Sepakbola, Rasisme, dan Paradoks Manusia Modern

Sepakbola, Rasisme, dan Paradoks Manusia Modern
Sumber Foto: metro.co.uk
Penulis: Willy Vebriandy

Untuk kesekian kalinya, rasisme kembali terjadi dalam dunia sepakbola. Kali ini, perilaku tak beradab tersebut menimpa pemain F.C. Porto, Moussa Marega, saat pertandingan lanjutan Liga Portugal pekan ke 21, antara tuan rumah Victoria Guimares menghadapi F.C. Porto, Minggu (16/2/2020).

Pada laga yang dimenangkan oleh Victoria ini, Moussa menerima perlakuan rasis dari para pendukung tuan rumah. Tindakan rasis tersebut terjadi tidak hanya ketika pertandingan sedang berlangsung, melainkan terjadi sejak sebelum kick off dimulai.

Mendapat perlakuan pengecut semacam itu, Moussa membalas dengan merayakan gol yang ia ciptakan dengan berlari sambil menunjuk tangannya yang berwarna hitam kepada para penonton. Dengan menunjuk warna kulitnya, Moussa seakan memberi pesan, “Ini kulit gua yang lu katain dari tadi, mau apa lu?”.

Tindakan ini, sialnya malah mendapat ganjaran kartu kuning dari wasit. Moussa yang sedari awal telah emosi, langsung pergi meninggalkan lapangan, meskipun telah dibujuk oleh para teman dan pelatihnya. Sambil berjalan, Moussa mengacungkan jari tengah kepada para penonton. Moussa seakan tidak peduli dengan semua cemoohan dan bujukan yang dialamatkan kepadanya. Baginya, meninggalkan lapangan adalah pilihan terbaik dalam situasi yang serba tidak adil tersebut.

Apa yang menimpa Moussa adalah situasi menyedihkan sekaligus memalukan dalam sepakbola modern. Hal tersebut menjadi kelanjutan dari berbagai tindakan rasis yang sebelumnya pernah terjadi dalam dunia sepakbola. Masih segar di ingatan bagaimana pemain Partizan Belgrade, Everton Luiz, menangis seusai laga antara klubnya menghadapi tuan rumah Red Belgrade dalam pertandingan lanjutan Liga Serbia, 19 Februari 2017 lalu.

Dalam laga tersebut, Luiz mendapat perlakuan rasis dari pendukung tuan rumah sepanjang pertandingan berlangsung. Para penonton melontarkan ejekan dan membentangkan spanduk yang berisi kata-kata rasis terhadap Luiz. Luiz yang kesal, di akhir laga kemudian menghampiri penonton tuan rumah sambil mengacungkan jari tengah.

Tindakan Luiz anehnya justru diprotes oleh para pemain Red Belgrade. Mereka tidak setuju dengan apa yang dilakukan Luiz karena dituding memprovokasi. Hal itulah yang membuat Luiz menangis.

Apa yang menimpa Luiz, juga menimpa banyak pemain sepakbola lainnya. Bintang Sao Paulo asal Brasil, Dani Alvez, ketika masih membela Barcelona juga pernah mendapat perlakuan rasis dari para penonton.

Tindakan rasis itu ia dapatkan saat pertandingan antara Villareal menghadapi Barcelona di lanjutan pertandingan Liga Spanyol, 29 April 2014. Alvez dilempari pisang oleh pendukung Villareal saat hendak menendang sepak pojok. Dengan melempar pisang, para pendukung Villareal mengejek Alvez yang bagi mereka mirip dengan monyet.

Bila Everton Luiz menangis setelah mendapat tindakan rasis, lain halnya dengan Alvez. Ia justru mengambil pisang tersebut dan memakannya di depan para pendukung Villareal, sambil kemudian menendang sepak pojok seperti tidak terjadi apa-apa.

Tindakan ini mendapat pujian banyak orang, karena secara tidak langsung memberi pesan bahwa Alvez sebagai target teror tidak terintimidasi dengan tindakan para pelaku rasis. Dengan memakan pisang, Alvez justru malah mengesankan semacam perlawanan simbolik.

Kisah di atas menjadi tragedi kelam bagaimana praktik tak berprikemanusiaan terjadi dalam sepakbola. FIFA sendiri sebagai induk sepakbola dunia sudah sejak lama mencanangkan perang melawan rasisme. Berbagai kampanye untuk meminimalisir atau menghilangkan rasisme telah dilakukan kemana-mana, tapi pada praktiknya rasisme belum juga hilang.

Pertanyaannya kemudian, mengapa rasisme masih muncul pada perkembangan sepakbola modern? Padahal, kehidupan dunia saat ini dianggap telah maju dengan perkembangan ilmu pengetahuan beserta teknologi yang menyertainya. Namun, mengapa rasisme justru masih terus tumbuh subur dalam sepakbola?

Rasisme dan Paradoks Manusia Modern

Fenomena rasisme dalam sepakbola bukanlah fenomena yang unik, maksudnya ia bukan fenomena yang terjadi hanya di sepakbola. Namun, dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas, rasisme adalah salah satu fenomena yang mewarnai kehidupan modern. Rasisme dalam sepakbola hanya sebagian kecil dari fenomena rasisme dalam masyarakat.

Bila dilacak kebelakang, rasisme sudah muncul sejak ratusan tahun lalu. Para ahli sejarah banyak yang berbeda pendapat mengenai awal mula rasisme. Ada yang mengatakan bahwa awal kemunculan rasisme adalah saat bangsa Eropa melakukan kolonialisme terhadap negeri-negeri di Asia, Afrika, dan Amerika. Ada pula yang menyebut bahwa jauh sebelum itu rasisme telah muncul. Namun yang pasti, seluruhnya sepakat bahwa kolonialisme adalah salah satu faktor kemunculan rasisme.

Ketika kolonialisme terjadi, hal itu berdampak dengan memunculnya perbudakan di negeri jajahan. Orang-orang berkulit hitam/berwarna di wilayah koloni ini kemudian dijadikan budak oleh orang Eropa. Bersamaan dengan perbudakan inilah kemudian rasisme tumbuh subur dalam masyarakat Eropa.

Rasisme, karena telah berlangsung sekian lama, ia kemudian sedikit demi sedikit menyatu dengan kehidupan orang Eropa. Cara pandang yang melihat orang dari negeri koloni sebagai orang kelas dua atau anggapan bahwa orang kulit putih lebih baik dari orang kulit hitam/berwarna, seiring berjalannya waktu menjadi pandangan umum orang Eropa. Kepercayaan ini yang lalu terus bertahan hingga ratusan tahun.

Ketika Revolusi Prancis meletus tahun 1789, yang berubah hanya tatanan politiknya semata. Pandangan rasis masyarakat tetap tidak berubah. Hal itu bisa dilihat dari cara orang Perancis memperlakukan orang-orang di negeri koloni. Kondisi serupa juga terjadi di Amerika Serikat (AS).

Ketika AS merdeka dari Inggris tahun 1776, orang-orang AS yang sebagian besar pendatang dari Inggris juga masih melanggengkan praktik rasisme. Hal tersebut bisa diperhatikan ketika awal kemerdekaannya, AS tidak menghapus sistem perbudakan yang ada di negerinya.

Padahal, sistem perbudakan inilah yang menjadi salah satu sebab pelanggeng praktik rasisme. Saat perbudakan dihapus oleh Presiden Abraham Lincoln, yang dihapus hanya praktik perbudakannya semata, praktik rasisme yang merupakan saudara kandungnya tidak terhapus begitu saja.

Rasisme adalah warisan nyata dari kolonialisme yang masih berbekas hingga kini. Walau eskalasi pengaruhnya tidak sebesar dulu, tapi praktik rasisme masih terus ada dalam kehidupan kita. Kasus rasisme yang muncul dalam sepakbola adalah contoh riil bagaimana rasisme masih terus hidup dalam peradaban modern.

Rasisme masih terus ada karena ia telah menyatu dengan kehidupan masyarakat modern. Ia telah menjadi cara pandang yang merasuki alam bawah sadar tanpa disadari banyak pihak. Bila dulu praktik rasisme biasa dilakukan oleh pihak kolonial, dalam konteks terkini rasisme juga bisa dilakukan oleh semua orang, tidak hanya oleh orang-orang dari negeri penjajah seperti era kolonialisme dulu.

Oleh karena itu, tak heran jika kemudian cara pandang diskriminatif yang didasarkan semata berdasar warna kulit, ras, dan etnis masih terus ada hingga detik ini. Bahkan di beberapa negara besar, politik yang didasarkan rasisme justru dijadikan kebijakan dalam pemerintahannya.

Hal demikian menjadi semacam paradoks tersendiri dalam kehidupan modern. Bagaimana mungkin, dalam zaman yang konon dicirikan dengan pengagungan rasio atau akal budi, praktik rasisme yang jelas-jelas tidak rasional justru masih ada. Kondisi ini tak berbeda jauh dengan apa yang dulu pernah Max Horkheimer dan Theodor Adorno katakan dalam bukunya Dialectic of Enlightenment: Philosophical Fragments (1944).

Dalam buku ini, keduanya mengatakan bahwa modernitas, yang awalnya dianggap akan membebaskan manusia dari segala keterkungkungan, justru masuk dalam keterkungkungan baru. Keduanya menyebut peristiwa Perang Dunia dan munculnya Nazi sebagai contoh dari bagaimana semangat emansipasi yang mendasari modernitas, justru jatuh dalam keterkungkungan baru. Apa yang dikatakan Horkheimer dan Adorno puluhan tahun lalu tersebut, kini menemukan bentuk barunya dalam praktik rasisme dalam kehidupan sehari-hari.

Rasisme dan Emansipasi

Rasisme hanya bisa dihadapi dengan cara dilawan. Rasisme tidak akan mungkin hilang hanya dengan kampanye, seminar, atau publikasi karya ilmiah. Rasisme hanya bisa disikapi dengan dilawan secara terbuka. Bagaimana bentuk perlawanannya tentu beragam tergantung gradasi dan dimensi yang ada. Hal ini berlaku untuk semua hal, termasuk dalam sepakbola.

Dalam dunia sepakbola, rasisme tidak mungkin lenyap apabila seluruh stakeholder sepakbola hanya sibuk mengutuk, menghimbau atau sebatas mengkampanyekan bahaya rasisme. Rasisme tidak mungkin hilang hanya dengan hal itu. Rasisme hanya bisa dilawan secara terbuka. 

Contoh perlawanan terbuka ini dapat dilihat dari cara Dani Alvez merespons tindakan rasis yang menimpanya. Tindakan Alvez yang memakan pisang yang dilempar kepadanya adalah bentuk perlawanan yang luar biasa terhadap rasisme. Dengan memakan pisang, Alvez tidak mengikuti kemauan para pelaku rasis yang mengharapkan Alvez akan marah atau terintimidasi dengan hal itu. Alvez menunjukan bahwa ia punya mental untuk tidak kalah dari para rasis tersebut.

Hal seperti itulah yang harusnya dilakukan para pesepakbola. Mereka tidak boleh jatuh dalam psywar yang dilakukan para pelaku rasis. Karena membuat korban intimidasi rasis jatuh secara mental adalah tujuan utama para pelaku rasis. 

Hal demikian tentu bukan berarti memandang remeh tindakan yang dilakukan pemain sepakbola lain, macam Moussa Marega dan Everton Luiz yang secara simbolik berbeda dengan yang dilakukan Alvez. Apa yang dilakukan keduanya, masih dalam koridor perlawanan terbuka terhadap rasisme, meskipun bentuk dan dimensi perlawanannya berbeda.

Perlawanan terbuka terhadap rasisme ini harusnya juga dilakukan oleh para pemangku kebijakan. FIFA sebagai institusi yang berwenang mengatur pelaksanaan sepakbola di dunia, harus menyadari bahwa rasisme tidak akan hilang tanpa perlawanan terbuka secara nyata. Kampanye anti rasisme yang selama ini dilakukan FIFA, haruslah dibarengi dengan tindakan tegas dalam bentuk sistem dan hukuman keras kepada siapapun yang terlibat rasisme.

Hukuman keras di sini, bisa berupa larangan menonton sepakbola seumur hidup, mendegradasi tim yang didukung para pelaku rasis, melarang keikutsertaan klub dalam kompetisi internasional, melarang penonton hadir dalam tiap pertandingan, atau yang lebih keras membubarkan klub tersebut selamanya.

Hukuman keras demikian bisa saja dilakukan sebagai simbol ketegasan dalam upaya melawan rasisme. Toh dalam sejarah, hukuman keras seperti ini sudah pernah terjadi. Larangan bermain terhadap seluruh klub Inggris di kompetisi Eropa pasca tragedi Heysel 1985 adalah contoh bagaimana hukuman keras dipakai dalam sepakbola dan berhasil secara signifikan mengubah wajah sepakbola Inggris.

Artinya, tidak ada alasan untuk tidak melakukan tindakan tegas atas segala penyimpangan yang terjadi dalam sepakbola, termasuk dalam kasus rasisme. Apapun bentuk perlawanannya, yang pasti rasisme tidak bisa dibiarkan. Membiarkan rasisme hidup sama saja dengan membiarkan peradaban kita rusak. Melawan rasisme adalah upaya menjaga peradaban tetap utuh.



Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Kader PMII Yogyakarta

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel