Zlatan Ibrahimovic: Kepulangan dan Keheningan


Zlatan Ibrahimovic: Kepulangan dan Keheningan
Sumber Foto: topskor.id

Bukan, ini bukan tulisan yang ingin menyamai ucapan Nietzsche, yang mengatakan “Kalau Tuhan sudah mati.” Bukan pula tulisan dari pengamat sepak bola professional, yang punya akurasi tinggi soal prediksi arah dunia sepak bola. Ini hanya sekedar tulisan dari seorang penonton dan penikmat laga sepak bola.

Tulisan ini adalah kesaksian saya kepada salah satu pemain, yang bisa dibilang saya kagumi. Entah dengan alasan apa, tapi saya mengagumi sosoknya. Orang itu adalah Zlatan Ibrahimovic, atau yang biasa disebut Ibra (nama pendeknya). Perawakannya yang tinggi, rambut gondrong dan dikuncir dengan gaya cepol, seakan punya kesan tersendiri bagi saya.

Terlepas dari pengalaman saya yang pernah gondrong, dan dikuncir ala cepol (juga), sosok Ibra tidak punya pengganti di ingatan saya tentang sepak bola. Walaupun Gareth Bale, adalah orang yang dari gaya rambutnya hampir mirip dengan Ibra, namun sekali lagi, Ibra bukanlah Bale. Dan performa keduanya saat di lapangan, sangat-sangat berbeda.

Siapa yang bisa menampik, satu-satunya orang yang paling sering mencetak gol dengan teknik tendangan menerjang ke depan, ialah hanya Ibra seorang. Sebagaimana yang kita tahu, lelaki berumur 38 tahun ini, di luar aktvitas sepak bolanya, ia juga menekuni latihan rutin Taekwondo. Tidak heran kalau gerakan Ibra terkadang sungguh Taekwondo banget.

Laki-laki kelahiran Malmo, Swedia ini, sempat selama lima tahun membela klub asal tanah kelahirannya, yaitu Malmo FC. Karir Ibra di tanah kelahirannya dimulai sejak 1995 sampai dengan 2001. Setelah itu, ia menjadi seorang yang banyak dipakai oleh klub-klub raksasa Eropa.

Klub yang pertama kali meminangnya dari tanah kelahiran, ialah AFC Ajax. Nilai transfer Ibra ke Ajax, termasuk salah satu riwayat transfer paling besar yang pernah didapat oleh klub Swedia. Sosok yang mengklaim dirinya dengan sebutan “Sang Legenda” ini, memang benar-benar membuktikan taringnya selama berada di Ajax.

AFC Ajax adalah klub pertama yang menghantarkan Ibra menikmati liga bergengsi, sekaligus klub yang membuat Ibra mengangkat trofi untuk kali pertama. Ketika memperkuat skuad AFC Ajax, Ibra pun pernah merasakan atmosfir Liga Champion. Sebelum pada akhirnya tersingkir oleh klub yang nantinya menjadi tempat ia bernaung dan pulang: AC Milan.

Sebelum perjumpannya dengan AC Milan, Ibra lebih dulu menjajal klub-klub Italia yang lain. Pertama kali menginjakkan kakinya di negeri spaghetti ini, Ibra langsung masuk dalam skuad si “Nyonya Tua” (Juventus). Kehadiran Ibra di Juventus pun membawa angin segar. Terbukti, Ibra ikut mengantar si “Nyonya Tua” mendapatkan gelar seri A.

Setelah tersingkirnya Juventus ke seri B, membuat Ibra lebih memilih hengkang ke lain klub. Kepindahan Ibra dari Juventus, adalah pemicu awal kontroversi karirnya sebagai pesepak bola. Pasalnya, Ibra memilih pindah ke Inter Milan, yang notabene adalah rival dari Juventus.

Selama berada di Inter, Ibra juga kerap menorehkan beberapa prestasi dan mengantarkan Nerazzurri sebagai klub yang bisa diperhitungkan. Keberadaan Ibra di Inter, kurang lebih selama tiga musim, sebelum akhirnya dipinang oleh klub raksasa Spanyol: Barcelona.

Hadirnya Ibra di Barcelona seakan memberi corak baru bagi liga Spanyol. Liga Spanyol, terkenal dengan ciri khas tiki-takanya, yang bagi Ibra, tentu saja di luar kebiasaannya. 
Pemain yang lebih sering menampilkan tembakan dari jarak jauh, serta adu sprint ini, tak urung juga menyesuaikan corak permainan Barca, sekaligus ikut memengaruhinya.

Performa Ibra di Barca terbilang cukup baik. Puncak karirnya di Barca ketika terjadi duel El Classico, dan Ibra adalah juru selamat waktu itu. Dengan menorehkan gol semata wayang, yang akhirnya membuat jarak poin dengan Real Madrid semakin jauh, sekaligus membuat Barcelona kembali menyabet gelar La Liga.

Sebagaimana pemain kelas dunia yang lain, Ibra pun tak luput dari yang namanya penurunan performa. Performanya menurun justru ketika di akhir-akhir kontraknya bersama Barca. Dengan sekian pertimbangan, managemen Barcelona akhirnya meminjamkan Ibra kepada AC Milan. Setahun setelahnya, Ibra resmi secara permanen berseragam AC Milan.

Kehadiran Ibra di San Siro terbilang sebentar. Hanya setahun bermain untuk AC Milan, Ibra langsung dipinang oleh klub raksasa baru Prancis: Paris Saint Germain (PSG). Ibra terbilang berhasil selama berada di PSG. Dan mulai dari kehadiraanya di PSG inilah, muncul yang namanya demam Ibra.

Demam Ibra yang saya maksud, ialah sorotan publik pecinta sepak bola yang berbeda dari sebelumnya kepada pria kelahiran Swedia ini. Ketika memperkuat PSG, Ibra menjadi ujung tombak yang mampu diandalkan, dan seakan tidak pernah mendapat rival yang serius. Ketidakhadirannya selama laga, adalah pengurangan power bagi PSG. Sangat kentara ketika absennya Ibra, daya gedor PSG menjadi tidak maksimal.

Efek ketergantungan terhadap Ibra, ternyata tidak hanya berlaku di dunia nyata. Ketika kita bermain PlayStation (PS), pilihan untuk memilih PSG antara lain karena Ibra. Jika kondisinya di dalam game tidak prima, tentu akan menimbulkan efek yang berbeda pula. Ya, tidak hanya Cristiano Ronaldo dengan efek ketergantungannya ketika kita bermain menggunakan El Real, Ibra pun punya posisi setara.

Perjalanan karir Ibra, tentunya tidak perlu saya jelaskan lebih jauh. Para pembaca bisa mencari artikel yang memuat hal tersebut, dan sudah banyak tersebar di Google. Saya cuma ingin mengungkap soal kepulangan Ibra ke AC Milan, setelah sebelumnya Ibra banyak menuai kontroversi.

Pemain dengan nomor punggung (sekarang) 21 ini, adalah pesepak bola yang bisa kita kategorikan sebagai pemain yang paling sering menuai kontroversi. Komentar-komentar pedas dan sinisnya, tidak pernah pandang bulu. Ya semacam dia suka saja. Dan tak jarang sebagai bentuk pujian pribadi pada dirinya.

Mulai dari komentarnya pada Ronaldo yang tidak mendapat Ballon d’Or, pada cara bermain Messi yang seperti bermain PlayStation, komentar tentang timnas Swedia di Piala Dunia, dan sekian komentar lainnya, menunjukkan kalau Ibra adalah orang yang suka cari sensasi. Hal tersebut beriringan dengan umur dan semangat muda Ibra yang masih bergejolak. Namun, apakah ada yang menyadari perubahan dari komentar-komentarnya Ibra belakangan ini?

Ibra, selepas dari LA Galaxy, tidak lagi berkomentar pedas dan sinis seperti biasanya. Komentar-komentarnya sudah mulai melunak, dan terkesan tidak lagi menonjolkan dirinya secara pribadi. Kehati-hatiannya dalam berkomentar akhir-akhir ini, bisa jadi disebabkan oleh faktor umurnya yang sudah tidak muda lagi.

Ibra, setidaknya sadar, bahwa performanya tidak sebaik 10 tahun yang lalu. Kepulangannya ke AC Milan, tidak pula digembor-gemborkan selayaknya kepindahan seperti yang sudah-sudah. Ketika ditanya terkait kepulangannya, Ibra hanya menjawab: bahwa kepulangannya akan membawa AC Milan lebih baik lagi. Ibra juga menambahkan, dengan pulangnya ke ACMilan, adalah bentuk kecintaannya pada Milan khusunya, dan kepada sepak bola pada umumnya. Yang lebih klise lagi, Ibra mengatakan bahwa kepulangannya adalah bentuk pengabdian.

Akan menarik kiranya, kalau kita menyaksikan duel antara Juventus dan AC Milan pada tanggal 14 Februari dalam seri Copa Italia nanti. Dalam laga tersebut, menjadi menarik karena kehadiran Ibra. Ibra, pada akhirnya akan berhadapan langsung dengan seseorang yang dianggap sebagai rivalnya: Cristiano Ronaldo.

Sebelumnya, kontroversi antara Ibra dan Ronaldo hanya sebatas pada komentar. Akan beda hal jika di semi final Copa Italia nanti, dua orang ini turun berlaga. Jika Ibra ingin membuktikan ucapannya, perihal keunggulannya dari Ronaldo, maka laga tersebut adalah laga yang pas. Tentu para pengamat dan pecinta sepak bola bisa menilai nantinya, apakah Ibra keluar sebagai sosok yang utuh (lebih unggul dari Ronaldo), atau malah keluar sebagai bayangan (tidak lebih baik ketimbang Ronaldo).

Kepulangan Ibra ke AC Milan, adalah sebuah keheningan. Bisa jadi, AC Milan adalah klub terakhirnya sebagai pemain sepak bola. Ya, keheningan adalah kata yang pas untuk mewakili keberadaan Ibra di AC Milan hari ini. Dengan sedikitnya komentar, dan tidak seheboh seperti sebelum-sebelumnya, Ibra, bisa disebut sebagai orang yang pulang dengan keheningan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel