Tiga Doa Kegelapan dan Puisi Lainnya [Puisi]


Tiga Doa Kegelapan dan Puisi Lainnya [Puisi]

Puisi Bersama

Itu adalah kali pertama bertatap
Antara kumpulan hari-hari pada tanggal
Yang telah menanti
Saat di mana warna hijau memulai senyuman
Dan pagi itu,
Pagi terindah tatkala jiwa menggenggam tawa.

Rasakan saja, kawan
Lelah langkah mencari tangisan.
Haruskah pelukan merekuh dunia
Yang enggan menyusuri kata-kata.
Tidak dengan malam.
Hanya saja ketuka serta tulisan mulai berubah.
Menjadikan putih kertas sebuah pijakan
Yang kita isi dengan beberapa puisi
Tanpa saling menyatu.
Sentuhan pun seperti perlahan menghilang.

Tataplah saja, teman
Bintang dan beberapa dekapan takkan melawan,
Pertemuan malam dengan senja,
Di mana kita berjanji pada sebuah puisi
Yang kita ukir di siang ketiga belas,
Bulan itu,
Saat pertama kali bersitatap
Jombang, Selasa, 03 Juni 2014


Mewarnai waktu

Selamat malam waktu!!!
Kali ini aku datang membawa senyuman
Tapi lelapku melebihi mimpi-mimpi.
Yang ketika datangnya biru, mendesak
Untuk menyanyikan sebuah lagu.
Aku di sana, bintang!
Menggenggam tawa, melangkah senja.
Apakah menunggu?
Sebuah kursi taman langit, berputih awan.
Tanpa sejuk angin yang biasa menyapa.
Kali ini mereka membiarkan kita sendiri,
Berbicara pada ombak dan.
Menatap matahari pulang.
Aku masih di sana, bintang!
Mengenang masa bertabur cahaya,
Terlalu banyak mega,
Entahlah, ku kira sia-sia saja melepas rembulan.
Gelap bahkan tak merasa pelukan
Aku sudah meracau, bintang!
Bisakah lebih cepat berlari mendekap rasi?
Yang akan menghangatkan bambu-bambu
Tempatku dan sang putri meratap.
Menangis...
Merindukan sebuah suara puisi bintang!!
16 Mei 2014


Tiga Doa Kegelapan

Mengawali malam dengan senyuman
Beberapa ucapan juga tawa
Menjalin doa, tiga impian
Masa yang melangkah, depan menengadah
Terus berangan, tatapan untuk menantikan.
Saat-saat tiga menggapainya.

Warna pertama,
Biru berlangit awan, di atas bayangan teduh angin
Bergulung, bergores tinta cahaya bintag
Memeluk biru di sana.
Di antara kebahagiaan

Warna kedua,
Semu jambu merona merah,
Saling mengaitkan bunga-bunga mata.
Yang ketika bersitatap,
Matahari malu tuk menerbitkan mega...

Warna ketiga,
Merasa gulita adalah dunia,
Pilihan yang selalu ada pada dekapan jemari,
Tak kunjung habis ombak bernyanyi,
Menghiasi rasa coklat yang manis.

Dan itulah tiga doa kegelapan
Terjawab adzan, memanggil cinta
Semoga detik berbaik hati menangis pada waktu.
Kelak tiga akan menyambut,
Doa yang telah dirajut...
25 Juni 2014


Pilihan untuk Tinggal

Selamat malam, suara!!
Kali ini aku akan menjalin kata-kata
Yang ku ikat dengan segenggam cerita
Tentangku dan air mata.
Entah mengapa, pagi ini pukulanku bertahan.
Pada dinding untuk menyakiti
Sekedar tangisan, ku kira...
Jika saja tatapanku tak mengalahkan matahari..

Namun, aku berharap ia di sana
Memeluk harapan dan sebuah senyuman
Ya, dialah sahabatku yang selamanya
Berdiri mematung melukis senja...
Aku ingin sekali menemaninya.
Sebagai angin, yang akan selalu tinggal,
Tanpa memiliki pilihan angka-angka.
Dan terus bisa menggenggam jemarinya.

Satu kisah lagi, malam!
Tentang huruf awal yang sering hujan
Nada-nadanya cepat menyinari ratapan
Mendahului tuk berkata bahwa akulah cahaya
Sebelum bertanya, mengapa teman??
Bukankah kita memiliki pilihan??
Lalu, haruskah tangisan mewarnai hati??
Jika tawa dan bernyanyi telah melengkapi hari-hari??
Entahlah, malam...
1 Juli 2014

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel