Sebelum Pemakaman dan Puisi Lainnya [Puisi]

Sebelum Pemakaman dan Puisi Lainnya [Puisi]



Penulis: Bani Kamhar

Perihal Keabadian


Abadi cintaku padamu, kekasih
Seabadi awan pada langit beserta luasnya
Seabadi pena pada kertas dengan kata-katanya
Seabadi lembah pada gunung bersama terjalnya
Seabadi kucur air pada batu yang sabar meneteskan kepiluannya

Abadi cintaku padamu, kekasih
Seabadi ibadahku sebagai seorang hamba

Yogyakarta, 2019



Sebelum Pemakaman

Telah ku saksikan kecup api pada lilin
Di gerbang matamu. Pertanda bahwa tak lama lagi
Jasadku akan segera ditanahkan

Sebelum terlambat, dengarkan baik-baik wasiatku ini;
Pertama, setiap akhir pekan kau harus
Mengunjungi rumahku setelah matahari keluar dari rahim bumi
Di sana seorang loper koran akan memberikan jatahku
Lalu kaislah huruf-huruf yang tercecer pada lembar seni dan budaya
Kedua, bila sempat, datanglah ke rumah surgaku setiap kamis sore
Taburkan huruf-huruf yang telah kau kumpulkan itu pada gundukan tanah
Yang kedua nisannya beralamat padaku

Dan api itu kini semakin birahi
Jangan lupa kedua wasiatku itu
Oh, iya, terakhir, sampaikan terimakasih kepada loper koran
Ia telah mengantarku pada hablur matamu
Sebelum puisi bersarang di sana

Yogyakarta, 2019

  
Archetypus

1/
Setelah gerbang agug bahasa
Di sepanjang ruas bahasa dalam tubuhmu tak lagi sanggup
Menampung huruf-huruf yang harus dilafalkan ini
Tanggung-jawab siapa jasad yang telah purna jadi puisi itu?

2/
“Seumpama kota, tubuhku adalah puisi
tempat gelandangan mengais rezeki
dari penyair tua itu” katamu
Tapi tubuhmu adalah firdaus, tempat tuhan
Menanamkan kata untuk penyair penyandang sunyi

3/
Apa yang musti dilakukan setelah maut berjarak selangkah di depan mata
Sedangkan kalimat pisah yang telah berbaris menolak diberangkatkan dari kepala?

Yogyakarta, 2019


Suatu Hari Mendekati Kematian

Seorang lelaki tahu apa yang musti ia lakukan
Ketika kenangan melebihi nyala usia
Ia akan merawat uban di rambutnya, sebagaimana
Ia merawat kata di tubuh kekasihnya
Agar mekar jalar puisi-puisinya, dan
Sanggup merekam sisa-sisa harapan dalam hidupnya

Seorang lelaki tahu apa yang musti ia lakukan
Tetapi mengapa perempuannya belum juga beranjak?
Padahal kedua nisan telah ditugaskan sebagai sandaran
untuknya pada hari pelepasan

Yogyakarta, 2019



Pulang

Sepulang dari rahim senyummu
Ada kesan yang ku selipkan
Diam-diam malam ini

;adalah pejam perjumpaan kita

Sepulang dari banar orokmu
Ada binar redup nyelinap
Pada labirin dadaku

;yang lemah akan kalah

Sepulang darimu
Aku semakin hapal rumus insomnia

Yogyakarta, 2019

 
Bukan penyair, bukan mahasiswa, bukan penikmat kopi, dan bukan yang lainnya. Karena penulis memang bukan siapa-siapa, cukup sekedar teman katanya. Biaaaahhhh!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel