Sebab Bangsa dan Puisi Lainnya [Puisi]


Sebab Bangsa dan Puisi Lainnya [Puisi]
Penulis: Bani Kamhar
Kepada Bangsa

Ada yang tak bisa dibaca oleh bahasa bangsaku
Mestinya aku tak pernah belajar ini dari dulu, bahwa
Pengangguran sering dibaca sebagai sampah
Dihambur-lepaskan hingga layu diseret angin peradaban

Ada yang tak bisa dieja oleh bahasa bangsaku
Bangsaku mengeja gelandangan satu-satu, lalu
Diasingkan dari kota ke kota
Dilarang makan di samping gedung-gedung megah

Ada yang salah dihafalkan dari kosa kata bangsaku
Tikus-tikus liar dibiarkan menghafal dosa-dosa
Dan melupakan berapa jumlah bulu burung garuda

Sekarang, aku hanya ingin membaca bahasa cinta
Bahwa ia harus dicari sampai ke tubir dunia
Aku hanya ingin mengeja cinta, cermat satu-satu
Mengafalkan segalanya dengan cinta

Aku hanya ingin cinta dari bangsaku

Yogyakarta-Ngawi, 2019-2020


Pada Hembusan Napas Akhirku

Pada hembusan napas akhirku nanti
Ku ingin kau tebar doa-doa paling cinta
Yang pernah ku ajarkan padamu

Jika berkenan, pada masa setelah napasku bersatu dengan doa-doa itu
Pada setiap sore menjelang bumi menyelimuti matahari
Selepas atau sebelum kau berangkat pakansi dengan kekasihmu
Ku ingin mendengan bunga-bunga jatuh ke atap kamar gelapku
Di bumi pertiwi ini

Bawalah serta kekasihmu itu
Agar ia belajar bagaimana seharusnya
Menjadi seorang kekasih seperti aku

;budak bahasa yang selalu merapikan huruf-huruf kecewa
ke tempat semestinya

Yogyakarta, 2019


Para Kekasih telah Tiada

Para kekasih telah tiada
Dibakar hangus runtutan peristiwa
Gejolak dendam dalam dada

Adakah puisi yanng dapat bertukar posisi dengan
Sebilah pisau untuk dapat membawaku ke hadapannya?

Para kekasih telah tiada
Di beranda rumah-rumah desa aku mengenangnya sebagai sawah
Yang selepas masa panen telah disulap jadi gedung-gedung megah

Komposisi peradaban baru diracik
Di antara kucuran airmata para kekasih yang telah tiada

Dan para kekasih itu ditemukan
Membawa sebilah puisi yang dihunuskan
Tepat di papan-papan reklame
Pembangunan masa depan

Yogyakarta, 2019

  
Malam Ini Aku Ingin Menjadi Nuh

Malam ini aku ingin menjadi nuh
Dilepas-pasrah di atas sebongkah tubuh
Seorang perempuan yang sudah sejak lama ku persiapkan
Dengan mantra kasih bersulam rindu dari kesunyianku

“sampaikan kepada kekasihku, nahkoda itu, sampai kapan
perjalanan ini usai?”

Sampai gemuruh gelombang pernapasan ini selesai diombakkan
Aku masih ingin tetap berlayar menjadi nahkoda yang nekat
Menyusuri samudera kenangan tak bertepi ini

Kekasih, malam ini aku ingin mencintaimu
Menuntaskan dendamku atas seribu perempuan
Yang melepas-pasrahkan hidupnya pada kebutuhan seluruh zaman

Yogyakarta, 2019


Sebab Bangsa

-sebab tragedi

Seekor pelukan lepas dari sangkar
Senampan anjing dihidangkan
Dan sebotol urin jatuh, pecah
Di persimpangan jalan

Malam macam apa ini, sayang?

Aku mendengar empat puluh tiga pemuda harapan
Diamankan dari kemerdekaan
Dituduh kencing sembarangan

Mendekatlah, sayang!
Mari kita ulangi sekali lagi
Ritual cinta yang belum selesai

Yogyakarta, 2019


Bukan penyair, bukan mahasiswa, bukan penikmat kopi, dan bukan yang lainnya. Karena penulis memang bukan siapa-siapa, cukup sekedar teman katanya. Biaaaahhhh!

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel