Terjebak dalam Gelap dan Sehimpun Puisi Lainnya [Puisi]


Terjebak dalam Gelap dan Sehimpun Puisi Lainnya [Puisi]
Sumber Foto: inilah.com

Puisi yang Gagal


Hari-hari,

Aku kecewa padamu…

Entah apa, kau tak lagi membuatku tersenyum

Berselimut cahaya redup

Aku tak harus berbuat apa-apa

Karena hari-hari akan melengkapi

Semua kegagalanku pada puisi





Apakah Aku Tetap Bisa Menyentuh Pagi tanpa Memandang?


Kursi yang ku hampiri mengeluh bosan

Di balik genangan tulisan

Membanjiri setiap katanya

Dengan hujan.

Dan hujan lagi.

Membuatku enggan untuk merasa

Hati yang terlipat,

Menghitam seiring pecahnya awan.



Sebuah senyuman,

Di ujung lantai ketiga dari kotaknya.

Menerbitkan pagi

Entah dia menghilang tersentuh matahari

Hampa pandanganku.

Takkan bisa meraihnya lagi

Pagi, tolonglah



Untuk sekali ini aku menangis

Melihat kenyataan yang gelap

Dan aku tetap saja bertanya

Apakah akan selalu terjawab?

Apakah aku tetap bisa menyentuh pagi

Tanpa memandang?





Terjebak Dalam Gelap


Di ujung lorong yang tak berlantai

Telah menyapa senyumanmu,

Sambil berlalu tetap ku sambut,

Takkan ku biarkan bulan itu

Merebutnya kembali

Dari hujan-hujan, juga genangannya.



Akulah seseorang yang menulis

Pada dunia tentang kita

Seandainya saja kau tahu sebutir kenangan

Di sanalah tak akan ku lepas tatapan



Akulah musik yang bermain suara

Menyanyi saat kau ajak aku dalam cerita

Tertawa lepas memulai senja

Entah di mana lubang kunci itu berada,

Tatkala telah ku temukan kata-kata untuk membukanya.

Membuka mataku saat terjaga

Seandainya saja kau di sana

Dengan senyumanmu yang biasa.

Menemaniku mencari dalam gelap

Dan ketika aku terjebak.





Tentang Huruf Kedua


Huruf kedua setelah kata-kata

Terlambat saat aku menunggu

Tetapi senyuman tidak menghilang

Tatapannya pun merekat sejuk

Membawa setiupan angin

Yang berhembus melewati pikiranku,

Tentangnya, huruf kedua…



Huruf kedua yang ku gambar hitam

Melekat erat tergenggam hatiku

Sekalipun tanpa tawa lagi,

Kepergian matahari cukup membuatnya sendiri

Dalam pelukan dunia.

Terimalah maafku pada hujan, pada tangisan.

Janji malam tak akan pernah melepas.

Tatapan juga nyanyiannya.

Di antara bait-bait puisi.

Di sana lah kita bertemu merangkul dingin.

Karena kau lah huruf kedua.



Huruf kedua berbentuk jemari

Selalu sama denganku

Sedikit lebih besar.

Tak apalah…

Selama tergenggam jemari besar itu,

Selama itu ku kenang huruf kedua.

19 Maret 2014

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel