War Pigs: Politisi, Perang, dan Hari Pembalasan

War Pigs: Politisi, Perang, dan Hari Pembalasan
Sumber Foto: crossoverbdg.com
Penulis: Wahyudi Pangalayo*
 
War Pigs adalah lagu klasik dari Black Sabbath yang rilis pada tahun 1970. Lagu tersebut dikenal sebagai lagu anti-perang. Mereka bukan satu-satunya band yang merilis lagu anti-perang. Pada era 60-70an banyak musisi yang mengkritik kejahatan perang melalui lagu-lagu. Sebut saja Pink Floyd, Jimi Hendrix dan musisi-musisi dari kaum hippie lainnya. Namun, bagi saya, Black Sabbath memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan pesan tersebut.

Jika para musisi atau grup band lainnya menggunakan lirik yang “cinta damai” dalam mengkritik perang, beda halnya dengan Black Sabbath. Mereka cenderung pada konotasi lirik gelap dan kelam yang kebanyakan diambil dari ritual penyembah setan. Maka tidak heran mereka mendapat stigma band satanis.

Namun, ada hal yang harus digarisbawahi di dalam lagu-lagu mereka, bahwa mereka juga tidak jarang mencampurkan lirik yang gelap dengan hal-hal religius. Hal itu bisa dilihat dalam lagu War Pigs, mereka memakai referensi dari Alkitab tentang akhir zaman.

Meskipun sama-sama mengangkat tema anti-perang, Black Sabbath mendapatkan kritik pada era 70an. Para kritikus musik memusuhi band ini karena dianggap band yang membawa perang, kematian, dan setan ke garis depan budaya populer (yang sekaligus menandai akhir dari era hippie yang penuh bunga dan cinta damai pada masa itu). Mereka tidak bisa disalahkan, karena populer sendiri berarti telah diakui banyak orang.

Pada masa 70an, Black Sabbath muncul dengan genre baru yang sekarang dikenal dengan nama Heavy Metal. Genre tersebut di dalam buku Heavy Metal: A Cultural Sociologi disebutkan dengan genre yang menggunakan lirik menyeramkan, agresif, dan menampilkan maskulinitas.

Black Sabbath sendiri dianggap sebagai Godfather dari genre tersebut. Jika berbicara tentang kualitas bermusik, lagu War Pigs dinobatkan sebagai lagu Heavy Metal terbaik dalam penilaian solo gitar versi Guitar World (majalah musik khusus gitaris di Amerika).

Salah satu lagu yang menunjang kepopuleran Black Sabbath adalah lagu War Pigs. Metafora dalam liriknya yang dianggap aneh, menjadikan band ini punya ciri khas tersendiri dalam menyampaikan pesan. Mereka mengambil tema “anti-perang” bukan tanpa sebab dan bukan juga karena ikut-ikutan band hippie.

Hal tersebut dapat dilihat di dalam buku Iron Man: My Journey Through Heaven and Hell with Black Sabbath yang ditulis oleh Tony Iommi selaku gitaris dari band ini sendiri. Ia menyebutkan bahwa mereka mendapatkan ide dalam penciptaan lagu tersebut dari kisah-kisah perang yang mereka dengar, ketika mereka manggung di Pangkalan Udara Amerika. Kemudian mereka mulai menulis lagu itu ketika mereka berada di salah satu tempat yang sepi di Zurich, Swiss.

Bedah Lirik War Pigs

Verse 1 /
Menceritakan para pemimpin atau politisi dan jenderal yang merancang serta memulai perang. Dapat dilihat pada lirik, Generals gathered in their masses, just like witches at black masses.” Kata ‘witches’ atau penyihir, erat kaitannya dengan setan yang memberikan makna bahwa sebagian besar perang dibangun oleh pikiran jahat. Tidak ada alasan yang cukup konkret pada hal ini, tapi memakai pendekatan pada kata setan sebagai definisi sederhana dari kejahatan perang akan sangat mudah dipahami.

Verse 2 /
Membahas para politisi yang memulai perang dengan pengambaran para prajurit dan rakyat miskin yang akan menjadi korban. Setelah para politisi sukses menjadi dalang perang, maka mereka akan berlindung di dalam gedung super aman, dan mereka akan memberikan sebuah peran di medan perang kepada orang miskin termasuk para prajurit.

Para politisi akan menanamkan hasrat untuk membela negara demi kepentingan mereka saja, yang sejatinya hanya kepentingan politik belaka. Hal ini merujuk pada bagian pertama, bagaimana perang muncul dari pikiran jahat.

Verse 3 /
Penggambaran bagaimana para politisi memperlakukan prajurit perang. Pada lirik, Treating people just like pawns in chess. Wait 'till their judgement day comes.” Black Sabbath memberikan perumpamaan para prajurit sebagai pion yang mana akan diperlakukan seperti permainan catur.

Mereka akan dikorbankan demi sebuah kepentingan. Sederhananya seperti ini; para prajurit sama tidak berharganya seperti pion, sedang para politisi merancang strategi kemenangan dalam bermain catur, dan ia duduk nyaman di kursinya dengan memikirkan kemenangan yang jauh lebih menguntungkan dibanding nyawa para pion.

Verse 4 /
Ini adalah bagian terakhir dari lagu ini, dan seperti yang saya katakan di awal, bahwa mereka gemar mengambil refensi dari Alkitab. Pada bagian ini mereka menggambarkan kengerian yang terjadi pada hari pembalasan. Pada liriknya, disebutkan; sebelum hari itu datang, para mayat korban perang tak lebih penting dari sebuah abu, mereka adalah para prajurit dan rakyat sipil yang harus menerima nasib yang sangat kejam dari perbuatan para politisi.

Kegelapan perang di dalam dunia sudah berhenti. Di hari pembalasan, para dalang perang tidak lagi memiliki kekuatan. Mereka akan merangkak-memohon pengampunan kepada Tuhan, tapi itu akan sia-sia.

Pada lirik, “Satan, laughing, spreads his wings,”, bahkan setan pun tertawa melihat para dalang perang itu meminta pengampunan atas apa yang mereka lakukan di dunia. Namun, sudah terlambat karena mereka akan bergabung dengan setan (yang merujuk pada lirik bagian awal lagu yang mana perang dimulai dari pikiran jahat). Disebutkan bahwa setan akan membentangkan sayapnya dan menyambut kedatangan para dalang perang yang akan menjadi bagian darinya.
*
Secara keseluruhan, lagu ini berbicara tentang para politisi yang akan selalu merasa kekurangan dan mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan sehingga bisa dengan mudah melakukan apa saja demi keuntungan. Lebih parahnya lagi, para politisi yang memulai perang itu hanya duduk nyaman di kantornya dan tidak terlalu peduli dengan nyawa para prajurit juga rakyat sipil yang mereka korbankan.

Para politisi akan mencuci otak para jenderal dan prajurit agar rela berkorban dengan apapun caranya. Maka, Black Sabbath dalam lagu ini menyampaikan pesan; perang itu jahat, dan dalang perang akan menanggung kengerian di hari pembalasan.

Refleksi Untuk Era Sekarang

Meskipun sudah setengah abad setelah dirilis, lagu War Pigs memiliki pesan yang sangat kuat untuk generasi ke generasi bahwa perang itu jahat. Menurut saya, sebuah lagu tidak memiliki arti yang literal, lagu sama halnya seperti puisimenyajikan gambar dan frasa yang menyuguhkan ide dan perasaan, lalu meninggalkan banyak ruang bagi pendengarnya untuk menemukan kepentingannya sendiri. Seperti itulah kekuatan dari sebuah lagu.

Begitu banyak perang yang telah terjadi di dunia ini. Ideologi, uang, dan kekuasan menggerakan roda perang, dan orang-orang rela mati untuk hal itu. Seorang pejuang kemerdekaan adalah teroris bagi musuhnya, seorang penjajah adalah petaka bagi musuhnya, lalu darah akan bertebaran di antara keduanya.

Bagi saya, lagu War Pigs merupakan lagu anti-perang yang paling relevan untuk saat ini yang mana rakyat-rakyat sipil digadaikan haknya dan dipaksa secara tidak langsung dijadikan prajurit dengan janji gaji besar. Sementara, para politisi akan melihat perang sebagai hal yang menguntungkan. Jelas itu bukan perang kita (prajurit dan rakyat sipil), tapi kita akan melihat diri kita ditarik ke dalam lumbung perang. Begitulah realita yang akan terjadi dengan kekuatan para politisi.

Selalu ada elit yang gila kekuasaan. Kita semua sudah tahu, pada awal tahun 2020 dengan dibunuhnya seorang jenderal di Iran, sontak hal tersebut menjadi perbincangan tentang Perang Dunia III. Beberapa orang mengecam Donald Trump karena membunuh jenderal tersebut. Jika dipikir-pikir, mereka yang mengecam Trump itu hal yang benar, tapi saya merasa ironis karena kebanyakan dari mereka pro terhadap perang, dan saya bisa lebih ironis lagi ketika mendengar perang yang beralasan kepentingan politik.

“End the War Before it Ends You”



*Lahir tahun 1998 sebagai anak Borneo. Saat ini sedang mengejar gelar sarjana di salah satu universitas negeri di Yogyakarta, menggiati Lembaga Pers Mahasiswa, menjaga nama baik komunitas film kampus, seru-seruan di Komunitas Abah Menulis, dan seorang relawan aktif dari Greenpeace Indonesia.  

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel