Mengenang Kembali Pak Salim Kancil


Mengenang Kembali Pak Salim Kancil
Sumber Foto: jatam.org

Mungkin saja di antara kita, hampir lima tahun yang lalu, mendengar terbunuhnya Salim Kancil. Seorang aktivis lingkungan asal Lumajang, yang menolak penambangan pasir di kampungnya.

Saat itu, Salim dibunuh secara keji. Dalam kondisi terikat tampar, ia dibantai beramai-ramai. Disetrum, lehernya digergaji, dan kepalanya dihantam dengan berbagai macam benda keras, seperti cangkul dan batu.

Setelah tewas, jasadnya dibuang begitu saja. Di tepi jalan dekat areal perkebunan warga. Salim tewas secara mengenaskan, oleh sekelompok orang suruhan Kepala Desa yang pro tambang.

Mengetahui sekaligus mengingat kembali detil peristiwa pembantaian tersebut, membuat saya bergidik ngeri. Kok ya masih ada peristiwa barbar semacam itu ,di negeri yang konon orangnya ramah-ramah dan percaya Tuhan.

Saya sendiri pernah sangat marah terhadap seseorang, dan berniat membunuhnya. Namun tak pernah terbayang sedikitpun untuk membunuh secara sadis. Seperti yang dilakukan oleh para psikopat atau ilmuwan gila, yang biasa muncul di film bergenre slasher.

Membunuhnya pun urung saya lakukan. Saya lebih dulu takluk oleh bayangan-bayangan yang muncul bersliweran. Lagipula, saya bukan pendendam tangguh.

Bayangan sama dengan imajinasi, dan berimajinasi berarti berpikir. Dan ketiadaan imajinasi atau ketidakmampuan berpikir dalam diri manusia, atas setiap perbuatan yang dilakukannya, penyebab dari munculnya banalitas kejahatan.

Hal ini persis seperti yang di ungkapkan oleh Hannah Arendt, dalam tesisnya yang diterbitkan: Eichmann in Jerussalem, A Report on the Banality of Evil.

Fakta ini, ia temukan saat mengunjungi Jerussalem. Sebagai seorang jurnalis untuk meliput jalannya sidang terbuka Adolf Eichmann. Seorang perwira Nazi yang dibawa ke Israel, untuk diadili kejahatannya selama perang dunia kedua, terkait pembantaian massal kaum Yahudi di kamp-kamp konsentrasi.

Arendt, filsuf terkemuka asal Jerman ini, cukup kaget saat mengetahui sosok Eichmann yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin sosok yang bertanggung jawab atas hilangnya ribuan nyawa manusia ini, hanyalah manusia biasa pada umumnya.

Ia, Eichmann, dengan tenang, mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan jaksa dengan jawaban-jawaban normatif secara baik. Dengan raut muka datar dan tanpa ekspresi.

Sebelumnya, Arendt, dan mungkin mayoritas manusia, membayangkan sosok The Manslayer ini seorang yang berperawakan sangar, berwajah bengis, dan berpikiran kejam. Namun ternyata, dia tak seperti yang dibayangkan. Eichmann juga bukan orang gila, dan tak sedang mengidap penyakit apapun. Ia waras dan mampu berpikir logis. Ia juga bukan seorang yang anti-semit.

Satu-satunya kekurangan, menurut Arendt, adalah ketiadaan imajinasi yang membuat dia tak mampu untuk berpikir secara jauh, kritis, dan mendalam. Berpikir untuk menelaah kembali atas setiap perbuatan yang dilakukan. Dan karena ketiadaan imajinasi itu, Eichmann tak pernah merasa telah melakukan kejahatan kemanusiaan.

Kondisi di mana kejahatan dianggap wajar, dan tak lagi dianggap sebagai sebuah kejahatan, inilah yang disebut Arendt sebagai banalitas kejahatan.

Konklusi yang dikeluarkan Arendt, sungguh relevan untuk memahami kasus kekerasan yang banyak terjadi di Indonesia. Di samping Salim, ada Marsinah, Udin, Munir, dan banyak lagi yang luput terekspos atau malah sengaja dihilangkan.

Mereka, para pembunuh Salim, termasuk juga Marsinah, Udin, ataupun Munir, mungkin sama seperti Eichmann. Orang waras yang tak mampu bepikir secara jauh, kritis, dan mendalam. Akibatnya, dari situ, sedikitnya ada dua macam efek yang mucul dari ketiadaan berpikir atau berimajinasi itu sendiri.

Pertama, kepatuhan luar biasa yang menyebabkan manusia menjadi tidak kritis. Manusia menjadi tidak pernah mempertanyakan apa-apa yang akan dikerjakannya, atau merenungi apa-apa yang telah diperbuatnya.

Atas nama kedaulatan negara, rakyat berdaulat tak pernah lagi ada maknanya. Atas nama keutuhan nasional, ribuan serdadu dikrim ke daerah mana saja, yang dianggap membahayakan arus modal dan tafsir negara. Atas nama agama, mereka menggorok, memperkosa, dan membakar sesiapa saja yang berbeda.

Dan masih banyak kepatuhan tanpa sikap kritis lainnya yang didasarkan atas nama-atas nama lainnya, termasuk atas nama tugas, moral, tanggung jawab, dan tentu saja atas nama tuhan.

Kedua, menganggap bahwa yang bukan bagian dari diri dan kelompoknya, atau the other sebagai objek yang bisa dihancurkan dan, boleh diperlakukan apa saja.

Mereka tak pernah bisa membayangkan atau berpikir, bagaimana jika dirinya yang berada di posisi korban. Bagaimana dengan perasaan keluarga korban yang ditinggalkan. Dan bagaimana-bagaimana seterusnya.

Kita pun tentu pernah mendengar tragedi 65. Banyak orang menyebutnya sebagai horor kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah berdirinya Indonesia.

Lebih dari tiga juta nyawa dihilangkan secara paksa. Ribuan lainnya dibuang dan dijadikan budak di tanah jauh. Tanpa proses peradilan. Tanpa diberi kesempatan untuk bertanya atau mengetahui apa kesalahannya. Mereka, jutaan manusia tanpa nama, dijadikan tumbal demi tegaknya kekuasaan fasis yang dikepalai oleh Suharto. Dan warisannya hingga kini, masih bisa kita rasakan sampai sekarang.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel