Secarik Kisah yang Mengharuskan Kesetaraan Dimulai dari Seksualitas

Secarik Kisah yang Mengharuskan Kesetaraan Dimulai dari  Seksualitas
Sumber Foto: sukabumiupdate.com
Ini penting untuk saya utarakan di awal. Dalam tulisan ini, saya akan membagi pengalaman pribadi saya. Terserah jika tulisan ini pada akhirnya dinilai jujur atau tidak. Tapi, bagi saya pribadi, tulisan ini adalah tulisan yang terlalu jujur yang pernah saya buat.

Kenapa bisa terlalu jujur? Pasalnya, apa yang saya tuliskan ini adalah rahasia pribadi sejak lima tahun silam. Dan lima tahun pula saya menyimpan hal ini. Bahkan, orangtua saya sekalipun tidak tahu-menahu soal ini.

Lantas, alasan apa yang membuat saya menuliskannya? Alasannya cuma karena satu hal, dan diwakili oleh satu kata; “kegelisahan.”

Ya, karena kegelisahan saya terhadap konsep kesetaraan, yang saya anggap belum sepenuhnya selesai hari ini.

Ada sebuah pelajaran menarik yang bisa kita ambil dari buku otobiografinya Om Ben Anderson, yang berjudul Hidup Di Luar Tempurung.

Dalam buku itu, pesan yang saya tangkap adalah; “kegelisahan yang dirasakan seseorang, seringkali berawal dari konstruk dan stereotip yang melekat pada masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.”

Konstruk dan stereotip tersebut, akhirnya membuat seseorang hidup berada dalam tempurung. Sesuatu yang berbeda dari mayoritas pada umumnya, akan langsung dinilai sebagai sebuah anomali.

Yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal semacam itu, adalah belajar untuk hidup dengan cara berada di luar tempurung. Karena pada dasarnya, kehidupan seseorang tidak akan bisa dihakimi oleh penilaian yang sifatnya subjektif dan relatif.

Lengkapnya begini pengalaman yang saya dapat lima tahun silam..

Waktu itu, saya masih anak sekolahan. Saya sekolah di salah satu SMA negeri. Sekolah saya ini terbilang masih baru, karena angkatan saya adalah alumni kelima.

Seperti sekolah baru pada umumnya, fasilitas yang ada belumlah lengkap, tenaga pengajar juga kadang tidak sesuai bidangnya, bangunan masih ada yang belum dicat sepenuhnya, dan banyak kekurangan-kekurangan lain.

Dari sekolah yang penuh kekurangan ini, saya yang masih anak sekolahan waktu itu, sudah terbiasa dengan yang namanya “kekurangan”.

Alasan saya sekolah di sekolah ini, salah satunya juga karena kondisi ekonomi keluarga waktu itu yang serba “kekurangan.” Saya sempat memutuskan untuk berhenti sekolah, tapi waktu itu Ibu saya melarang. Ibu bilang; “Pasti ada saja rejeki buat saya sekolah.”

Mendengar nasehat ibu yang seperti itu, menguatkan kembali niat saya untuk melanjutkan sekolah. Dengan modal sepatu pemberian teman, saya bisa mengikuti sekolah seperti teman-teman lain pada umumnya.

Dari kondisi serba kekurangan itulah, pada akhirnya mempertemukan saya dengan yang namanya konsep kesetaraan...

Untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga waktu itu, saya memutuskan untuk bekerja setelah pulang sekolah. Saya bekerja pada seseorang yang kebetulan punya lahan sawit beberapa hektar. Lahan sawit tersebut masuk dalam bagian koperasi unit desa (KUD). Mantan bos saya adalah salah satu anggota dari KUD di kecamatan saya.

Poin penting tulisan ini, sebenarnya berkaitan dengan mantan bos saya ini.

Mantan bos saya itu adalah seorang laki-laki, yang umurnya lebih tua dari kedua orangtua saya. Tetapi, saya memangilnya dengan sebutan “Mas.” Selain agar terkesan lebih akrab, alasan lain saya memanggilnya dengan sebutan “Mas”, karena mengikuti teman-teman saya yang sudah lebih dulu bekerja untuknya.

Selama bekerja dengannya, bukan uang yang menjadi prioritas. Namun pengalaman bekerja yang lebih ditekankan. Aku dan teman-teman yang lain, dituntut untuk menjadikan kejujuran sebagai hal yang wajib.

Mantan bos saya ini, termasuk orang yang—akrab kita kenal dengan—kemayu. Sudah menjadi rahasia umum, kalau mantan bos saya ini juga menyukai laki-laki. Laki-laki yang disukainya biasanya memang lebih banyak anak sekolahan, atau yang terbilang masih muda.

Ketika awal-awal saya bekerja dengannya, omongan yang semacam itu tidak pernah saya gubris. Alasannya karena, pertama, niat saya memang untuk fokus mencari pemasukan tambahan untuk keluarga. Kedua, saya tipikal orang yang sulit percaya jika tidak membuktikannya sendiri.

Ketiga, fakta yang terjadi, mantan bos saya itu sudah menikah dan punya dua anak. Terakhir, saya sejak dulu memang tidak pernah mempermasalahkan kecenderungan seksual seseorang.

Pada suatu malam, saya berkunjung ke rumah mantan bos saya itu. Malam itu, kebetulan saya memang tidak bersama teman-teman yang lain. Saya memang sengaja berkunjung sendirian, karena saya berniat meminjam uang pada mantan bos saya itu.

Sebelum to the point untuk meminjam uang, ada sebuah obrolan yang berlangsung antara saya dan mantan bos saya itu.

Dari obrolan malam itu, mantan bos saya membenarkan kalau dia memang menyukai laki-laki, khususnya anak muda. Bahkan, bos saya menyebutkan lebih detail tipikal laki-laki yang disukainya.

Saya yang mendengar hal tersebut, pada akhirnya juga merasa aneh. Bukan karena saya jijik, takut, atau semacamnya. Akan tetapi, karena pikiran naif saya waktu itu belum mampu mencerna fenomena tersebut.

Saya yang masih anak sekolah, belum tau penyebab kenapa ada orang yang orientasi seksualnya sesama jenis, tapi juga menikah dengan lawan jenis. Bahkan sampai punya anak dua. Setidaknya begitu pikiran saya waktu itu.

Setelah itu, hubungan saya dengannya masih baik-baik saja. Saya masih bekerja untuknya, dan mantan bos saya masih menggaji saya sesuai hasil kerja yang saya lakukan.

Pada suatu siang, di sela-sela istirahat kerja, mantan bos saya ke lahan sawit untuk mengecek hasil pekerjaan saya dan teman-teman yang lain. Seperti biasanya, di waktu istirahat seperti itu, kami mengobrol apa saja yang bisa diobrolkan.

Karena saya sudah tahu sedikit banyak soal seluk beluk usaha sawit kepunyaan mantan bos saya ini, saya dengan iseng melontakan sebuah pertanyaan; “Kenapa Mas gak jadi ketua KUD saja?”, tanya saya waktu itu

Beliau pun menjawab; “Haduh, yang jadi ketua KUD itu harus orang yang berpendidikan tinggi yo. Saya kan cuma tamatan SMA, bukan sarjana. Selain itu, orang kayak saya gak pantas menduduki jabatan seperti itu, kan saya gak bisa tegas”, ungkapnya.

Waktu itu, yang menjabat sebagai ketua KUD di kecamatan saya memang seorang sarjana. Selain itu, orang tersebut adalah DPR tingkat kabupaten.

Pikiran naif dan normatinya saya pada waktu itu, menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Akan tetapi, ketika mantan bos saya mengatakan “orang semacam dia tidak pantas menjadi ketua KUD,” yang saya tangkap, nada bicara dan ekspresi wajahnya berubah seketika.

Arti tanda perubahan nada bicara, dan ekspresi wajah itu, baru saya sadari sekarang-sekarang ini.

Dari nada bicara dan ekspresi wajahnya yang berubah, saya menangkap pesan kalau mantan bos saya merasa inferior. Dugaan kuat saya, penyebabnya karena seksualitas mantan bos saya tersebut yang sudah menjadi rahasia umum.

Untuk ukuran orang-orang di desa, tentu hal tersebut jadi semacam aib. Kenapa bisa begitu? Pasalnya, untuk ukuran di kota-kota besar saja, kita masih belum bisa ramah terhadap orienrasi seksual atau seksualitas seseorang.

Ini yang menjadi kritik saya pribadi. Konsep kesetaraan, seringkali belum sampai pada tahap memasukkan seksualitas menjadi nilai-nilai yang prinsipil. Dengan kata lain, seksualitas belum menjadi indikator dari apa yang disebut dengan kesetaraan itu.

Tidak terlalu berlebihan kiranya--berdasarkan pengalaman saya pribadi—masih kita temui orang-orang yang memperjuangkan kesetaraan sebatas pada jenis kelamin.

“Bahwasannya, kesetaraan antara perempuan dan laki-laki adalah hal yang mutlak.”

Oke, hal tersebut benar. Akan tetapi, tidak sepenuhnya benar.

Pasalnya, jika membicarakan soal kesetaraan, realita yang terjadi hari ini lebih kompleks.

Contohnya begini…

Ada seseorang yang sering mengikuti agenda yang membicarakan soal kesetaraan. Ketika itu masih menyangkut kesetaraan yang sifatnya pada jenis kelamin, orang tersebut sangat menggebu-gebu, dan seakan menjadi orang yang paling adil sejak dalam pikiran.

Namun, orang tersebut akan langsung berubah sikapnya, jika bertemu—misalkan—laki-laki yang menyukai laki-laki juga. Dari yang tadinya, sangat bersemangat bicara soal kesetaraan, akhirnya menjadi orang yang mengambil sikap bodoh amat, karena mengetahui orientasi seksnya berbeda dari yang ia setujui dan amini.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Apakah ada yang salah dengan konsep kesetaraan yang kita pahami secara umumnya? Atau memang, konsep kesetaraan selama ini belum lengkap, dan ideal? Atau, seksualitas itu sendiri sebenarnya malah terpisah dengan konsep kesetaraan?

Dengan kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritas orientasi seksnya heteroseksual, kedudukan orang-orang yang orientasi seksnya di luar itu, menjadi minoritas. Yang secara tidak langsung, akan selalu menjadikan orang-orang non heteroseksual menjadi warga kelas dua.

Artinya, orang-orang yang orientasi seksnya non heteroseksual, akan selalu didominasi dan seperti hidup dalam tempurung. Jika seperti ini kondisinya, pasti akan selalu ada anggapan yang sebenarnya kurang adil, kalau memakai kacamata kesetaraan.

Menurut saya pribadi, konsep kesetaraan hari ini sudah harus lebih diperluas ranahnya. Tidak lagi hanya terbatas pada soal jenis kelamin, namun juga sudah harus mencakup kepada seksualitas.

Mengutip kembali kata-katanya Om Ben Anderson, jika ingin mematahkan konstruk dan stereotip yang kesannya mengekang, kita sebagai orang yang peduli soal kesetaraan, haruslah mampu hidup dengan gaya dan cara di luar tempurung. Agar tidak ada lagi diskriminasi kepada golongan tertentu.

Tulisan ini, sebenarnya juga berangkat dari motivasi dan dorongan yang diberikan oleh Om Ben Anderson dalam bukunya itu. Semoga, tulisan ini pada akhirnya bisa menjadi bukti usaha serius saya, yang ingin mencoba cara hidup di luar tempurung.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel