Perempuan, Sebaiknya Membaca Buku Madilog!

Perempuan, Sebaiknya Membaca Buku Madilog!
Sumber Foto: pmiigusdur.com
Buku Madilog merupakan master piece dari Tan Malaka. Buku ini ditulis dengan kondisi serba terbatas. Hanya mengandalkan ingatannya, Tan Malaka menulis buku setebal 462 halaman ini dengan durasi waktu 259 hari secara non stop. Dengan kondisi yang demikian, tidak lantas mengurangi kualitas serta bobot dari buku tersebut.

Pada suatu hari, saya pernah ditanya oleh seorang teman perempuan. Dia menanyakan perihal buku Madilog. Teman saya ini, sebenarnya berniat membaca buku tersebut. Entah karena alasan apa, dirinya memilih bertanya dulu kepada saya.

Ketika ditanya apakah buku itu rekomended dibaca olehnnya, saya pun menjawab tidak. Saya pun menyarankan agar teman saya itu menunda keinginannya. Karena, sependek pengetahuan dan pergaulan saya, buku Madilog adalah buku yang terbilang berat.

Biasanya, sebelum membaca Madilog, para pembaca harus membaca terlebih dahulu karya Tan Malaka yang lain. Selain karena buku Madilog (bisa disebut) puncak pengetahuan Tan Malaka, buku tersebut (sebenarnya) juga ditujukan kepada orang-orang yang berniat memahami apa artinya sebuah perjuangan.

Setidaknya, begitulah pikiran naif saya waktu itu. Hal tersebut juga dikarenakan teman saya tadi. Yang niat awalnya sekedar ingin membaca buku untuk mengisi waktu luangnya. Keputusan saya yang menyarankan agar jangan dulu membaca buku Madilog, sejujurnya, hari ini adalah keputusan yang saya sesali.

Pasalnya, saya sudah menghilangkan satu potensi dari seorang perempuan, yang nantinya bakal bisa memperjuangkan kesetaraan. Loh? Kesannya ngawur bukan? Tapi, sebagai penulis, saya akan bertanggung jawab dengan apa yang saya utarakan. Lengkapnya begini…

Sejujurnya, saya waktu itu juga belum membaca buku tersebut. Namun, belajar dari pengalaman teman-teman saya yang pernah membaca buku tersebut, kebanyakan hanya berakhir dengan kebuntuan. Tentu saya pun tidak ingin kalau waktu luangnya teman saya tadi berakhir dengan kebuntuan—cukup hubungan asmaranya saja.

Hal itu menjadi hal yang wajar. Karena. Madilog sendiri adalah buku yang sangat kental mengadopsi serta mengadaptasikan paham Marxisme. Menjadi hal yang (terbilang) amat sulit, jika ingin membaca Madilog, namun sama sekali buta tentang Marxisme. Akan tetapi, bukankah hidup ini memang harus dilengkapi dengan kesulitan-kesulitan?

Buku yang selesai ditulis, kurang lebih dua tahun sebelum kemerdekaan ini, sebenarnya ditujukan pada pejuang revolusi kemerdekaan. Tujuannya, agar suatu bangsa—dalam hal ini bangsa Indonesia waktu itu—bisa keluar dari kungkungan logika gaib. Kelebihan buku yang ditulis Tan Malaka ini, terletak pada tesisnya yang menolak percaya pada keabadian kebesaran Jepang.

Kejelian dan kejituan Tan Malaka yang tertuang dalam Madilog, setara dengan ramalan Syahrir tentang Jepang. Materialisme-dialektika yang menjadi fondasi buku tersebut, punya andil besar menganalisis kondisi Indonesia di tengah perang dunia kedua yang sedang berlangsung. Logika mistika yang begitu gencar dilawan Tan Malaka dalam bukunya ini, nyatanya adalah sebuah penyakit yang sampai hari ini belum hilang.

Lain dulu, lain pula yang sekarang. Jika pada waktu itu buku Madilog mewarnai jalannya revolusi, hari ini, hal tersebut tidak berlaku lagi. Akan tetapi, ada sebuah pelajaran yang bisa kita ambil dari master piecenya Tan Malaka ini. Kira-kira ada yang tahu? Secara sederhananya begini…

Madilog—yang terdiri atas 7 bab, diawali dengan uraian tentang logika mistika yang sudah saya singgung sebelumnya. Logika mistika, sampai hari ini, masih menjangkiti bangsa kita. Disadari atau tidak, logika mistika ini selalu menuntut pelampiasan. Yang mau diakui atau tidak, perempuan lah yang sering kali menjadi korban dari pelampiasan logika mistika tersebut.

Kondisi dewasa ini, adalah kemandegan bagi kita sebagai sebuah bangsa. Pasalnya, sudah jauh-jauh hari Tan Malaka menggemborkan semangat untuk memberantas logika mistika ini.

Kalau saja, Tan Malaka bangkit dari kuburnya, hari ini, tentu beliau akan sangat kecewa. Lantaran, musuh yang coba dibasminya, hari ini masih menjangkiti bangsa yang dicintainya. Yang lagi-lagi perempuan adalah korban dari musuh Tan Malaka tersebut.

Filsafat—cara berpikir yang sudah lebih maju dari logika mistika—menjadi isi dari bab 2 buku ini. Walaupun secara teori orang Indonesia sudah banyak memahami filsafat, akan tetapi, dalam praktiknya justru tetap saja sama dengan logika mistika.

Simpelnya begini: Hari ini, mayoritas kita masih sering melabeli kodratnya perempuan. Seakan-akan, kodrat tersebut turun dari langit dan sudah menjadi hal yang paten, tanpa pernah bisa kita dialogkan. Padahal, yang kita anggap kodrat (perempuan) tadi, sebenarnya tidak terlepas dari yang namanya konstruk dan stereotip. Dan itu semua adalah bikinan manusia.

Contohnya ketika perempuan harus terlihat kalem, agar dianggap sesuai norma sopan santun. Pekerjaan perempuan hanya sumur, kasur dan dapur. Jika ada perempuan yang ingin berkarir, setidaknya jangan sampai lupa dengan urusan mengurus serta mendidik anak. Dan hal-hal lainnya, yang sifatnya tidak jauh-jauh hanya mengeksploitasi perempuan sedemikian rupa.

Madilog, juga sudah memberikan contoh, bahwa idealitas akan selalu terbentur dengan yang namanya dialektika (realitas). Perempuan ideal, bagi kita kebanyakan adalah perempuan yang mengekor pada lawan jenisnya. Jika ada perempun yang lebih mendominasi lawan jenisnya, maka perempuan tersebut dibilang tidak berbaktilah, tidak paham aturanlah, dan masih banyak lagi.

Melihat kondisi tersebut, otoritas tubuh dan pikiran kebanyakan perempuan (Indonesia), secara tidak langsung masih terkekang dengan logika-logika yang sifatnya sangat patriarkis. Bahkan, untuk sekedar menyuarakan aspirasinya, selalu dihantui dengan persoalan etika yang tidak jelas rimbanya.

Sesuai dengan kerangka pikiran yang semacam itu, Madilog adalah jawaban untuk membalikkan kecacatan logika kita yang sudah berlangsung sekian lama. Madilog, bisa kita anggap sebagai bantuan untuk memahami sebuah dunia yang di dalamnya kita hidup. Dunia di mana seharusnya kesetaraan menjadi prinsip yang terbangun antara laki-laki dan perempuan.

Manfaat Madilog, setidaknya akan terasa jika lebih banyak lagi perempuan yang membaca buku tersebut. Akan tetapi, bukan berarti laki-laki juga tidak harus membacanya. Kenapa secara pribadi saya lebih menganjurkan kepada perempuan. Karena, perempuan lah yang lebih sering menjadi korban dari logika mistika yang menjangkiti bangsa kita.

Dengan semakin banyaknya perempuan membaca Madilog, kemungkinan upaya-upaya untuk memecah mitos inferioritas perempuan, akan menjadi semakin mudah.
Sepanjang bab 7, Tan Malaka memperlihatkan bagaimana Madilog lebih hebat dalam memecahkan masalah-masalah pengetahuan manusia. Yang kalau kita jeli, tentu kita bisa mengambil inti sari dan semangatnya.

Secara tidak langsung, di bab penutup Madilog ini, Tan Malaka menunjukkan semangat perjuangan kesetaraan sebagai suatu bangsa. Dalam konteks relasi antara laki-laki dan perempuan, hal tersebut yang juga seharusnya sudah berlaku.

Di akhir bab, Tan Malaka memberikan tinjauan penting atas teori relativitas Einsten. Merunut penjelasan di akhir bab tersebut, posisi perempuan kita setidaknya juga bisa menjadi relatif.

Dengan kata lain, tidak selamanya perempuan akan terus mengekor. Dan ada kalanya perempuan lah menjadi garda depan dari sebuah perjuangan. Contohnya bisa saja, kalau suatu hari nanti, perempuan lah yang akan mendominasi dan (lebih banyak) menjadi orang penting di negara ini.

Semangat dalam memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, setidaknya tidak perlu berakhir sama dengan nasib buku Madilog. Jika buku Madilog dianggap buku yang sulit untuk dipahami hari ini, dan terkesan menjadi sebuah utopia, maka nasib perjuangan kesetaraan kita tidak mesti harus sama dengan itu.

Setidaknya, kita bisa mengambil semangat yang tertuang dalam madilog, dan menyesuaikan dengan kondisi kita hari ini. Dan satu hal terakhir, mari segeralah baca buku Madilog!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel