itu, misi mengantar surat ini adalah misi yang mempertaruhkan nyawa. Karena, Blake dan Scho yang tentara Inggris, ditugaskan untuk mengantar surat kepada pasukan penyerbu yang berada di garis depan. Tantangannya, Blake dan Scho dipasrahkan untuk menghentikan perang yang sebenarnya segera berakhir.

Terpilihnya Blake dan Scho sebagai kurir, berawal dari keahlian Blake dalam membaca peta. Blake yang awalnya tidak mengira akan diberikan misi seberat itu, terkesan memang asal memilih partner. Bisa jadi memang dipengaruhi faktor karena ia baru bangun tidur. Akan tetapi, dipilihnya Scho untuk menemani Blake, justru menjadikan perjalanan tersebut yang paling berkesan, dan yang paling diingat oleh Blake nantinya.

Mencermati hal ini sebagai simbol, betapa bergunanya keahlian spesifik dan di atas rata-rata sebagai penentu pemberian misi. Terlepas surat yang akan diantar karena menyangkut keselamatan nyawa saudara Blake, yaitu Letnan Batalion Joseph Blake, saya kira ketika Jenderal Erinmore memberika misi sudah berdasarkan pertimbangan yang matang. Tantangan lainnya yang harus dilewati oleh Blake dan Scho, ialah harus mampu melewati pasukan Jerman, yang belum jelas keberadaannya.

Terkait pemberian misi ini, Blake merasa tidak perlu ada yang ditunggu dan ditunda lagi. Rasa persaudaraan yang kuat, membuat Blake tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, agar nyawa saudaranya bisa terselamatkan. Ketakutam, panik, dan cemas bercampur baur menghinggapi Blake. Ia berubah menjadi orang yang terburu-buru serta tergesa-gesa ketika mendengar ucapan Jenderal Erinmore, bahwa nyawa saudaranya tergantung keberhasilan mengantar surat tersebut.

Melihat hal tersebut, Scho yang lebih tua dan lebih banyak pengalaman, mencoba menenangkan si Blake. Bukan karena belum tahu apa yang bakal dihadapi, namun ketenangan Scho tersebut terbangun dari pengalamannya berperang selama ini. Berdasarkan pengalamannya yang terakhir, kabar Jerman mundur dalam peperangan bukanlah kabar yang menggembirakan. Hal ini terbukti nantinya pada saat mereka masuk dalam garis pertahanan Jerman

Blake yang merasa sudah diburu oleh waktu, nyatanya juga kehilangan pertimbangan matang dan akal sehatnya. Yang ada dibenaknya hanyalah secepat mungkin sampai ke lokasi tujuan. Dengan keyakinan sekuat itu, Blake menyangsikan bahaya yang sudah menunggu mereka. Memang urusan nyawa tidak akan ada tandingannya. Akan tetapi dalam sebuah peperangan, pertimbangan logis menjadi yang nomor satu. Tanpa perencanaan yang matang, hal tersebut bakal menjadi bumerang nantinya.

Persahabatan dan Kepercayaan

Apakah persahabatan selamanya mempunyai ikatan kepercayaan? Saya rasa memang seharusnya begitu. Tanpa sebuah ikatan kepercayaan antara satu sama lain, hal tersebut akan menjadi sia-sia. Karena persahabatan sudah sepatutnya dilandasi oleh ikatan kepercayaan.

Film ini, salah satunya mengangkat kisah persahabatan antara Blake dan Scho. Bukan hanya karena kesamaan identitas kebangsaan, Blake dan Scho diceritakan seperti dua sisi uang yang sulit dipisahkan. Satu sama lain saling mengisi kekurangan dan melengkapi serta menutupi kesalahan masing-masing. Hal ini bukan hanya karena agar misi bisa tercapai dan berhasil. Namun juga bentuk menjaga antara satu dengan lainnya.

Bukti ikatan persahabatan yang terjalin antara Blake dan Scho, ketika saat mereka berpacu dengan waktu agar bisa selamat. Mulai dari melewati kawat-kawat berduri, mencoba keluar dari reruntuhan bangunan pertahanan Jerman, sampai kepada debat mereka soal medali penghargaan.

Blake, masih menganggap bahwa medali penghargaan adalah bukti keberhasilan seorang tentara. Dan menjadi kebanggan tersendiri bagi tentara tersebut dan juga bagi keluarganya. Dialog yang terjadi antara Blake dan Scho kemudian, akhirnya turut menyadarkan saya sebagai seorang penonton. Bagi Scho, medali penghargaan tidak ada bedanya dengan benda lain. Ia hanyalah timah yang bisa dibuat berulang kali, dan sebanyak yang diinginkan. Yang akhirnya membedakan hanyalah momen diberikannya medali tersebut.

Hal ini yang seharusnya juga kita sadari bersama. Karena nyatanya, dalam iklim dewasa ini, betapa kita mengagungkan yang namanya sebuah penghargaan. Kepercayaan kita ini, mau diakui atau tidak, sudah dimulai sejak kita masih kecil. Contohnya begini, ketika kita masih taman kanak-kanak, kebanyakan orang tua pasti merasa lebih bangga ketika anaknya mendapt piala. Terlepas pialanya apa saja, yang pasti sebuah keberhasilan diukur dari bentuk sebuah benda.

Hal tersebut berlanjut sampai kepada kita sekolah. Betapa dominannya kepercayaan bahwa predikat dan juara adalah tolak ukur keberhasilan dalam pendidikan. Kita selanjutnya terus didoktrin untuk mempertahankan gelar juara tanpa pernah tahu maksud dan tujuan yang sebenarnya. Dan kita tak pernah tahu, apa manfaat yang bakal dihasilkan oleh pemahaman tersebut.

Scho, yang saya pandang punya cara berpikir post-modern, nyatanya rela menukarkan medali penghargaanya dengan sebotol anggur. Blake yang mendengar hal tersebut, akhirnya tidak mampu memahami isi pikiran teman seperjalannya. Blake menganggap, bahwa sebaiknya meali tersebut seharusnya diserahkan Scho kepada keluarganya ketika kembali ke rumah.

Nah, ini menjadi puncak perdebatan mereka. Scho dengan jujur dan dari hati nuraninya, mengatakan hal tersebut adalah hal yang paling menyiksa seorang tentara dalam kondisi peperangan. Karena ia pribadi percaya, bahwa tentara dalam kondisi perang, tidak akan bisa tinggal lama dengan keluargnya. Hal ini yang selanjutnya menyadarkan kita tentang nasib dari para tentara yang berjuang di medan perang. Bukan hanya waktu dan tenaga yang dikorbankan, tapi hak berkumpul dengan keluarga ikut terampas dengan adanya perang.

Perang yang tak Pernah Berakhir dengan Baik-baik Saja

“Seandainya” mungkin adalah kata yang paling diharapkan dalam peperangan. Bukan hanya karena kata tersebut mengandung sebuah harapan dari yang memikirkan dan mengucapkan, namun juga seandainya adalah bentuk kepasrahan. Kepasrahan dari kondisi yang belum menentu. Dan kondisi karena serba ketidaktahuan terhadap kejadian yang akan datang.

Di pertengahan film, kita akan menyaksikan kematian Blake karena hal yang menurut saya konyol. Hal ini bermula ketika Blake memutuskan untuk menolong pilot Jerman yang kalah adu duel udara dengan tentara Inggris.

Siapa yang mengira, kalau Blake dengan kekhawatirannya tadi masih memikirkan keselamatan nyawa musuhnya. Namun apa mau dikata, pilot tersebut memilih untuk menusuk Blake. Hal ini bisa jadi karena pilot tersebut ingin memilih mati dengan cara yang tidak sia-sia. Karena setidaknya ia merasa harus bisa berhasil membunuh tentara Inggris.

Inilah letak seandainya yang saya maksud sebelumnya. Andai saja Blake tidak menolong pilot tersebut, tentu ia tidak akan berakhir dengan cara yang begitu. Andai saja Blake tidak menolongnya, tentu Blake masih bisa bertemu saudaranya, dan menemani Scho mengantar surat. Andai saja Blake tidak menolongnya, pasti Blake bisa mendapatkan medali penghargaan yang ia inginkan. Dan masih banyak seandainya lagi yang saya harapkan dari film ini.

Namun, karena film ini juga diangkat dari kisah nyata, hal ini yang menjadikan kelebihannya. Karena takdir kehidupan tidak ada yang tahu, dan belum tahu bagaimana ia akan diceritakan ulang. Di akhir film, ada kata-kata menarik dari Kolonel MacKanzie (Benedict Cumberbatch) tentang perang tersebut. “Yang menjadi pemenang perang, adalah ia yang bertahan sampai akhir.”

Kata-kata tersebut menurut saya sukses menjadi penutup film. Karena saya pribadi juga sependapat dengan hal tersebut. Dalam perang, bukanlah ia yang membunuh paling banyak yang akan menjadi pemenang. Akan tetapi, sang pemenang adalah ia yang mampu membunuh egonya sendiri.

Film ini, dalam kaca mata perang modern, tidak akan bisa dikategorikan sebagai gambaran kemenangan Inggris. Karena dalam logika perang modern, siapa yang mampu menaklukkan musuh ia yang akan keluar menjadi pemenang. Film ini bagi saya pribadi, selanjutnya layak dinyatakan sebagai film yang mengisahkan “perang tanpa pemenang”. Karena baik Inggris dan Jerman, digambarkan belum mampu membunuh egonya masing-masing.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel