Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Seharusnya untuk Desa


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Seharusnya untuk Desa
Sumber Foto: zedge.net

Penulis : Mohamad Izhar*

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), telah 59 tahun berdiri di bumi pertiwi. Dengan membawa narasi perjuangan yang tetap konsisten dengan semangat mudanya, PMII mampu eksis sampai hari ini. Semangat perubahan, dan semangat dalam percepatan pembangunan, selanjutnya menjadi narasi perjuangan yang terus digalakkan dewasa ini.

Pada awal kelahirannya, PMII punya banyak peran strategis dalam membantu menyelesaikan masalah bangsa. Mulai dari masalah yang sifatnya nasional, sampai pada permasalahan yang lebih bersifat sektoral. Namun, pada kondisi dewasa ini, PMII seolah-olah masih terjebak pada romantisme gerakan. Hal ini terbukti ketika, banyak cara berfikir kader yang masih terjajah oleh perspektif mahasiswa di masa Orde Baru (orba).

Permasalahan ini, selanjutnya menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai di tubuh PMII sendiri. PMII, dalam hal ini perlu untuk merumuskan ulang arah gerakan, tanpa harus menghilangkan nilai-nilai yang menjadi pijakan bagi PMII.

Selama ini, PMII seakan masih terjebak di pusaran romantisme sejarah. Sehingga tindakan-tindakannya, meski berdasar pada teori-teori kritis, kerap salah sasaran. Gerakan PMII, kerap kali terdengar lantang, namun minim perubahan. Gagasan-gagasan segar yang ada, belum mampu melahirkan sebuah perubahan berarti untuk menuju Indonesia sejahtera.

Menyikapi hal tersebut, patut kiranya PMII melakukan sebuah terobosan baru. Agar kehadirannya mampu memberikan kontribusi yang benar-benar nyata, dalam simpul perubahan dan mengkristal menjadi kultur bersama.

Selain itu, patut juga jikalau PMII mencari ruang-ruang yang sifatnya strategis. Supaya bisa dijadikan sarana untuk melakukan gebrakan yang lebih baik. Jika hal itu tidak terjadi, bisa diperkirakan PMII akan menjadi organisasi mahasiswa yang kehilangan peran, meskipun besar secara keanggotaaan.

Menilik dari jenjang strukturnya, PMII memiliki model kaderisasi yang masif. Hingga saat ini, PMII tercatat sudah memiliki 420 lebih komisariat, dan 230 lebih cabang yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia.

Secara tidak langsung, kordinator cabang menjadi penanggung jawab di tingkataan provinsi, sekaligus rayon-rayon sebagai struktur terbawah yang berada di fakultas-fakultas di seluruh kampus yang ada. Kesemuanya itu, selanjutnya harus sinergis dan berada dalam naungan kordinasi Pengurus Besar (PB). Dengan demikian, bisa disimpulkan ada ribuan kader baru dalam setiap tahunnya yang direkrut oleh PMII.

Tidak hanya pada tataran mahasiswa, alumni-alumni PMII juga menyebar di berbagai Kabupaten/Kota dengan wadah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Isam Indonesia (IKA-PMII). Selain kuat di basis mahasiswanya, PMII nyatanya punya jaringan alumni yang tidak bisa dianggap remeh.

Merujuk pada data tersebut, kekayaan sosial yang besar itu, seharusnya menjadi modal utama dalam melakukan kerja-kerja gerakan. Namun, sering kali kita temui, basis PMII adalah di perkotaan, dan tidak jarang pula punya cara fikir yang kota sentris. Hal ini mungkin menjadi salah satu masalah yang belum serius dijadikan garapan oleh internal PMII itu sendiri. Dan menurut saya pribadi, sudah waktunya bagi PMII untuk terjun ke desa-desa terdekat.

Akan tetapi, pernahkah PMII dalam hal yang paling fundamental, ikut terlibat mengatasi masalah yang terjadi di desa, dan menjadi rujukan ketika ada masalah yang menimpa suatu desa? Saya rasa belum, dan bukan tidak mungkin hal itu terjadi suatu hari kelak.

Sedikit pandangan saya mengenai masalah ini, dan mungkin terkesan terlalu normatif. Namun, bukankah kita memang harus memulai dari hal yang kecil dan sederhana? Supaya nanti bisa menghasilkan hasil yang besar.

Cara sederhananya, PMII harus melakukan Pelatihan Kader Dasar (PKD) di desa-desa. Selanjutnya, PMII terus menjaga komunikasi dan menjadikan desa tersebut sebagai mitranya. Bisa dipastikan, setiap tahun PMII akan memiliki sebanyak 420 lebih desa yang menjadi mitra. Sesuai dengan jumlah komisariat yang ada, dan sebagai pemegang amanah menjalankan PKD.

Desa menyimpan berjuta lembar pengetahuan kebajikan hidup, dan harmoni semesta alam. Dalam hitungan angka statistik, sering disebutkan bahwa penghuni negeri ini paling besar presentasenya (lebih dari 60 persen), tinggal di wilayah desa. Sebagian lagi dan sisanya tinggal di kota.

Melibatkan diri dalam pembangunan desa adalah langkah kongkrit bagi PMII. Sebagaimana tujuan awal ketika PMII didirikan. “PMII diharapkan menjadi jembatan komunikasi sosial masyarakat dalam mengawal perubahan.” Selain itu, banyak peran yang bisa dilakukan oleh PMII sekarang ini. Terlebih, jika mengaca pada arus perubahan industri 4.0 yang dalam hal ini, desa juga terkena dampaknya. Terbukti dengan adanya proyek dari pemerintah tentang desa digital, dan bank data dari setiap desa yang ada di Indonesia.

Dewasa ini, kami merasa kader-kader PMII malah tenggelam dalam hirik pikuk pragmatisme, terbuai dengan hedonisme, bahkan tidak jarang kader  yang hanyut dalam kepentingan politik praktis. Sekilas, sebagaian kader mungkin memaklumi ketergodaan kader PMII (tepatnya oknum pengurus) terhadap politik praktis dan politik kepartaian. Akan tetapi, kenapa bukan politik kebangsaan dan politik pergerakan serta politik pengetahuan yang dikedepankan hari ini.

Ini bisa dikatakan sebagai akibat jika pengkaderan hanya dijadikan sebagai ajang kemewahan, dan pelengkap Laporan Pertanggungjawaban (LPJ ) tahunan.

Sejauh ini, pemimpin-pemipin yang muncul di PMII cenderung bersifat transaksional atau menggunakan pertimbangan untung-rugi pragmatis. Ke depannya, kami berharap PMII secara umum (PB, PC, PK, PR) dapat menciptakan pemimpin-pemimpin yang mumpuni dalam bidangnya masing- masing. Khususnya kepemimpinan yang menyentuh ranah pedesaan, sehingga benar-benar akan terlihat kontribusi nyata kader-kader PMII yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

Salam Pergerakan!!!

* PMII Komisariat Pondok Sahabat

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel