Sependek tentang Pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara


Sependek tentang Pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara
Sumber Foto: ihsannid.blogspot.co.id

Pendidikan adalah hal yang mutlak bagi siapa pun. Segala bangsa, segala suku, dan segala agama menganjurkan untuk menempuhnya. Tidak peduli tua-muda, sangat dianjurkan menjalaninya sampai ia tidak mampu lagi. Bukan hanya untuk kemaslahatan, tapi agar menjadi bekal bagi segala yang pernah melakukannya. Anehnya, pendidikan dewasa ini malah dijadikan visi-misi dari sebuah bangsa, dan menjadi tujuan final. Tidak hanya itu, pendidikan malah dijadikan ukuran bahwa suatu bangsa dikatakan berhasil.

Tulisan ini, bukan ingin menyalahkan hal tersebut. Akan tetapi, tulisan ini mencoba masuk dalam pakem yang sudah teredusir sedemikian rupa itu. Karena, dalam mendefinisikan “pendidikan” setiap pribadi punya penilaian masing-masing, dan tolak ukur masing-masing pula. Hal inilah yang penulis kira tidak bisa untuk diseragamkan. Apalagi jika dipakemkan menjadi suatu doktrin yang saklek. Jika hal semacam ini terus berlangsung, bukan hanya akan ikut menghambat kemajuan, akan tetapi juga menandakan enggan menghadapi yang namanya perubahan.

Tulisan ini, adalah hasil dari sedikitnya kemampuan penulis menyadur acara ngaji filsafat yang penulis ikuti. Kebetulan, tema ngaji filsafat yang penulis ikuti ini bertema pendidikan. Dan lebih spesifik membahas tokoh pendidikan Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara.

Sedikit cerita, penulis berkenalan dengan tokoh yang satu ini justru tidak dari karya-karyanya. Semasa kuliah, penulis sendiri pernah mengambil mata kuliah yang diampu oleh cucu Ki Hajar Dewantara. Mata kuliah yang penulis ambil adalah Konseling Krisis. Dari kisah yang dituturkan cucu Ki Hajar Dewantara lah, penulis sedikit mengenal sosok tokoh pendidikan yang satu ini.

Masyhurnya nama beliau, nyatanya tidak sebanding dengan apa yang dinikmati oleh keturunannya. Walaupun tidak bisa dipungkiri, melalui peran Ki Hajar Dewantara lah, keturunannya punya kebiasaan yang berbeda dari orang kebanyakan. Contohnya dalam hal menempa diri, dan cara berpikir. Dosen saya tadi misalnya, sejak kecil sudah dibiasakan untuk berpikir lebih filosofis, atau dalam artian, memikirkan sesuatu harus paham makna dan tujuannya.

Tidak hanya berpikir filosofis, dosen saya itu, sejak kecilnya sudah dibiasakan untuk berpikir hal yang besar. Kenapa hal yang besar? Karena menurutnya, melalui kebiasaan berpikir besar itulah semangat untuk meningkatkan kulaitas diri akan lebih besar pula. Hal itulah yang menjadikan dosen saya itu beserta saudara-saudaranya dan anak-anaknya, menjadi orang yang tangguh dan tahan banting.

Kembali pada pembahasan awal, sangat menarik jika kita mencermati arti “pendidikan” menurut Ki Hajar Dewantara. Menurutnya, pendidikan bukanlah final dari tujuan hidup seseorang maupun suatu bangsa. Pendidikan, seharusnya dijadikan tuntunan segala kodrat yang dimiliki manusia, untuk mencapai yang namanya “kebahagiaan.” Hal tersebut, dikarenakan pendidikan tidak bisa mengubah kodrat dari seseorang. Pendidikan hanya mampu untuk merawat dan menuntun kodrat tersebut. Selebihnya, setiap pribadi lah yang akhirnya menentukan.

Tujuan pendidikan, nyatanya tidak hanya sekedar mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang kita pahami sekarang ini. Lebih luas dari itu, tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara ada tiga. Yaitu menjaga dan merawat diri, bangsa dan alam semesta. Menjaga dan merawat diri, bisa diartikan bahwa pendidikan harusnya bermanfaat pada diri sendiri. Dengan kata lain, pendidikan harusnya bisa dirasakan manfaat serta maslahatnya oleh diri sendiri. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika pendidikan memang disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.

Menjaga dan merawat bangsa, secara tidak langsung menjadi paham yang paling sering digembor-gemborkan sekarang ini. Dan menjadi narasi mayoritas yang harus diamini. Hal ini tidak salah, akan tetapi tidak sepenuhnya benar. Karena, bangsa juga menjadi tempat bernaung dan habitat dari setiap individu yang menempuh pendidikan. Akan tetapi, jika hal tersebut menjadi narasi yang tunggal dan meniadakan yang lain, bisa diartikan kalau ikut juga meniadakan manfaat yang seharusya bisa dinikmati oleh setiap individu tadi.

Terakhir, menjaga dan merawat alam semesta. Tujuan inilah yang kiranya sudah banyak kita lupakan sekarang ini. Pendidikan, nyatanya hari ini lebih mengedepankan keuntungan, baik yang sifatnya materil ataupun tidak. Selain itu, pendidikan juga sudah dibentuk sedemikian rupa agar memperoleh keuntungan yang sebanyak-banyaknya, tanpa perlu memikirkan keberlangsungan alam dan lingkungan yang ada. Entah dengan dalih yang bagaimana, seyogyanya begitulah pendidikaan kita hari ini, dan kita dipaksa untuk menikmatinya.

Ketidakpedulian kita terhadap alam, justru berbanding lurus dengan narasi yang dibangun pemerintah hari ini. Ketika industrialisasi sudah masuk ke wilayah pendidikan, maka logika yang terbangun harus menyesuaikan hal tersebut. Tidak hanya itu, upaya pendidikan untuk melestarikan alam, nyatanya sering dianggap kontra produktif oleh pemerintah kita. Yang akhirnya mau tidak mau, alam dan lingkungan menjadi korban tanpa bisa membela diri.

Tidak perlu lebih jauh, karena tulisan ini memang tidak fokus kepada alam dan lingkungan beserta perangkat-perangkatnya. Tulisan ini, memang hanya ingin membahas sependek pengetahuan penulis tentang Ki Hajar Dewantara. Dan lebih spesifik pada pandangan beliau soal pendidikan. Tiga hal menurut Ki Hajar Dewantara selanjutnya, adalah soal posisi dalam pendidikan yang seharusnya kita pahami dan cermati. Posisi yang dimaksud adalah, ketika penempuh pendidikan berada di fase-fase pendidikan itu sendiri.

Fase yang saya maksud adalah, di depan, di tengah dan di belakang. Ketiga posisi ini, sebenarnya penulis dengar ketika mengaji filsafat, disampaikan dalam istilah Jawa. Akan tetapi, saya akan mencoba menulis dan menjelaskannya dengan bahasa Indonesia, tentu sesuai cara dan sependek kemampuan yang saya punya.

Pertama, posisi saat kamu berada di depan. Yang dimaksud Ki Hajar Dewantara, ketika kita sudah mengetahui perihal sesuatu,  atau lebih paham tentang suatu hal, alangkah baiknya kita menjadi pemimpin. Pemimpin yang dimaksud adalah, pemimpin yang seharusnya memimpin selayak dan sebijak-bijaknya pemimpin. Dengan kata lain, ketika jadi pemimpin—karena lebih pintar dan paham tentang suatu hal—tidak perlu merasa lebih bisa atau menyombongkan kemampuan yang dimiliki.

Kedua, posisi saat kamu berada di tengah. Posisi ini yang menurut saya sangat strategis. Menurut Ki Hajar Dewantara, posisi ini adalah posisi yang paling tepat untuk mengarahkan sesuatu atau seseorang. Karena, ketika di posisi inilah seseorang bisa menghantar seseorang—yang berada di belakang—untuk menjadi pemimpin nantinya. Yang selanjutnya menjadi posisi paling prestise dan berpengaruh dalam ranah pendidikan. Untuk bentuk dan contohnya, dikembalikan pada masing-masing.

Ketiga, posisi saat kamu berada di belakang. Yang dimaksud Ki Hajar Dewantara, posisi ini saat kita baru tahu tentang sesuatu dan menjadi pemula. Tugas di posisi ini, tidak hanya menjadi pembelajar dan lebih sering mengamini. Akan tetapi, juga menjadi pendukung dan menguatkan, serta memberdayakan. Yang akhirnya, bisa diartikan sebagai fondasi dan penyokong di posisi-posisi yang saya sebutkan sebelumnya.

Sekianlah sependek tentang pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yang penulis pahami. Tulisan ini tentunya banyak kekurangan, dan terkesan lebih biasa saja. Hal ini penulis sangat sadari dan menjadi kekurangan penulis pribadi. Akhir kata, penulis juga mempersilahkan kritik pada tulisan receh satu ini. Kritikan yang sekiranya tidak pandang bulu, agar nantinya bertujuan supaya penulis juga mengenal lebih dalam sosok tokoh pendidikan yang satu ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel