Sahabat Selamanya dan Sehimpun Puisi Lainnya [Puisi]


Sahabat Selamanya dan Sehimpun Puisi Lainnya [Puisi]
Sumber Foto: jadiberita.com

Rahasia Kesedihan

Kadangkala hari-hari membutuhkan suara
Untuk bernyanyi,
Atau sekedar bermain dengan nada
Namun saat senja tiba,
Yang mengharuskan mega-mega merona
Matahari mengeluh, melempar cahayanya,
Hilang..

Seringkali kesedihan menari,
Seroang teman yang selalu menghitung
Betapa tangisnya terbebani air mata
Dalam kehampaan arti rasa
Mencintainya dalam kesempurnaan
Di sana, tak terjangkau tatapan
Akulah sang malam
Yang dinginnya terbalas oleh kegelapan.

Saat dunia memulai ceirta
Bahagia pada akhirnya,
Namun, jejakku masih terjebak di antara kesedihan
Angka-angka telah menarikku
Dalam kekosongan waktu,
Memberiku kesempatan untuk pergi
Jauh meninggalkan senyuman,
Juga genggamanmu
Yang selalu saja hangat terasa
24 Maret 2014


Di Ujung Sandaran

Langit kelam, merintikkan gerimis.
Dan hari memulai kisahnya…

Pada suatu pagi terbiasa berembun
Dihiasi setetes kabut
Langkah kaki bertepuk jejak melintasi langit.
Yang menua seiring matahari terbit
Tawa tak lagi menutupi basahnya hujan,
Dan menangis pada pagi hari

Lalu siang membawa cahaya
Melintasi bunga-bunga juga sang  pelangi
Menghitung warna bersamanya,
Tapi lagi-lagi, matanya tak tergenggam
Olehku,
Tatkala terpotong puisinya.
Maaf biru,
Semua ini salahku

Di ujung sandaran aku sendiri
Menyanyi dan tetap sendiri
Kadangkala menatap suram wajah di tengah sana
Entah peduli atau tidak,
Tentang mataku yang selalu menyimpan
Kepedeihan dunia,
Tentang suaraku yang selalu menyentuh
Doa-doa untuknya…
24 Maret 2014


Mengenalmu sebagai Bintang

Jadwalku untuk menemani malam,
Tetap saja mata enggan menatap,
Karena tirainya yang hitam
Menutupi sebagian dunia.
Tetapi tidak untuk mimpi
Dan juga senyuman.
Tiba waktu berdetik suram.
Menulis bukan kepada kata-kata yang menghilang
Oleh sentuhan di sebuah angka
Andaikan senja selamanya tinggal
Bertemaram sendu dengan mega.
Lembut nyanyian angin di serumpun bambu,
Dekat langkah menjejak pagi terakhir
Dan akhirnya menemukan..

Indah sorot mata di terbit pagi,
Yang kau lemparkan mentari pada embun.
Mengenggam suara-suara sesaat sebelum pergi
Menemani rasa cinta dan terkadang sunyi.
Namun itulah kita…
Menyimpan lara di suatu tanya.
Apakah gelapmu mengetuk lagi?
Ataukah kenyataan menusuk pilihan?
Tidak perlu khawatir.
Aku takkan kembali menemani pagimu
Terima kasih, karena aku bisa
Mengenalmu sebagai bintang


Sahabat Selamanya

Bagaimana aku menulis sebuah pertanyaan?
Jika pemberhentian tentang masa akan menjadi selamanya…
Langit bahkan tahu di mana
Dan mengingat kapan senyum itu terbenam
Bersama dengan genggaman kata per-kata.
Yang kita ciptakan ketika masalah menyela,
Sebuah tangisan

Berjuta terima kasih untuk sahabat selamanya.
Yang telah menghadirkan tawa dalam dunia
Yang telah menyajikan kisah beruntai cinta
Dan memintalnya ketika merasa.
Seakan kita adalah matahari terbit
Di kala kantuknya pagi,
Berselimut kabut-kabut embun
Lembut seperti tulisan kisah kita.

Beribu maaf untuk sahabat selamanya.
Tak ada yang pernah  tau arti “esok”
Jika saja kita bisa menghadapinya bersama
Melangkah tergenggam kehangatan
Dan tak akan pernah pergi mendahului,
Atau pun berhenti.

Jika saja ombak laut tak membuatmu bingung,
Dia tak akan menjadi misteri kita
Bagaimana bila kita akan selalu menatap dunia bersama?
Karena pertanyaan bercahaya itu hanyalah
Kata sederhana untuk sebuah puisi
Yang dipersembahkan kepada sahabat selamanya.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel