Narasi Banjir yang Ujungnya Menyalahkan Cina


Narasi Banjir yang Ujungnya Menyalahkan Cina
Sumber Foto: mas-pir.blogspot.com

Dalam kondisi banjir yang melanda beberapa daerah di Indonesia sekarang ini, kelas menengah dan kelas atas akan pulih kembali setelah beberapa saat. Yang terdampak dan dirugikan dari datangnya banjir ini, justru lebih kepada mereka-mereka yang renta dan miskin. Jangankan untuk menyelamatkan aset berharganya, untuk menyelamatkan nyawa saja sudah begitu susahnya. Kasus banjir ini, cerobohnya masih dianggap sebagai isu elit!

Selanjutnya, isu lingkungan mulai digembor-gemborkan kembali. Dan kembali dituduh sebagai kepentingan elit kita hari ini. Yang seharusnya kita renungkan dan pertanyakan, “bagaimana nasib mereka yang miskin, butuh makanan, tempat tinggal dan upaya menjaga kesehatannya?” Apakah kita masih sanggup membuang muka ketika saudara kita terlantar dan kelaparan, akibat banjir yang sebenarnya disebabkan banyak pihak ini?

Pertanyaan ini, seharusnya bisa segera untuk kita jawab. Bukan karena ini masuk dalam bagian yang seharusnya diatasi oleh pemerintah, akan tetapi karena seharusnya masalah ini sudah menjadi prioritas kita bersama.

Tepat pada tanggal 25 Februari 2020 kemaren, terunggah video yang berisi rombongan warga melabrak AEON Mall. Video itu diunggah oleh akun twitter dengan username @LhyaLihe. Dalam postingan video itu, terdapat keterangan bahwa rombongan warga tersebut protes karena rumahnya kebanjiran. Para warga menyalahkan perumahan JGC, dan demo sebenarnya ditujukan pada manajemen perumahan tersebut.

Warga yang ingin bertemu manajemen tapi tidak kesampaian, lantas merusak mall AEON. Warga yang terlibat pun merusak fasilitas yang ada di mall dan menyerang satpam di sana. Hal yang paling lucunya, para warga ini meneriakkan Cina dan menyalahkan Cina sebagai dalang di balik banjir ini.

Kejadian ini, sebenarnya menarik jika kita cermati lebih lanjut. Penyebab banjir yang menimpa rumah warga ini, awalnya bermula dari dibukanya pintu air di perumahan JGC. Sehingga, air yang seharusnya ditampung di perumahan JGC, malah menggenangi rumah warga. Anehnya, warga malah melampiaskan kemarahan pada mall AEON. Hal ini terjadi kemungkinan lantaran posisi mall yang berdekatan dengan perumahan JGC tersebut.

Selanjutnya, tambah menarik jika kita membaca komen-komen yang ada pada tweet-nya @LhyaLihe tersebut. Akun dengan username @Anarkocheng mengatakan kalau penyebab kemarahan warga bukanlah Cina. Akan tetapi karena ini murni konflik kelas. Ya, konflik kelas antara mereka yang di bawah dengan para elit yang berada di perumahan JGC.

Hal ini pun langsung ditanggapi @LhyaLihe, dan menanyakan kembali apa yang diteriakkan warga dalam video tersebut? Dalam kondisi demikian, sebenarnya terjadi yang namanya kesemrawutan untuk menentukan dalang utama penyebab konflik. Hal ini karena mall AEON sendiri bukanlah milik Cina, akan tetapi milik Jepang. Selain itu, masalah yang menimpa warga tersebut, dikait-kaitkan dengan ketidakseriusan pemerintah setempat menangani masalah banjir.

Sebenarnya masalah ini menjadi semakin pelik. Lantaran penyebab banjir pun tidak tunggal. Selain itu, masalah banjir ini juga kembali menyeret isu ras yang akhirnya menimbulkan konflik sosial. Padahal, masalah ini juga disebabkan oleh para pengembang, yang sebelumnya tidak memperhitungkan dampak di kemudian harii.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, logika proyek pastilah soal efisiensi. Dengan mengandalkan modal sedikit mungkin, keuntungan harus bisa dimaksimalkan. Parahnya, hitung-hitungan seperti ini adalah logika judi. Ibarat kocok-kocok berhadiah, pengembang hanya bertaruh proyek yang mereka bangun bisa bertahan selama mungkin.

Di taraf ini, orang-orang elit yang menempati perumahan JGC juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Karena mereka hanya bagian kecil penyokong lingkaran kapitalisme yang ada. Justru yang harus kita salahkan adalah, cara berpikir kolektif kita yang masih sporadis. Langsung menjustifikasi tanpa ingin mencari tahu lebih lanjut.

Anehnya lagi, dalam komen-komenan di unggahan tweet @LhyaLihe tadi, terdapat salah satu komen yang merasa bahwa cara pandangnya yang paling benar. Dengan menyebutkan warga yang ada dalam video tersebut kurang terdidik, beliau menganggap bahwa amukan warga menjadi hal yang wajar. Karena  menjadi hal yang niscaya bagi orang-orang yang kurang terdidik, untuk menyederhanakan konsep musuh, ketimbang berlarut-larut mencari tahu lebih dalam.

Rumitnya masalah ini, akhirnya menambah kesan buruk kita kepada Cina. Yang selanjutnya menyeragamkan cara pandang  kita dalam melihat Cina. Padahal, tidak semuanya dari Cina bisa kita hakimi sebagai hal yang buruk. Dan alangkah pandirnya kita jika langsung menyalahkan Cina.

Kiranya, untuk mengurai masalah banjir ini, tidak bisa langsung menembak salah satu sumber masalah. Memang perlu diadakan audiensi dari berbagai pihak. Agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Bukan hanya agar konflik ini tidak menjadi warisan di kemudian hari, akan tetapi karena konflik semacam ini hanya membuang-buang tenaga. Tentu para warga juga tidak menginkan hal ini terjadi, dan tidak perlu lagi ada kiranya penghakiman kepada siapa pun. Karena tidak hanya satu pihak yang dirugikan dalam hal ini.

Baik warga yang terkana banjir, Cina yang disalahkan, dan para pengamat yang pintar nan luar biasa, saya sarankan saling bahu-membahu menyelesaikan masalah ini. Tidak perlu saling lempar, tentang siapa yang paling bertanggung jawab. Karena, mari kita akui dan sadari bersama, bahwa kita hari ini memang sama-sama memperkosa alam dan lingkungan. Tidak hanya itu, kita juga harus mengakui bahwa kita hanya mengambil keuntungan darinya, tanpa pernah perduli atas nasibnya di kemudian hari.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel