Secarik Kisah yang Kompleks tentang Eksploitasi Pekerja Warkop


Secarik Kisah yang Kompleks tentang Eksploitasi Pekerja Warkop
Sumber Foto: aktualitas.id

Kisah ini bermula dari obrolan teman-teman saya di salah satu warung kopi. Waktu itu, saya murni jadi pengamat, dan hanya mendengarkan obrolan yang sedang berlangsung. Bukan karena tidak tertarik dengan topik obrolannya. Akan tetapi, karena saya sadar diri posisi saya yang berada di luar dari konteks yang sedang dibicarakan. Ya, obrolan waktu itu soal eksploitasi yang dialami oleh pekerja di warung kopi (warkop).

Sebelumnya, tulisan yang seperti ini pernah dimuat disitus web LPM Arena. Dengan judul tulisan yang hampir sama, tulisan ini tidak berniat menyamai atau membantah tulisan tersebut. Akan tetapi, tulisan ini lebih kepada mencoba mewarnai kisah yang sama. Tentunya dengan cara pandang yang sama sekali berbeda. Karena, tulisan ini hanya sekedar secuil kisah yang dialami oleh teman saya.

Langsung saja dan tak perlu berlama-lama, selengkapnya begini kisah yang ingin saya bagi:

Hari itu sudah menjelang siang. Setelah lelah semalaman bermain kartu, teman saya sebut saja si A dan B membuka obrolan. Teman-teman saya ini membuka obrolan karena melihat teman saya si C—yang bekerja di warkop—mengalami kecelakaan bekerja. Waktu itu, mata teman saya si C terkena panci menanak nasi. Sontak saja, hal itu meninggalkan bekas di dekat matanya. Lucunya, bekas terkena panci panas itu membentuk serupa gagang kaca mata. Silahkan bayangkan sendiri bagaimana bentuknya.

Melihat hal tersebut, saya dan teman saya si A dan si B hanya tertawa geli. Bukan berarti ikut senang karena musibah tersebut. Tetapi karena penampilan si C yang mengalami sedikit perubahan. Saya pun menyebut si C ingin membuat matanya menjadi mata Rinnegan. Tapi dengan jalan pintas tanpa perlu punya mata Sharingan. Eh sebelumnya pada tahu kan mata Rinnegan itu apa? Ya, matanya Sasuke yang sekarang di serial Boruto. Itulah mata Rinegan yang saya maksud.

Perihal matanya yang begitu, si C sebenarnya tidak ambil pusing. Akan tetapi, teman saya si A dan si B seakan kurang terima melihat nasib temannya yang begitu. Si A dan si B pun lantas menanyakan dispensasi yang didapat C ketika mengalami kecelakaan kerja seperti itu. Si C hanya menjawab matanya sudah diobati dengan obat seadanya. Dan memang tidak ada tunjangan bagi pekerja sepertinya ketika mengalami kecelakaan kerja semacam itu.

Si A dan si B pun lantas memanjang-manjangkan masalah tersebut. Yang ujung-ujungnya, berakhir kepada pertanyaan soal gaji yang diterima si C ketika bekerja di warung kopi itu. Si C pun menanggapi kalau gaji yang diterimanya memang jauh di bawah UMR.

Mendengar hal tersebut, A dan B pun kembali bertanya; “Kenapa C tidak mengajukan kenaikan upah atau gaji?” Dengan agak terpaksa karena sudah lelah bekerja semalaman, C pun menjawab kalau hal itu sudah dilakukanya berulang kali. Setiap momentum gajian, dirinya selalu mengajak kawan-kawan yang lain untuk mengajukan kenaikan gaji. Tapi hasilnya tetap nihil. Karena dianggap gaji yang diberikan sudah sesuai dengan standarisasi pekerja paruh waktu.

Tidak hanya sampai di situ, si C menambahkan kalau dirinya selalu komplain dengan beban kerja berlebih yang diterimanya. Menurut C, seharusnya memang upah yang ia terima bisa jauh lebih tinggi. Bukan mengada-ada, karena melihat beban kerja yang harus ditanggung olehnya. Terlebih jika pengunjung warkop tersebut sedang ramai-ramainya.

Tapi apalah daya, si C hanya bisa menuruti sistem yang berlaku. Karena ia bekerja memakai sistem kontrak. Di mana jika ia memilih keluar sebelum kontraknya habis, ia harus membayar denda. Denda yang harus dibayar sebesar Rp. 150.000 perbulan. Dengan kondisi yang semacam itu, bisa disebut kalau si C yang sehabis mengalami kecelakaan kerja, ibarat orang yang jatuh harus tertimpa tangga pula.

Hal inilah yang selanjutnya menjadi bahan utama obrolan yang digawangi teman saya Si A dan si B tadi. Si A dan si B menganggap kalau yang dialami si C, adalah bentuk ekploitasi oleh kapitalisme. Di mana posisi kapitalis di sini adalah pemilik warkop sendiri. Dan sistem yang berlaku adalah perangkat kapitalisme. Posisi C, selanjutnya dikategorikan sebagai buruh yang mengalami penghisapan. Yang disedot bukan hanya tenaganya saja, tapi juga darah dan tulang-tulangnya.

Si A dan si B menambahkan, kenapa C tidak mencoba melakukan mogok kerja. Hitung-hitung sebagai upaya untuk melumpuhkan proses produksi dari warkop tempatnya bekerja. Kembali C dengan muka keberatannya, menjawab pertanyyan yang lebih terkesan sebagai anjuran itu. C pun mengatakan, kalau sebenarnya hal itu sudah pernah dilakukan. Bahkan tidak tanggung-tanggung, setiap menjelang gajian, C mencoba mempengaruhi para karyawan yang ada. Tapi tetap saja hasilnya nihil.

Si A dan si B melanjutkan, bahwa kondisi yang terjadi adalah bentuk manipulasi kepada para pekerja. Dengan kondisi yang demikian, menurut mereka, memang jalan satu-satunya untuk melakukan pemberontakan dan merubah keadaan adalah dengan melakukan mogok kerja. Sambil menghitung-hitung dengan hitungan yang menurut saya buta, si A dan si B membayangkan bahwa hal itu sangat mungkin terjadi. Melihat tempat si C bekerja yang pekerjanya tidak sampai angka dua puluh.

Saya yang sedari tadi mengamati dan mendengarkan obrolan tersebut, hanya bisa bergumam dalam hati. Karena, walaupun saya tidak pernah bekerja di warkop, saya bisa menerka masalah yang terjadi tidak sesederhana yang dibayangkan teman saya si A dan si B itu. Bukan berarti pesimis. Tetapi memang kondisi di lapangan tidak sesederhana yang bisa dibayangkan oleh orang yang tidak mengalaminya.

Dari anjuran-anjuran tentang mogok kerja itu, saya pun menarik sebuah kesimpulan. Bahwa apa yang disampaikan oleh teman saya si A dan si B, bukanlah bentuk perlawanan yang nyata dari ekploitasi yang dialami oleh si C. Akan tetapi, anjuran yang semacam itu saya anggap hanya upaya perlawanan terhadap pengaturan eksploitasi yang dialami si C. Bukan terhadap ekpolitasinya itu sendiri.

Pasalnya, tempat si C bekerja sudah menentukan kontrak bagi para pekerjanya. Kontrak ini selanjutnya menjadi pedoman suci, yang secara tidak langsung harus ditaati oleh para pekerjanya. Yang jika pekerjanya nanti sewaktu-waktu mogok kerja, berarti bisa dianggap kalau mereka menyalahi kontrak di awal sebelum mereka bekerja.

Selain itu, seberontak apapun si C bersama karyawan yang lain, tetap saja mereka pada akhirnya tetap membutuhkan pekerjaan tersebut. Terlebih menurut si C, sangat tidak mungkin para pekerjanya ingin membayarkan denda yang sudah disepakati di awal. Karena ini bukan semata persoalan perut. Akan tetapi juga persoalan profesionalitas yang dibawa-bawa dan dipakai oleh pihak warkopnya sendiri.

Pada akhirnya, kita tidak bisa dengan mudah menyederhanakan ekploitasi yang dialami oleh para pekerja warkop. Dengan begitu kompleksnya peraturan yang ada, memebuat mereka terjebak dalam sirkulasi kapitalisme yang selalu bisa menekan para pekerja. 

Pertanyaan yang akan menjadi akhir dari tulisan ini, dan kemungkinan akan menohok dua teman saya tadi, “Bagaimana bisa eksploitasi tersebut dihapuskan atau dirubah secara prosedural dan non prosedural semacam mogok kerja, kalau eksploitasi itu sendiri tidak diekspresikan dalam hukum? Atau dengan kata lain tidak memiliki payung hukumnya sama sekali.”

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel