Move On Itu tidak Perlu Caper yang Berlebihan

Move On Itu tidak Perlu Caper yang Berlebihan
Banyak cara untuk merayakan move on. Mulai dari nangis seharian di kamar, posting stori galau di berbagai platform media sosial, makan sepuasnya, mabuk sampai teler, dan sekian cara lainnya. Itu semua tergolong kategori yang bisa disebut mainstream, dan sudah biasa banget bagi para barisan ambyar. Akan tetapi, lain lagi halnya dengan cara Harley Quinn ketika merayakan move on.

Mantan kekasih Joker ini, merayakan move on dengan cara yang sama sekali anti mainstream. Biasanya ketika putus, kita akan terlihat sedih dan mewek sejadi-jadinya, hal itu malah yang paling ditentang bagi seorang Harley Quinn. Tokoh anti-hero satu ini, malah menertawakan putusnya hubungan antara Ia dan Joker. Tidak hanya itu, caranya merayakan move on terkesan membahayakan banyak orang, dan membuat geger satu kota!

Hal ini bisa kita simak jika menonton Film Birds of Prey. Film yang menandai serta mendeklarasikan kejombloan seorang Harley Quinn. Film ini, berlatar tempat di Gotham City. Kota yang penuh dengan aksi kejahatan dan kekerasan. Sekaligus kota di mana banyak kenangan Harley dan Joker terukir.

Saya akan menyorot lebih kepada perjuangan Harley, ketika merayakan move on. Pertama, Harley Quinn sebagaimana manusia dan perempuan lainnya, pasti merasa sakit ketika hubungannya kandas. Entah apa yang melatarbelakangi putusnya dengan Joker, tapi yang pasti, Harley digambarkan begitu nelangsa. Bagai tanaman yang sudah lama tidak disiram, keadaannya begitu sendu.

Mungkin yang membuatnya begitu, karena kehilangan sosok yang selama ini melindunginya. Tidak terhitung kiranya aksi kejahatan yang ia lakukan, baik itu ia lakukan bersama Joker, atau kejahatan tunggal yang dilakukan olehnya. Awalnya ia sempat merasa ragu, terutama dengan nasib nyawanya kelak. Selama ini, Harley merasa aman karena ada jaminan perlindungan yang pasti dari Joker. Setelah hubungannya kandas, hilang pula perlindungan tadi.

Dalam keadaan yang gamang itu, Harley masih tetap melanjutkan aktivitas minumnya, dan berkumpul bersama gerombolannya. Akan tetapi, ada satu saat di mana Harley benar-benar merasa dikecewakan oleh gerombolannya tadi. Sampai ia merasa, apakah dirinya tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Atau minimal menjadi sosok Harley yang utuh, tanpa harus terus berada dalam bayang-bayang si badut Gotham City.

Karena tidak ingin berada dibawah tekanan Joker terus-menerus, ide gilanya kembali muncul. Tidak tanggung-tanggung, ia pun langsung meledakkan pabrik cairan kimia. Geger lah satu kota, dan menjadi penanda bahwa Harley tidak lagi punya hubungan dengan Joker. Hal itu terbukti dari kalung pemberian Joker yang ia buang, setelah meledakkan pabrik kimia tadi.

Kabar putusnya Harley dan Joker—yang awalnya hanya dianggap lelucon bagi gerombolan Harley, dan dianggap sebagai hal yang biasa bagi orang di luar lingkaran itu, serta para musuh-musuhnya—akhirnya tersebar luas. Bukan malah menandakan kebebasannya, Harley malah mengundang bahaya untuk dirinya sendiri. Jauh dari kata bebas, Harley malah semakin terhimpit dan menjadi buronan dari para musuh di masa lalunya.

Anehnya, titik balik move on-nya Harley ini, bagi saya pribadi sangat didramatisir. Entah karena ingin menampilkan bahwa Harley bisa survive sendiri atau ada maksud lainnya, yang jelas, kesannya Harley ingin move on malah terlihat sangat cari perhatian (caper). Setelah berhasil meledakkan pabrik kimia tersebut, Harley nyatanya tidak hanya diincar oleh para penjahat, bahkan warga biasa yang pernah dirugikannya beserta kepolisian Gotham, ikut pula mengejar-ngejar Harley.

Kedua, tindakan Harley sepintas ingin menarik perhatian Joker lagi. Entah dengan modus apa, sosok Joker sama sekali tidak ditampilkan di film ini. Alih-alih tergambar dalam ingatannya Harley, sebenarnya sosok Joker cuma sekedar bayang-bayang blur. Hal ini ditampilkan ketika Harley mengingat kejadian menyemplungnya ia ke dalam tong besar berisi carian kimia. Sungguh potek hati kalau diingat lagi peristiwa itu, penonton juga tentunya akan merasakan hal yang sama.

Ketiga, pertemuan Harley dengan para tokoh perempuan lainnya. Kisah para pemeran perempuan dalam film ini, anehnya punya kemiripan semua. Sama-sama orang yang pernah tersakiti, mencoba move on, dan pastinya anti mainstream. Mungkin ide dasarnya film ini memang ditekankan pada yang anti mainstream itu. Bisa dicek satu-persatu, semua tokoh perempuannya diposisikan sebagai orang yang dirugikan, dan tiba-tiba bisa bangkit karena mulanya dari ketidaksengajaan.

Lantas, capernya di mana? Lha iya masak ada orang yang meledakkan pabrik dengan begitu saja? Hanya karena pernah ada kenangan di sana? Toh bukan malah menghapus kenangan, Harley seakan mencari perhatian kalau dia sudah tidak lagi dengan Joker, apalagi sengaja meninggalkan kalung pemberian dari Joker. Terlebih, cara meledakkannya dengan maling mobil truck yang sedang diparkir!

Kita hanya perlu belajar dari kisahnya Harley Quinn, bahwa move on itu tidak selalu sendu 
karena menanggung rindu. Tidak perlu selalu resah karena menyisakan banyak kisah. Dan tidak perlu gundah karena merasa tak punya arah.

Mau kamu masuk barisan ambyar atau tidak, yakinlah satu hal, bahwa move on itu adalah jalan terbaik yang membimbingmu nantinya. Tak akan ada nasihat yang paling mengena di hati, selain dari tekadmu itu sendiri. Jadi, mari kita cukupkan saja caper ketika sedang ingin move on. Baik yang move on karena pekerjaan, move on karena kandasnya hubungan, atau move on karena ditolak menjadi idaman. Sekian, mari kita tenangkan dulu hati dan pikiran, yang pasti tak perlu cari perhatian yang berlebihan. Uwuwuuw~

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel