Muslimah yang Selalu Diperdebatkan*

Muslimah yang Selalu Diperdebatkan*
Sumber Foto: mubaadalahnews.com
Penulis: Suhairi Ahmad

Menjadi seorang perempuan bukan perkara mudah. Ia selalu ditafsirkan, dikontrol bak wayang yang seolah tak punya kuasa atas dirinya sendiri. Ia selalu dikendalikan oleh lingkungan, masyarakat, dan bahkan oleh netizen untuk laku sedemikian rupa, yang dianggap bukan bagian dari perempuan. Bahkan, hal miris tersebut sering kali dilakukan oleh sesama perempuan.

Perempuan sering kali tidak mendapatkan tempat, untuk bicara berdasarkan pendapat dan sesuai pengalamanya sendiri sebagai seorang perempuan. Oleh karena itu, pendidikan gender di masyarakat kita tidak cukup hanya untuk perempuan, melainkan juga melibatkan laki-laki, dalam proses kesadaran untuk mencapai hak yang setara.

Beberapa hari lalu, Ibu Sinta Nuriyah, istri alm. Gus Dur menyatakan, bahwa jilbab bukan kewajiban seorang perempuan muslim. Menurutnya, tafsir yang menyatakan soal hijab atau jilbab, sering kali disalahartikan dan bahkan disalahgunakan untuk mendiskriminasikan perempuan. Perempuan sering kali dianggap tidak berharga hanya karena persoalan kain, yang sebenarnya di kalangan ulama muslim adalah sebuah khilafiyah, atau banyak pendapat yang berbeda.

Di Indonesia, hijab seringkali disamaartikan dengan jilbab. Hal ini yang juga dibahas oleh Ibu Sinta dalam talkshow-nya bersama Deddy Corbuzier. Baginya, dua kata tersebut memiliki dua arti yang berbeda. Hijab yang berasal dari bahasa arab yang berarti “penghalang”, “pembatas”, atau “penyekat”. Dan yang bisa mewakilkan arti kata tersebut tentu bukan selembar kain, melainkan benda-benda yang keras: kayu atau dinding. Oleh karena itu, tidak tepat bila hijab digunakan sebagai arti dari penutup tubuh.

Sedangkan jilbab adalah berasal dari kata “jalab” yang berarti “sesuatu yang menutupi sesuatu, atas sesuatu yang lain. Dan dalam kasus ini adalah kain yang menutup sebagian kepala. Oleh karena itu, jilbab merupakan sebutan untuk penutup kepala muslimah dengan segala variannya. sesuai kebudayaan setempat.

Keributan—alih-alih perdebatan—sudah berlangsung lama. M. Quraisy Shihab yang menulis seraca rinci pendapat para ulama terkait jilbab dalam bukunya yang berjudul Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendikiawan Kontemporer, tidak mampu untuk meredam keributan tersebut. Walaupun begitu, buku tersebut merupakan sumber penting bagi perempuan atau laki-laki untuk mengetahui persoalan jilbab dari aspek sebab musabab turunya ayat maupun hadist.

Buku tersebut mengemukan pendapat hampir seluruh pendapat ulama tentang jilbab dan aurat perempuan. Mulai yang konservatif yang mengharuskan perempuan untuk menutup seluruh badannya kecuali mata dan telapak tangan, hingga ulama yang memperbolehkan perempuan menutup auratnya sesuai konteks kepantasan suatu wilayah. Mulai yang ketat hingga yang cukup longgar. Pemaparan yang cukup panjang tersebut, menurut Quraisy Shihab, agar membuat umat Islam, khususnya, memiliki pandangan beragam dan tidak sempit dalam menjalankan anjuran agamanya.

Selain itu, KH. Husein Muhammad dalam Islam, Agama Ramah Perempuan memberikan penjelasan singkat terkait Jilbab. Dalam sejarah Islam, jilbab merupakan alat pembeda antara budak perempuan dan perempuan merdeka. Karena sistem perbudakan tak ada lagi, logika kausalitas tersebut dengan sendirinya runtuh, dan menggugurkan kewajiban perempuan merdeka untuk mengenakan jilbab. Walaupun begitu, bagi KH. Husein, tetap menggunakan jilbab bukan sesuatu yang terlarang.

Bila mengikuti pandangan yang moderat, penggunaan jilbab bisa mengikuti hukum kepantasan budaya di mana ia berada. Hal ini sejalan dengan kaidah fikih yang mengatakan bahwa “Adat kebiasaan dapat ditetapkan sebagai hukum”. Penggunaan jilbab bisa tergantung dengan lokalitas dan kepantasan di masing-masing tempat. Selain itu, saat ini tak ada perbudakan yang menjadi alasan utama jilbab diterapkan seperti di masa awal Islam.

Atas nama agama, pandangan patriarkis seringkali menjadi rujukan utama untuk menghakimi persoalan jilbab. Dan perempuan sebagai seseorang yang memakai penutup kepala tersebut. seolah diletakkan tak berdaya tanpa harus bisa memilih. Berjilbab atau tidak, tidak akan mengurangi harga diri seorang perempuan, selama hal itu adalah pilihan merdeka perempuan.

Quraisy Shihab di dalam buku yang sama memberikan anjuran yang cukup menenangkan. Muslimah berjilbab adalah bentuk kehati-hatian dirinya terhadap ajaran agama. Namun, hal itu bukan berarti yang paling benar mewakili agamanya. Dan bagi yang tidak memakai jilbab, bukan berarti bentuk kesalahan yang harus disudutkan.

Oleh karena itu, perempuan bebas memilih apa yang harus dilakukan atas tubuhnya sendiri. Selama ia tidak merugikan siapa pun dan berdasarkan tafsir mana yang ia percayai. Itu.

*Meminjam Judul buku Kalis Mardiasih Muslimah yang Diperdebatkan
 
Suhairi Ahmad, pegiat di forum Majelis Istiqomah Yogyakarta dan Komunitas Literasi MJS Project Masjid Jendral Sudirman.



Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel